Sepak Terjang Ismail Qaani, Pemimpin Baru Garda Revolusi Iran

Senin, 20 Januari 2020 13:37 Reporter : Hari Ariyanti
Sepak Terjang Ismail Qaani, Pemimpin Baru Garda Revolusi Iran ismail qaani. ©Fars News Agency

Merdeka.com - Beberapa jam setelah pembunuhan Panglima Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC), Jenderal Qassim Sulaimani oleh Amerika Serikat (AS), pemimpin tertinggi Iran menunjuk pengganti Sulaimani sebagai komandan Pasukan Quds Garda Revolusi.

Pilihan Ayatollah Ali Khamenei adalah Ismail Qaani, yang sebelumnya merupakan wakil Sulaimani selama lebih dari dua dekade. Penunjukan Qaani untuk memastikan transisi yang lancar dan cepat di saat meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington, menurut sejumlah analis.

Pembunuhan Sulaimani dalam serangan udara AS di Baghdad pada 3 Januari mendorong Iran dan AS ke jurang peperangan, namun ketakutan itu mereda saat Iran membalas serangan dengan menargetkan pangkalan pasukan AS di Irak pada 8 Januari yang tak menimbulkan korban jiwa.

Khamenei sejak saat itu kemudian menyerukan pengusiran pasukan AS dari wilayah tersebut.

Di bawah Sulaimani, Garda Revolusi membantu meningkatkan pengaruh Iran di wilayah Timur Tengah dengan membangun jaringan proksi yang luas.

Di Suriah, Pasukan Quds memainkan peran kunci dalam mendukung Presiden Basyar Al-Assad setelah negara tersebut terlibat perang pada 2011. Pasukan Quds juga mempersenjatai dan melatih milisi yang membantu mengalahkan ISIS di Irak dan Suriah.

Khamenei, mengumumkan penunjukan Qaani pada 3 Januari, mengatakan bahwa Qaani berada di antara para komandan yang paling menonjol selama perang Iran-Irak pada 1980-1988. Dia juga mengatakan Pasukan Quds di bawah tentara veteran akan mengikuti strategi identik yang sebelumnya dilaksanakan Sulaimani.

Pada upacara pemakaman Sulaimani beberapa hari setelahnya, Qaani berjanji untuk menempuh jalan pendahulunya dan mengatakan pembunuhan tersebut harus dibalas dengan sejumlah langkah yaitu mengusir pasukan AS dari wilayah tersebut.

Saeid Golkar, seorang profesor ilmu politik dari Universitas Tennesse di AS, mengatakan bagi Khamenei, penting menunjuk pimpinan Pasukan Quds baru yang setia dan berkomitmen padanya dan Garda Revolusi.

"Familiar dengan Pasukan Quds dan kemampuan mengelola pasukan dan proksi Iran juga penting," imbuhnya, seperti dikutip dari Aljazeera, Senin (20/1).

Qaani sesuai dengan persyaratan tersebut.

1 dari 3 halaman

Sahabat Sulaimani Sejak Perang

Lahir pada akhir 1950 di kota Mashhad di timur laut Iran, Qaani bergabung dengan Pasukan Garda Revolusi pada 1980, beberapa bulan sebelum pasukan Irak menginvasi Iran barat, memicu perang berdarah delapan tahun yang menewaskan jutaan orang.

Pada Maret 1982, di garda depan perang, Qaani berteman dengan Sulaimani, menurut Ali Alfoneh, pakar Garda Revolusi dan anggota senior Institut Negara-Negara Arab Teluk yang berbasis di AS.

Qaani menggambarkan persahabatannya dengan Sulaimani terjalin ketika perang.

"Kami berkawan, dan saat perang itulah yang menjadikan kami bersahabat," ujarnya dalam wawancara dengan kantor berita pemerintah, IRNA pada 2015.

"Mereka yang menjadi kawan saat masa sulit akan memiliki hubungan mendalam dan awet daripada mereka yang berteman hanya karena kedekatan."

Alfoneh mengatakan, saat perang itulah dia juga bertemu Khamenei, yang menjadi Presiden Republik Islam Iran saat itu. IRNA mempublikasikan sebuah foto Khamenei dan Qaani, dimana situs berita Iran Wire sebut foto tersebut diambil pada 1986.

Segera setelah perang berakhir, Qaani ditunjuk sebagai wakil kepala pasukan darat Garda Revolusi, dan menurut Alfoneh, berperan penting dalam operasi Garda Revolusi dalam memerangi kartel narkoba di Afghanistan dan mendukung Aliansi Utara, yang bertempur melawan Taliban pada 1990.

Meskipun tidak jelas kapan Qaani bergabung dengan Pasukan Quds, media Iran mengatakan dia ditunjuk sebagai wakil unit pada tahun 1997, tahun yang sama ketika Sulaimani ditunjuk sebagai komandannya. Tetapi menurut Behravesh, penunjukan itu datang bertahun-tahun kemudian, pada 2007.

2 dari 3 halaman

Dengan pembagian kerja yang jelas dan mempertahankan lingkup pengaruh yang berbeda secara geografis, Sulaimani dan Qaani bersama-sama memainkan peran strategis dalam memperluas pengaruh Iran di negara-negara tetangga.

"Sementara Sulaimani adalah ikon nasional dan pemimpin karismatik memobilisasi massa di belakang apa yang dia dan Republik Islam anggap sebagai perkara suci, Qaani terus-menerus memperhatikan kebutuhan organisasi dan administrasi Pasukan Quds dalam bayang-bayang," kata Alfoneh kepada Aljazeera.

"Sulaimani juga banyak menghabiskan waktunya di wilayah barat Iran, sementara Qaani menghabiskan lebih banyak waktu di timur Iran. Sebagai konsekuensinya, fokus profesional Qaani adalah Pakistan dan Syiah Afghanistan, tapi juga sekutu-sekutu lainnya di Asia Tengah," imbuhnya.

Dalam sejumlah pernyataan publik yang disampaikan Qaani, dia mengecam AS dan Israel, mengatakan dalam salah satu artikel tahun 2017 bahwa ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran akan menghancurkan Amerika.

"Kami telah menguburkan banyak (orang) seperti Trump dan tahu bagaimana berjuang melawan Amerika."

3 dari 3 halaman

Maysam Behravesh, analis politik Persis Media berbasis di Swedia mengatakan Qaani akan membawa Pasukan Quds kemajuan bagi Pasukan Quds.

"Kebijakan yang sama diperkirakan akan terus berlanjut, tetapi mungkin dengan kekuatan dan kebengisan yang lebih hebat karena tekanan AS terhadap Iran tampaknya melibatkan 'pemenggalan kepemimpinan'," jelasnya.

Selain itu, meskipun operasi Pasukan Quds lebih banyak terkait dengan negara tetangga langsung Iran di Timur Tengah dan Asia, Qaani kemungkinan akan memperluas kegiatannya di luar wilayah-wilayah itu, kata Behravesh.

"Qaani dilaporkan memiliki hubungan baik dengan kelompok-kelompok Muslim Afrika yang berpikiran sama, yang menyarankan Pasukan Quds di bawah komandonya mungkin berusaha untuk memiliki kehadiran yang lebih aktif di sana," katanya kepada Aljazeera.

Afshon Ostovar, asisten profesor urusan keamanan nasional di Sekolah Pascasarjana Angkatan Laut yang berbasis di AS, mengatakan tugas Pasukan Quds di Afghanistan mungkin menjadi lebih menonjol. Pasalnya Qaani berpengalaman saat bertugas di Afghanistan.

Tetapi ketidaksukaan Qaani terhadap publisitas tidak mungkin berubah dan karakter tersebut menentukan, kata Ostovar.

"Dia tidak ingin menjadi sorotan."

Behravesh sepakat dengan Ostovar. Menunjukkan bahwa selain kebocoran intelijen, kepopuleran Sulaimani mungkin telah berkontribusi pada pembunuhannya, Behravesh mengatakan Qaani diharapkan menjadi "komandan bayangan" nyata Iran.

"Pasukan Garda Revolusi akan melakukan yang terbaik untuk tidak digigit di tempat yang sama lagi." [pan]

Baca juga:
Donald Trump Cerita Detik-detik Jenderal Soleimani Tewas
Amerika Akui 11 Anggota Militernya Terluka Karena Serangan Rudal Iran
Pertama Kali Sejak 2012, Ayatollah Ali Khamenei Jadi Imam Salat Jumat di Iran
Pembunuhan Qassim Sulaimani Diprediksi Memperkuat Pengaruh Rusia di Irak dan Suriah
Masa Depan Pasukan Amerika di Irak Setelah Pembunuhan Qassim Sulaimani
Konflik Iran-Amerika Serikat Makin Memperjelas Kawan dan Lawan di Timur Tengah

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini