Hot Issue

Sejarah Panjang Fatwa Pembunuhan Salman Rushdie yang Hantui Dunia Barat

Rabu, 17 Agustus 2022 07:32 Reporter : Hari Ariyanti
Sejarah Panjang Fatwa Pembunuhan Salman Rushdie yang Hantui Dunia Barat Detik-detik penulis Salman Rushdie ditikam. ©TWITTER @HoratioGates3/via REUTERS

Merdeka.com - Pada 1989, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khomeini mengeluarkan fatwa pembunuhan untuk Salman Rushdie karena novelnya berjudul "Ayat-Ayat Setan" yang dinilai menistakan Islam dan Nabi Muhammad. Fatwa itu menghantui banyak novelis liberal dan para pemikir yang tulisannya juga dinilai menistakan Islam dan menghina Nabi Muhammad.

Penikaman yang dialami Rushdie di New York pekan lalu bukan insiden terpisah. Para novelis, akademisi, dan jurnalis, khususnya di Timur Tengah, yang berani mengkritik atau mempertanyakan ajaran dalam Islam menghadapi ancaman atau kecaman yang sama dari para tokoh agama. Buku-buku mereka dilarang dan dianggap penistaan oleh majelis ulama yang didanai negara.

Dalam beberapa tahun terakhir, milisi Islam dan jihadis menggunakan sosial media untuk menghasut Muslim di seluruh dunia untuk membunuh mereka yang dianggap menghina Islam dan Nabi Muhammad.

Fatwa biasanya dikeluarkan oleh ulama atau majelis ulama yang berada di negara tertentu. Fatwa ini bisa mencakup beragam isu, termasuk masalah individu.

Masa berlaku fatwa tidak memiliki batas waktu dan jarang dibatalkan. Tiga puluh tiga tahun setelah Khomeini menetapkan buku Rushdie sebagai penistaan dan menjanjikan hadiah bagi siapapun yang berhasil membunuhnya, penulis kelahiran India itu ditikam saat menjadi pembicara di New York pada Jumat (12/8).

Pelakunya adalah Hadi Matar (24), pemuda Syiah Amerika keturunan Lebanon. Di depan pengadilan pada Sabtu, dia mengaku tidak bersalah atas dakwaan upaya pembunuhan dan penyerangan yang dilakukannya terhadap Rushdie.

2 dari 2 halaman

Penikaman Naguib Mahfouz

Selain Salman Rushdie, fatwa yang sama juga pernah dijatuhkan untuk penulis dan peraih Nobel Sastra asal Mesir, Naguib Mahfouz. Fatwa dikeluarkan oleh Omar Abdel-Rahman, ulama Sunni militan dari kelompok Jamaah Islamiyah Mesir, dikutip dari Reuters, Selasa (16/8).

Abdel-Rehman mengeluarkan fatwa dari dalam penjara Amerika Serikat. Dia dipenjara karena terlibat dalam rencana pengeboman di New York. Dia mengatakan darah Naguib Mahfouz harus ditumpahkan karena novelnya "Children of the Alley" yang ditulis pada 1959 dianggap sebagai penistaan terhadap Islam. Akibat fatwa tersebut, Naguib Mahfouz ditikam pada 14 Oktober 1994 oleh seorang Muslim ekstremis.

Pelaku ditangkap karena berusaha membunuh Mahfouz dan mengaku saat diinterogasi polisi Mesir bahwa dia belum membaca buku-buku Mahfouz tapi dia bertindak karena fatwa tersebut.

Sebelumnya pada 8 Juni 1992, penulis liberal Mesir, Farag Fouda ditembak mati oleh dua anggota Jamaah Islamiyah Mesir. Penembakan terjadi setelah ulama Al-Azhar menganggapnya sebagai "musuh Islam" dan "murtad".

Beberapa intelektual sekuler menyatakan kecaman ulama Al Azhar sama dengan hukuman mati. Keputusan seperti itu oleh Al Azhar dianggap para jihadis sebagai izin untuk melakukan pembunuhan. [pan]

Baca juga:
Buntut Penikaman, Orang Semakin Tertarik dengan Buku "Ayat-Ayat Setan" Salman Rushdie
Ibu Tersangka Penikaman Salman Rushdie Sebut Anaknya Berubah Sejak dari Timur Tengah
Novel Ayat-Ayat Setan Laku Keras di Eropa Setelah Salman Rushdie Ditikam
Iran Akhirnya Buka Suara Soal Penikaman Salman Rushdie
Salman Rushdie Jalani Penyembuhan, Ventilator Dilepas dan Bisa Bicara

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini