Profesor Malaysia: Setiap Tahun Kabut Asap Datang Menyerang

Jumat, 13 September 2019 21:31 Reporter : Merdeka
Profesor Malaysia: Setiap Tahun Kabut Asap Datang Menyerang Kabut asap di Malaysia. ©REUTERS/Samsul Said

Merdeka.com - Setiap tahunnya, masalah kabut asap selalu melanda Sumatra, Kalimantan, hingga menyeberang ke Malaysia. Tak ayal, perdebatan soal isu lingkungan ini kerap mengisi hubungan antara Indonesia dengan Malaysia.

"(Masalah) akan dilupakan begitu hujan datang dan kabut menghilang," keluh Prof Dr Maketab Mohamed dari Universiti Teknologi Malaysia, seperti yang dikutip oleh The Star, Jumat (13/9).

Maketab menekankan, pemerintah Indonesia dan Malaysia perlu mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah tahunan ini.

"Kami juga menandatangani perjanjian ASEAN tentang polusi asap lintas batas bertahun-tahun lalu. Ada apa dengan (perjanjian) itu?" katanya.

Beberapa waktu lalu, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Indonesia Siti Nurbaya Bakar membantah tuduhan bahwa kabut asap yang melanda Malaysia berasal dari Indonesia. Merasa tidak terima, Menteri Energi, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Lingkungan, dan Perubahan Iklim Yeo Bee Yin menjawab bantahan tersebut dengan data-data pendukung.

"Biarkan data yang berbicara," tegasnya.

Presiden Green Earth Society P. Sivakumar mengatakan, pemerintah Indonesia dan Malaysia harus mengakhiri sikap saling menyalahkan. Menurutnya, kedua negara harus fokus pada akar permasalahan lingkungan ini, yaitu pembakaran hutan gambut selama musim kemarau.

"Kabut asap sangat memengaruhi kesehatan, sekolah, pariwisata, dan ekonomi negara kita," ujar Sivakumar.

Ia juga mendesak pemerintah Malaysia dan Indonesia untuk menetapkan hukuman lebih tegas kepada para perusak lingkungan.

Mendukung pendapat Sivakumar, Presiden Asosiasi Lingkungan Malaysia, Prof Dr Ahmad Ismail mengungkapkan, kabut asap yang melanda Malaysia tahun ini bukan masalah baru. Bahkan, menurutnya masalah mengenai kabut asap sudah dibahas secara mendalam oleh semua tingkatan.

"Pertanyaannya sekarang adalah seberapa jauh keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah," ujarnya.

Ismail menegaskan, perlu ada solusi dari kedua belah pihak. Baik itu solusi jangka panjang, maupun jangka pendek agar masalah lingkungan ini segera terselesaikan.

Dia menyarankan agar departemen pemerintah terkait mengadakan pertemuan untuk mempertimbangkan situasi lingkungan saat ini. Dengan demikian, pemerintah dapat segera memberi tanggapan.

Sementara itu, Juru Bicara Departemen Lingkungan menyatakan,"Prioritas utama kami adalah menghentikan sepenuhnya pembakaran terbuka."

Dikutip dari laman The Star, juru bicara yang tidak disebut namanya itu juga mengatakan bahwa Malaysia telah melakukan yang terbaik untuk memerangi aksi pembakaran lahan. Dia menambahkan, upaya tersebut juga melibatkan banyak pihak.

Bukan hanya Malaysia yang disulitkan dengan bencana kabut asap, tapi juga di Tanah Air. Seperti yang terjadi di Palembang misalnya. Kabut pekat membatasi jarak pandang hanya mencapai 300 meter. Akibatnya pendeknya jarak pandang, setidaknya lima penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang tertunda.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini