Donald Trump meluapkan kekecewaannya karena tidak mendapatkan Nobel Perdamaian 2026 saat berpidato di Syracuse, New York, Jumat. Ia menyebut keputusan itu sebagai aib bagi Norwegia, negara tempat penghargaan tersebut diberikan.
Dikutip dari The Guardian, Minggu (11/10/2026), pidato itu semula menjadi bagian dari ajang kampanye bagi sejumlah kandidat Partai Republik. Namun, Trump banyak menggunakan panggung untuk menyerang komite Nobel karena tidak memberinya penghargaan perdamaian.
Trump menegaskan Amerika Serikat yang dipimpinnya selayaknya menerima penghargaan tersebut dan menyebut keputusan komite mencoreng nama Norwegia.
"Amerika Serikat, yang diwakili oleh saya sebagai presiden Anda, seharusnya menerima Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi tidak mendapatkannya. Ini merupakan noda yang tak terhapuskan bagi Norwegia dan orang-orang yang membuat keputusan memalukan serta mencoreng nama baik itu," kata Trump.
Ia kemudian menuding komite Nobel kehilangan kredibilitas karena memberikan penghargaan kepada pihak yang dianggapnya berpandangan politik tertentu.
"Hadiah Nobel Perdamaian telah kehilangan kredibilitasnya untuk selamanya di tangan segelintir ideolog radikal yang anti-demokrasi dan benar-benar merupakan musuh peradaban," ujar Trump.
"Kami tidak akan melupakan bahwa Norwegia tidak memberikan penghargaan ini kepada Anda," lanjutnya.
Dalam pidatonya, Trump juga merinci sejumlah konflik yang diklaimnya berhasil diselesaikan. Sejumlah konflik yang disebut bukan merupakan perang, sementara beberapa lainnya masih belum terselesaikan.
Trump kemudian mengklaim akan segera menyelesaikan atau memenangkan dua konflik lain, yakni perang dengan Iran dan perang Rusia-Ukraina.
"Saya akan segera menyelesaikan kedua perang itu," katanya.
Terkait Iran, Trump menyampaikan pernyataan keras bahwa persoalan tersebut akan segera berakhir, dengan atau tanpa kesepakatan yang diinginkan Amerika Serikat.
"Saya beri tahu Anda, perang dengan Iran akan segera berakhir, dengan satu atau lain cara: mereka memberikan segalanya kepada kita atau mereka tidak akan ada lagi," ujar Trump.
Ia juga mengklaim telah mencegah Iran memiliki senjata nuklir yang dapat menghancurkan Timur Tengah dan wilayah yang lebih luas, termasuk Eropa dan mungkin Amerika Serikat, serta menyebut telah menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada siapa pun dalam sejarah.
Namun, klaim Trump mengenai program nuklir Iran bertentangan dengan laporan badan-badan intelijen AS kepada Kongres pada 2025 yang menyebut Iran menghentikan upaya mengembangkan senjata nuklir pada 2003.
Advertisement
Sindiran untuk Penerima Nobel Perdamaian 2026
Menjelang akhir pidatonya, Trump kembali menyinggung Nobel Perdamaian. Ia mengaku heran penghargaan tersebut diberikan kepada seseorang yang menurutnya tidak dikenal luas.
"Terlepas dari semua ini dan berbagai pencapaian luar biasa tersebut, Hadiah Nobel hari ini diberikan kepada seorang liberal yang bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang tidak pernah didengar siapa pun," kata Trump.
Pernyataan itu merujuk pada Navi Pillay, mantan kepala hak asasi manusia PBB asal Afrika Selatan yang meraih Nobel Perdamaian 2026.
Pillay pernah memimpin komisi penyelidikan PBB yang menyimpulkan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza.