Di Tengah Kerusuhan di Prancis, Trump Ramalkan Nasib Paris

Donald Trump mengomentari kerusuhan di Prancis dan menyinggung migrasi, sambil mendesak Emmanuel Macron. Ia juga menyebut prediksinya soal Paris.

Septian Deny
Oleh Septian Deny- Reporter
Di Tengah Kerusuhan di Prancis, Trump Ramalkan Nasib Paris
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada 6 April 2026. (Dok. AP/Julia Demaree Nikhinson)

Donald Trump memprediksi Paris bakal menjadi kota Muslim dalam waktu dekat saat menanggapi gelombang kerusuhan dan penjarahan di Prancis. Ia menautkan situasi itu dengan arus migrasi ke negara tersebut.

Dikutip dari The New York Post, Rabu (21/10/2026), mantan Presiden Amerika Serikat itu mendesak Emmanuel Macron untuk menekan migrasi ke Prancis serta melakukan deportasi terhadap pelaku kejahatan, sejalan dengan kampanye deportasi massal yang ia dorong di AS.

Pernyataan itu disampaikan pada Senin lalu, ketika Trump berbicara kepada wartawan di Gedung Putih sebelum bertolak menuju reli kampanye di Kansas.

Trump mengatakan, "Saya sudah memberitahunya sejak lama, 'Anda membuat kesalahan besar di Prancis. Anda membiarkan semua orang dari seluruh dunia masuk. Seluruh dunia berbondong-bondong masuk,'".

Ia kembali menegaskan pandangannya mengenai Ibu Kota Prancis. "Seperti yang Anda tahu, Paris akan menjadi kota Muslim dalam waktu dekat, dan itu bukanlah kesepakatannya. Itu bukan kesepakatannya. Saya bilang ke Emmanuel, 'Anda harus menutup perbatasan Anda.'"

Trump menyebut telah bertahun-tahun mendesak Macron untuk menghentikan migrasi massal ke Prancis.

"Perbatasannya adalah sebuah masalah."

Komentar tersebut disampaikan saat seorang wartawan menanyakan tanggapannya atas sikap Macron yang mengaitkan ketegangan di Prancis dengan konflik AS dan Iran, yang memicu lonjakan harga bahan bakar global.

Trump menambahkan, "Jika Eropa tidak menutup perbatasannya dan mengeluarkan para kriminal, seperti orang-orang yang melakukan unjuk rasa itu, Eropa akan hancur. Eropa harus menutup perbatasannya, seperti yang sudah saya katakan kepada mereka selama 10 tahun,".

"Mereka harus menutup perbatasan dan mengusir orang-orang yang membenci negara mereka, karena jika tidak, mereka akan hancur. Mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk bertahan hidup."

Protes Massal dan Isu Migrasi di Prancis

Protes massal di Prancis berawal bulan lalu dari isu kondisi sekolah, lalu meluas menyuarakan biaya hidup dan inflasi. Pada Sabtu, sekitar 500,000 orang turun ke jalan di berbagai kota di seluruh Prancis.

Aksi disertai kelompok-kelompok kecil yang menjarah hingga 2,000 toko, menyerang aparat kepolisian, dan membakar sejumlah fasilitas di berbagai wilayah.

Rekaman video di lokasi menunjukkan para penjarah dan perusuh berasal dari beragam latar belakang ras dan etnis.

Secara demografis, sekitar 10 persen populasi Prancis beragama Islam, dengan persentase sedikit lebih tinggi di Paris. Mayoritas merupakan imigran atau keturunan dari Afrika dan Timur Tengah yang pernah berada di bawah kekuasaan Prancis.

Namun, Trump menegaskan bahwa Prancis perlu mengeluarkan imigran yang menurutnya membenci negara itu.

"Merek membenci bangunannya. Mereka membenci masyarakatnya. Mereka membenci seninya. Mereka harus menutup perbatasan dan mengeluarkan orang-orang jahat itu."

Secara terpisah, kandidat presiden berhaluan konservatif-populis, Marine Le Pen, memperhalus kritiknya terhadap umat Muslim. Melalui unggahan di platform X pada Kamis, sebelum lonjakan kekerasan terjadi, ia menulis, "Islam kompatibel dengan Republik; saya sudah mengatakannya sepuluh kali."

Pada 6 Oktober, Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa gelombang protes yang meningkat di Prancis berkaitan dengan "Islam yang ingin mengambil alih negara yang dulunya hebat."

Rekomendasi