Cerita Penduduk Beirut: Saya Tak Percaya Saya Masih Hidup

Sejumlah penduduk Beirut mengisahkan detik-detik setelah ledakan dahsyat terjadi. Bahkan salah satu warga mengatakan masih tak percaya dirinya selamat dari kejadian tersebut karena berada tak jauh dari lokasi ledakan.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Cerita Penduduk Beirut: Saya Tak Percaya Saya Masih Hidup
Ledakan di Beirut. ©STR/AFP

Membingungkan, menghancurkan, malapetaka: ini adalah beberapa kata yang diucapkan orang-orang di Beirut dan sekitar untuk menggambarkan ledakan besar yang mengguncang ibu kota Lebanon tersebut, menewaskan puluhan orang dan ribuan lainnya terluka.

Ledakan di Pelabuhan Beirut pada Selasa sore terasa di seluruh kota dan sekitarnya, menyebabkan kerusakan meluas dan kepanikan. Pihak berwenang meluncurkan penyelidikan untuk mengetahui penyebab ledakan.

Beberapa penduduk Beirut yang selamat dari ledakan tersebut mengisahkan kepada Aljazeera detik-detik setelah ledakan terjadi.

"Saya berada beberapa meter dari fasilitas listrik di Lebanon, yang searah dengan pelabuhan," kata salah seorang penduduk Beirut, Nada Hamza, dilansir Aljazeera, Rabu (5/8).

"Saya keluar dari mobil saya, saya lari ke pintu masuk salah satu bangunan, kemudian saya menyadari bangunan itu hancur. Kemudian, saya mencoba menelepon orang tua saya, tapi saya tidak bisa menghubungi siapapun," tambahnya.

"Saya tidak percaya saya masih hidup."

Sangat Dahsyat

Salah seorang akademisi Universitas Amerika Beirut, Nasser Yassin sedang berada di luar Beirut saat ledakan terjadi tapi ledakan terasa dekat.

"Kami terguncang," ujarnya.

"Ini sangat dahsyat, saya belum pernah menyaksikan ini (sebelumnya), saya hidup melewati perang sipil di Lebanon, invasi Israerl, tapi ini adalah ledakan terbesar di Lebanon berdasarkan pengalaman dan sepengathuan saya," lanjutnya.

"Kami belum tahu apa yang terjadi, tapi ini akan menjadi hal besar di Beirut."

Dikira Gempa Bumi

Mantan Menteri Kesehatan Lebanon, Mohamed Khalifeh, yang bergegas ke rumah sakit untuk membantu korban luka mengatakan, dia berada di rumahnya saat ledakan terjadi.

"Saya berteriak ke keluarga saya agar hati-hati, ada gempa bumi - dan tiba-tiba, semuanya runtuh," ceritanya.

"Saya hampir melarikan diri, saya meninggalkan keluarga saya dan langsung ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa."

"Kami berada dalam situasi buruk secara ekonomi, (ada keterbatasan) persediaan medis, keterbatasan segalanya, kami berusaha mengatasi, tapi kehancuran tak bisa digambarkan."

Sebuah Bencana

Mantan Jenderal Angkatan Darat, Khaled Hamade, mengatakan dia berada sekitar 1 kilometer dari lokasi ledakan.

"Itu sebuah bencana," ujarnya.

"Ada pecahan kaca di seluruh jalanan, dan Anda menyaksikan banyak, banyak orang terluka di jalan-jalan."

"Segalanya (mengingatkan saya) pada hari terakhir perang sipil di Beirut."

Orang-Orang Tidur Tanpa Jendela

Jurnalis dan pendiri situs berita beirutreport.com, Habib Battah, menggambarkan insiden tersebut sebagai bencana alam karena menyebabkan kerusakan yang meluas sampai area yang jauh dari lokasi ledakan.

"Saya punya teman yang tinggal 10-15 menit jauhnya (dari lokasi) yang menunjukkan saya seluruh rumah mereka hancur. Saya bertanya-tanya bagaimana orang-orang tidur malam ini tanpa jendela," ujarnya.

"Negara ini tak siap dengan bencana," imbuhnya.

"Kami selalu hidup dalam ketakutan akan bencana besar. Bencana alam, gempa bumi, negara ini tak punya kesiapan darurat dan tanggap bencana."

Dengar Ledakan Saat Mancing

 Seorang pria yang dipenuhi darah mengatakan tak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi," ujarnya.

"Saya sedang memancing, saya dengar ada api, jadi saya bersiap pulang, kemudian saya dengar sesuatu meledak, dan kemudian, ini terjadi, saya terluka, hanya ini yang saya tahu."

Seorang pria korban luka lainnya, yang wajahnya dipenuhi darah mengatakan: "Mobil saya ada di bawah sana dan mobil itu terguling. Saya pikir luka-luka saya karena kaca. Pecahan kaca itu melukai saya."

Youssef, Ayah di Surga

Di rumah sakit Hotel-Dieu, yang juga hancur karena ledakan, puluhan orang yang mencoba masuk diminta pergi ke tempat lain.

"Ada bencana, bencana," kata seorang pria tak percaya.

Di dalam lobi yang ramai, satu keluarga mendapat kabar bahwa kerabat mereka sudah meninggal. Seorang perempuan membungkuk terisak, merangkul bayinya dan berkata, "Youssef, ayah ada di surga."

Seorang lelaki tua berlutut dan menampar tanah, berulang-ulang.

Kapal Hancur

 Beberapa orang yang berada dalam kapal Italia, Orient Queen yang bersandar dekat lokasi ledakan terluka dan dibawa ke rumah sakit.

"Kapal itu hancur total-kabin, lobby, semuanya," kata anggota kru kapal, Vincenco Orlandini (69).

"Saya mendengar ledakan, dan melayang ke seberang lobby, lalu mendarat di karpet, dan saya beruntung, saya rasa itu yang menyelamatkan saya."

Rekomendasi