Hot Issue

"Saya Cekoki Obat ke Anak-Anak Saya yang Kelaparan Agar Mereka Tertidur"

Jumat, 25 November 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti
"Saya Cekoki Obat ke Anak-Anak Saya yang Kelaparan Agar Mereka Tertidur" Farahanaz, potret perempuan miskin Afghanistan yang keluarganya dilanda kelaparan. ©Al Jazeera (Supplied)

Merdeka.com - Orang-orang Afghanistan dilanda kelaparan. Ada yang terpaksa menjual anak-anak perempuan mereka. Ada juga yang menjual organ tubuh mereka demi bertahan hidup.

Orang tua lain memberikan obat ke anak-anak mereka yang kelaparan agar mereka tertidur dan melupakan rasa lapar mereka.

"Anak-anak kami tetap menangis, dan mereka tidak bisa tidur. Kami tidak punya makanan," kata Abdul Wahab, dikutip dari BBC, Kamis (24/11).

"Jadi kami pergi ke apotek, membeli tablet dan memberikannya ke anak-anak kami agar mereka ngantuk," lanjutnya.

Abdul Wahab tinggal di luar Herat, di sebuah permumikan yang terdiri dari ribuan rumah kecil yang terbuat dari tanah. Di sana tinggal para pengungsi akibat perang dan bencana alam.

Saat ditanya berapa banyak warga yang memberi obat ke anak-anak mereka, Abdul Wahab menjawab: "Banyak."

Ghulam Hazrat mengeluarkan satu lembar pil dari sakunya. Obat itu adalah alprazolm, biasanya diberikan untuk mengobati kecemasan.

Ghulam punya enam anak, anak yang paling kecil berusia satu tahun yang juga diberi obat tersebut.

Di tempat lain, Ammar (nama samaran) bertahan hidup dengan menjual ginjalnya tiga bulan lalu. Dia menunjukkan bekas jahitan sepanjang 9 inchi di pinggangnya.

"Tidak ada jalan keluar lain. Saya pernah mendengar Anda bisa menjual ginjal di rumah sakit daerah. Saya ke sana dan mengatakan saya ingin menjual ginjal. Beberapa pekan kemudian saya mendapat telepon yang meminta saya datang ke rumah sakit," jelasnya.

"Mereka melakukan beberapa pemeriksaan, lalu mereka menyuntik saya sehingga saya tidak sadarkan diri. Saya takut tapi saya tidak punya pilihan."

Ammar dibayar sekitar 270.000 Afghani atau sekitar Rp48 juta. Uang itu sebagian besar habis untuk membayar utang yang dia gunakan untuk memberi makan keluarganya.

"Jika kami makan satu malam, malam berikutnya kami tidak makan. Setelah menjual ginjal, saya merasa tidak utuh. Saya merasa putus harapan. Jika hidup terus menerus begini, saya merasa saya bisa mati," kata Ammar.

Seorang ibu muda juga mengaku telah menjual ginjalnya tujuh bulan lalu yang digunakan untuk membayar utang. Ibu muda ini menjual ginjalnya seharga 240.000 Afghani atau sekitar Rp42 juta. Namun itu juga tidak cukup.

"Sekarang kami terpaksa menjual putri kami yang berusia dua tahun. Orang-orang yang kami utangi menghina kami setiap hari, mengatakan beri kami putrimu jika kamu tidak bisa membayar kami," ujarnya.

"Saya merasa malu dengan situasi kami. Kadang-kadang saya merasa lebih baik mati daripada hidup seperti ini," kata suami ibu muda tersebut.

Warga lainnya, Nizamuddin juga terpaksa menjual anak perempuannya yang berusia lima tahun seharga 100.000 Afghani atau sekitar Rp17,5 juta.

"Kami paham itu melawan hukum Islam, dan kami membahayakan anak-anak kami, tapi tidak ada cara lain," kata ketua komunitas, Abdul Ghafar.

2 dari 2 halaman

Bagaimana pemerintahan Taliban mengatasi kelaparan ini? Juru bicara Taliban di Provinsi Herat, Hamidullah Motawakil mengatakan situasi ini akibat sanksi internasional dan pembekuan aset Afghanistan.

"Pemerintahan kami berusaha mengidentifikasi berapa banyak orang yang membutuhkan. Banyak orang yang bohong soal kondisi mereka karena mereka berpikir mereka bisa dapat bantuan," jelasnya.

Dia juga mengatakan Taliban berusaha menciptakan lapangan pekerjaan.

"Kami ingin membuka tambang bijih besi dan proyek pipa gas," ujarnya.

Kelaparan merupakan pembunuh yang lamban dan senyap, dampaknya tidak selalu langsung terlihat.

Jauh dari perhatian dunia, skala krisis di Afghanistan mungkin tidak akan pernah disorot, karena tidak ada yang memperhitungkan.

[pan]

Baca juga:
Taliban Cambuk 12 Orang di Stadion Sepak Bola
Taliban 'Haramkan' Wanita Kunjungi Taman Hiburan di Kabul
Taliban Larang Perempuan Kunjungi Semua Taman di Kabul
Nyawa 64 Anak Afghanistan yang Dibunuh Tentara Inggris Ditukar Uang Senilai Rp2,9 M

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini