Ribuan Anak Terpisah dari Orang Tua karena Penindasan China Terhadap Muslim Xinjiang

Sabtu, 27 Maret 2021 07:39 Reporter : Hari Ariyanti
Ribuan Anak Terpisah dari Orang Tua karena Penindasan China Terhadap Muslim Xinjiang Kamp Muslim Uighur di Xinjiang. ©REUTERS/Thomas Peter

Merdeka.com - Seharusnya itu menjadi perjalanan pulang rutin ke Xinjiang untuk istri dan dua anak Mamutjan Abdurehim. Itu terjadi lima tahun lalu. Sampai saat ini, Mamutjan belum bertemu lagi dengan istri dan kedua buah hatinya.

Pada Desember 2015, istri Mamutjan, Muherrem, membawa putri dan putra mereka dari Malaysia kembali ke wilayah di China barat itu untuk mengurus paspor baru. Dia mengatakan mereka masih terperangkap di sana, terjebak dalam tindakan keras pemerintah terhadap minoritas Muslim, dimana sekitar 2 juta orang ditahan secara sewenang-wenang di kamp-kamp besar di seluruh Xinjiang.

China membantah tuduhan pelanggaran HAM di wilayah tersebut, mengatakan kamp-kamp tersebut diperlukan untuk mencegah ekstremisme agama dan teroris.

Mamutjan menyampaik keluarganya, yang secara etnis merupakan Uighur, tidak bisa meninggalkan China, sementara dia akan berisiko ditangkap jika kembali ke China. Sekarang dia tinggal di Adelaide, Australia.

Pekan ini, tim CNN menelusuri putri Mamutjan yang berusia 10 tahun bernama Muhlise di rumah kakek dan neneknya dari pihak ayah di kota Kashgar, di Xinjiang Selatan.

Ketika ditanya apakah Muhlise punya pesan untuk ayahnya, yang belum pernah berbicara dengannya sejak 2017, Muhlise mulai menangis.

“Saya merindukannya,” ungkapnya, dikutip dari CNN, Jumat (26/3).

Ketika Mamutjan menonton video itu dari rumahnya di Adelaide, dia berusaha menahan tangis.

“Saya tidak percaya betapa tingginya (putriku) sekarang. Negara jenis apa yang melakukan ini ke orang-orang tak berdosa?”

Dalam sebuah laporan baru yang dirilis Kamis, Amnesty International memperkirakan ada ribuan keluarga Uighur di seluruh dunia yang mengalami seperti apa yang dialami Mamutjan, orang tua dan anak yang terpisah selama bertahun-tahun akibat tindakan keras pemerintah China di Xinjiang.

Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, minoritas Muslim di Xinjiang diduga menjadi target program penangkapan massal, indoktrinasi, dan bahkan sterilisasi perempuan.

Menurut laporan Amnesty International, beberapa orang tua yang melarikan diri dari wilayah itu pada awal-awal dimulainya tindakan keras pemerintah tidak bisa berkumpul kembali dengan anak-anak mereka. Yang lainnya, seperti Mamutjan, secara tidak sengaja mendapati diri mereka berada di sisi berlawanan, dan sekarang takut kembali ke Xinjiang.

Alkan Akad, seorang peneliti China di Amnesty International, mengatakan pemisahan orang tua dan anak tidak semuanya kebetulan. Dalam beberapa kasus, ini bisa menjadi taktik yang disengaja oleh pihak berwenang.

“Pemerintah China ingin mendapatkan pengaruh atas populasi Uighur yang tinggal di luar negeri, sehingga mereka dapat menghentikan mereka terlibat dalam aktivisme dan berbicara untuk keluarga dan kerabat mereka di Xinjiang,” jelas Akad, yang menulis laporan baru tersebut.

Dalam konferensi pers pada 15 Maret, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang "tidak berdasar dan sensasional."

Pemerintah China belum menanggapi pertanyaan terperinci CNN terkait keluarga yang disebutkan dalam artikel itu, atau tentang skala pemisahan keluarga antara Uighur di Xinjiang dan luar negeri.

Baca Selanjutnya: Kami tak pantas menerima penderitaan...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini