Muslim Rohignya Soal Suu Kyi: Kami Dulu Mendoakannya, Sekarang Dia Membela Pembunuh

Selasa, 10 Desember 2019 17:37 Reporter : Hari Ariyanti
Muslim Rohignya Soal Suu Kyi: Kami Dulu Mendoakannya, Sekarang Dia Membela Pembunuh Warga Rohingya di Bangladesh.. ©Adnan Abidi/Reuters

Merdeka.com - Warga Muslim Rohingya menuntut pertanggungjawaban Myanmar di Pengadilan Mahkamah Internasional PBB di Den Haag, Belanda, tempat pemimpin Myanmar dan peraih Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi akan membela negara itu dari tuduhan genosida terhadap Rohingya.

Lebih dari 730 ribu Rohingya melarikan diri dari Myanmar pada 2017 setelah kebrutalan operasi militer yang disebut PBB sebagai upaya genosida dan termasuk pembunuhan dan pemerkosaan massal.

Myanmar dengan tegas membantah tuduhan genosida, mengatakan kampanye militernya di ratusan desa di negara bagian Rakhine di utara adalah respons atas serangan pemberontak Rohingnya.

Mayoritas Muslim Rohingya yang bertempat tinggal di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh selatan bereaksi atas kehadiran Aung San Suu Kyi di Pengadilan Mahkamah Internasional dalam persidangan yang akan berlangsung 10-12 Desember.

Sejumlah warga Rohingnya mengutarakan harapannya terkait persidangan tersebut. Mohammed Zobayer (19), seorang guru di pusat pelatihan di kamp Bangladesh berharap komunitas global bertindak dan meminta pertanggungjawaban Myanmar atas kejahatan mengerikan yang mereka lakukan terhadap warga Rohingya.

"Kami menyaksikan pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan. Kami melihat banyak orang dibunuh di depan mata kami. Hal yang bisa kami lakukan hanya kabur saat rumah kami dibakar. Inilah saatnya komunitas global bertindak dan menuntut pertanggungjawaban Myanmar atas kejahatan mengerikan yang mereka lakukan. Mereka harus bertanggung jawab atas genosida terhadap Rohingya," jelasnya sebagaimana dilansir Aljazeera, Selasa (10/12).

Dia mengatakan dulu sebelum berkuasa Suu Kyi berbicara terkait pemerkosaan yang dilakukan militer sebagai senjata, namun justru sekarang membela militer.

"Kami tak sabar menunggu sidangnya. Tapi kami tidak yakin bisa mendengarnya karena buruknya jaringan internet di sini," kata dia.

Warga lainnya, Nur Alam (65) menyesalkan sikap Suu Kyi yang dulu menjadi ikon perdamaian tapi sekarang menjadi ikon genosida. Anak laki-laki Nur Alam ditembak mati oleh militer setelah operasi militer Agustus 2017.

"Aung San Suu Kyi pernah menjadi ikon perdamaian dan kami memiliki harapan besar padanya bahwa banyak hal akan berubah setelah dia berkuasa. Kami dulu berdoa untuknya, tapi dia sekarang menjadi ikon genosida. Alih-alih melindungi kami, dia mendukung pembunuh. Sekarang dia akan membela para pembunuh itu. Kami benci dia. Memalukan," sesalnya.

"Dia dan tentara dan para pembunuh anak saya harus dihukum. Saya telah lama menunggu ini. Saya tidak akan memiliki penyesalan dalam hidup jika saya melihat mereka dihukum," harapnya.

1 dari 1 halaman

Hanya Keadilan yang Bisa Obati Luka Kami

Warga Rohingnya lainnya, Rashid Ahmed (35), mengatakan 12 anggota keluarganya dibunuh tentara Myanmar.

"Hanya keadilan yang bisa mengobati luka kami. Saya tahu saya tidak akan bisa mengembalikan mereka, tapi mereka akan istirahat dalam damai ketika pembunuh mereka dihukum," harapnya.

Momtaz Begum (31), menangis sembari memangku anaknya yang berusia 3 tahun. Dia bercerita suaminya dibunuh tentara.

"Mereka memperkosa saya dan membakar rumah saya, mereka menikam kepala anak perempuan saya yang berusia enam tahun. Saya mendengar bakal ada pengadilan terhadap Aung San Suu Kyi dan tentara. Kami menuntut pengadilan dari Suu Kyi dan militer. Mengapa mereka membunuh orang-orang kami yang tidak bersalah, anak-anak kami? Mengapa mereka menyiksa dan memperkosa perempuan kami? Kami menuntut keadilan," tegasnya.

Jamalida Begum (29) mengaku diperkosa tentara pada 2016 setelah suaminya dibunuh.

"Militer datang ke desa saya dan membunuh suami dan membakar rumah saya. Tiga tentara menyeret saya ke semak-semak dan mengacungkan senjata dan memperkosa saya sampai saya pingsan," kisahnya.

Jamalida melarikan diri ke Bangladesh setelah tentara memburunya karena bersedia diwawancarai wartawan asing setelah pemerkosaan dan penyiksaan yang dia alami.

"Yang saya inginkan hanya keadilan. Saya ingin hukuman bagi mereka yang memperkosa kami, membunuh orang-orang, membakar rumah kami, membakar anak-anak kami," pungkasnya. [pan]

Baca juga:
Suu Kyi akan Hadiri Sidang Mahkamah Internasional, Warga Myanmar Demo Beri Dukungan
HRW Sebut Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh Akan Jadi Penjara Terbuka
Bertemu Dubes Myanmar, Ma'ruf Tegaskan Komitmen RI Bantu Solusi Konflik di Rakhine
Biksu Thailand Sebut Toleransi Umat Beragama Kerap Dicederai Ujaran Kebencian
Kapal Pengungsi Rohingya Tenggelam di Teluk Bengali, 122 Penumpang Selamat
Dibantai di Kampung Halaman, Nelangsa di Pengungsian, Rohingya Terpuruk dalam Nestapa

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini