Polisi Hong Kong Tangkap 49 Demonstran

Selasa, 30 Juli 2019 21:55 Reporter : Merdeka
Polisi Hong Kong Tangkap 49 Demonstran Demonstran duduki Bandara Internasional Hong Kong. ©2019 AFP PHOTO/Anthony WALLACE

Merdeka.com - Polisi Hong Kong menangkap 49 orang dalam demonstrasi berujung bentrok kekerasan pada Minggu 28 Juli 2019.

Dalam sebuah pernyataan pada Senin 29 Juli 2019, Kepolisian Hong Kong mengatakan para tersangka ditangkap karena pelanggaran seperti; membentuk perkumpulan massa secara tidak sah dan kepemilikan senjata ofensif.

"Tindakan para demonstran radikal semakin menjadi kekerasan," kata Kepolisian Hong Kong dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Channel News Asia, Selasa (30/1).

"Tindakan mereka terus meningkat dari melepaskan pagar, melemparkan tiang-tiang logam dan batu bata menjadi aksi pembakaran dan penghancuran yang luas. Polisi sangat mengutuk perilaku seperti itu yang jelas-jelas menyimpang dari prinsip pengungkapan pendapat secara damai."

Otoritas medis mengatakan 16 orang terluka dalam demonstrasi hari Minggu.

Puluhan ribu pengunjuk rasa pro-demokrasi telah menentang pemerintah untuk mengadakan pawai tanpa izin di Hong Kong pada hari Minggu, sehari setelah polisi anti-huru hara menembakkan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan perkumpulan ilegal lainnya.

Para pejabat awalnya hanya memberikan izin untuk demonstrasi di sebuah taman di distrik komersial yang dikenal sebagai Central, tetapi kerumunan masa dengan cepat tumpah ke jalan-jalan di sekitarnya.

Beberapa menuju ke timur di Causeway Bay, sebuah distrik perbelanjaan populer, di mana mereka kemudian mendirikan barikade dan mengambil alih jalan utama.

Kelompok lain menuju ke barat menuju kantor penghubung pemerintahan pusat China di Hong Kong, yang dijaga oleh barisan polisi anti huru hara. Ketegangan meningkat ketika kebuntuan terjadi, memaksa polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk malam kedua.

Sekilas Demonstrasi Hong Kong

Rangkaian protes telah menimbulkan keresahan publik dan menuai ketegangan, antara para demonstran yang dikenal sebagai massa pro-demokrasi dengan pemerintah administratif Hong Kong serta Bejing.

Protes dipicu oleh penolakan massa terhadap RUU Ekstradisi Hong Kong, yang memungkinkan seorang pelanggar hukum untuk dikirim ke China guna menjalani proses peradilan. Massa menilai RUU itu sebagai bentuk pelunturan terhadap nilai-nilai independensi wilayah otonom eks-koloni Inggris tersebut.

Menyikapi protes berlarut, Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam telah menunda RUU tersebut "hingga batas waktu yang tidak ditentukan." Bahkan menyebutnya, "telah mati" demi menenangkan massa.

Namun, demonstran tak puas. Protes terus berlanjut dan bermanifestasi menjadi bentuk protes secara luas terhadap pemerintahan Hong Kong serta China.

Demonstrasi memicu bentrokan antara massa pro-demokrasi dengan aparat, serta massa dengan gerombolan pihak ketiga, yang terjadi di sejumlah titik kota.

Reporter: Rizki Akbar Hasan

Sumber: Liputan6.com [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini