Seorang Muslim Dibunuh di Inggris, 8 Tahun Kemudian Definisi Islamofobia Jadi Polemik

Rabu, 7 April 2021 07:34 Reporter : Hari Ariyanti
Seorang Muslim Dibunuh di Inggris, 8 Tahun Kemudian Definisi Islamofobia Jadi Polemik Mohammed Saleem (kanan) bersama istrinya Said Begum. ©Courtesy of the Saleem family via Al Jazeera

Merdeka.com - Pada malam 29 April 2013, Mohammed Saleem, seorang kakek pensiunan, berjalan ke rumahnya setelah salat di masjid lokal di Small Heath, pinggiran kota Birmingham.

Di usianya yang ke-82 tahun, dia memakai tongkat untuk berjalan.

Tiba-tiba, Pavlo Lapshyn, seorang mahasiswa PhD berusia 25 tahun, menikam Saleem tiga kali di punggungnya dengan pisau berburu, membunuhnya.

Luka menghiasi sekujur tubuhnya.

Pada Juni dan Juli, Lapshyn, seorang supremasi kulit putih, dalam kata-katanya, ingin “meningkatkan konflik rasial”, menanam bom di luar tiga masjid di wilayah West Midlands yaitu Walsall, Wolverhampton, dan Tipton, menargetkan jam-jam sibuk – saat jemaah Muslim melaksanakan salat Jumat.

Dia kemudian ditangkap dan diputuskan bersalah atas semua dakwaan terhadapnya berdasarkan UU Bahan Peledak Tahun 1883 dan UU Terorisme Tahun 2006. Saat ini dia menjalani hukuman minimal 40 tahun penjara di penjara Inggris.

Pembunuhan keji Saleem, yang dilakukan Lapshyn hanya lima hari setelah tiba di Inggris menggunakan visa kerja, mengejutkan komunitas Muslim Inggris. Lebih dari 5.000 orang menghadiri pemakamannya.

Tetapi menurut putri Saleem, Maz Saleem, lebih banyak yang perlu dilakukan untuk mengakui Islamofobia sebagai fenomena berbahaya.

Dia sekarang menyerukan pemeirntah Inggris untuk secara resmi mengakui Islamofobia sebagai sebuah kejahatan.

“Kita perlu kembali membahas Islamofobia,” ujar Maz kepada Al Jazeera, dikutip Selasa (6/4).

“Islamofobia telah ada lebih lama daripada perang terhadap teror. Muslim diserang karena penampilan dan pakaian mereka.”

Melalui kampanyenya di media sosial, Maz mengajak orang-orang mengunggah testimoni berisi pengalaman mereka menghadapi kejahatan dan perlakuan Islamofobia.

“Mohammed Saleem bisa jadi salah satu dari kita. Itulah mengapa kami mengundang orang-orang berbagi pengalaman mereka di bawah tagar #IAmMohammedSaleem.”
Dia juga ingin Inggris mengadopsi definisi legal resmi Islamofobia, sebuah langkah yang dia harap bisa menghentikannya, “sekali dan untuk semua.”

“Kita perlu masyarakat mengakui beratnya rasisme sistemik yang banyak dari kita mengalaminya setiap hari,” kata Maz.

“Serangan Islamofobia tidak terjadi dalam ruang hampa. Orang-orang berani bertindak atas kebencian mereka dengan kebijakan anti-Muslim yang disetujui pemerintah. Jika kita ingin menghentikan ini, kita perlu menamainya.”

“Bagaimana kita bisa mengatasi kebangkitan Islamofobia tanpa ada definisinya?”

Kampanye ini akan berlangsung sepanjang April sampai peringatan ke-8 tahun kematian ayahnya.

2 dari 3 halaman

Pekerja keras

Saleem adalah ayah dari tujuh anak dan kakek dari 23 cucu.

Dia datang ke Inggris pada 1957 dari Pakistan untuk membantu membangun negara tersebut setelah Perang Dunia II.

“Dia mengambil tiga shift di toko kue untuk menghidup kami semua. Dia seorang laki-laki yang ramah, tampan, dan pekerja keras yang memberdayakan putri-putrinya untuk sadar politik dan bersyukur memiliki rumah di Inggris,” kata Maz.

Maz Saleem adalah anak bontot dan sangat dekat dengan ayahnya.

“Saya ingat ketika mendapat telepon yang mengabarkan kematiannya. Kekagetan itu masih saya rasakan. Itu tak bisa hilang dari saya.”

3 dari 3 halaman

Tidak dicap teroris

Lapshyn dihukum oleh hakim Pengadilan Tinggi, Justice Sweeney.

“Anda sangat jelas memiliki pandangan supremasi kulit putih sayap kanan yang ekstrem, dan Anda termotivasi melakukan serangan karena kebencian agama dan rasial dengan harapan Anda bisa menghasut konflik rasial dan menyebabkan Muslim meninggalkan wilayah di mana Anda tinggal,” jelas Sweneey dalam putusannya.

Maz mengatakan, penggambaran tidak akurat serangan tersebut semakin menyakitkan keluarga Saleem.

“Dia (Lapshyn) tidak dicap sebagai teroris dalam media arus utama. Mereka menyebutnya pengebom masjid, pembunuh, atau seorang penyerang sayap kanan. Tidak pernah (disebut) seorang teroris.”

Menurut laporan pemerintah dan pemantau kejahatan berbasis kebencian Tell MAMA UK, kebencian anti-Muslim meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Juru bicara Dewan Muslim Inggris, Yasmine Adam menyampaikan Islamofobia telah didefinisikan oleh kelompok parlementer lintas partai dan didukung oleh seluruh masyarakat sipil dan oleh sebagian besar partai politik - kecuali Partai Konservatif yang berkuasa - sebagai “berakar pada rasisme dan jenis rasisme yang menargetkan Muslim atau anggapan Muslim”.

“Ini adalah kelalaian yang mencolok dari partai yang memerintah kami, yang seharusnya memimpin perang melawan semua bentuk kefanatikan,” jelas Yasmine. [pan]

Baca juga:
Parlemen Prancis Setujui RUU Kontroversial Anti-Separatisme yang Dinilai Anti-Muslim
Tujuh Hal Kontroversial Soal UU Separatisme Prancis yang Dinilai Anti-Muslim
Demo di Prancis Tolak UU Anti-Radikalisme yang Dituding Anti-Muslim
Prancis Ancam Tutup 76 Masjid yang Dianggap Sebarkan Separatisme
Prancis Selidiki Dua Murid 12 Tahun Diduga Dukung Pembunuhan Guru
Polisi India Tangkap Pria Muslim karena Langgar "Undang-Undang Anti-Jihad Cinta"

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini