Mengenal Varian Baru Virus Corona Afrika Selatan yang Mutasinya Mencemaskan

Jumat, 26 November 2021 14:49 Reporter : Pandasurya Wijaya
Mengenal Varian Baru Virus Corona Afrika Selatan yang Mutasinya Mencemaskan Virus Corona. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Virus corona varian baru yang terdeteksi di Afrika Selatan diketahui memiliki mutasi yang luar biasa sehingga menimbulkan kekhawatiran para ilmuwan karena virus ini berpotensi tidak mampu dicegah oleh vaksin yang ada.

Dilansir dari laman the Straits Times, Jumat (26/11), berikut informasi yang diketahui sejauh ini mengenai varian baru ini:

T: Apa yang kita ketahui dari varian baru B.1.1.529?

J: Varian ini pertama terdeteksi di Afrika Selatan dan cukup mencemaskan karena memiliki mutasi yang banyak dan itu bisa mempengaruhi karakteristik virus.

Tanda-tanda awal memperlihatkan varian ini menyebar cepat di Provinsi Gauteng, lokasi yang populasinya cukup padat mencapai sekitar 15 juta jiwa. Varian ini sudah menyebar ke delapan provinsi lainnya di Afsel.

Institut Nasional Penyakit Menular Afsel kemarin mengatakan sudah mendeteksi 22 kasus dari varian ini dan kasus lain masih sedang dalam tahap penyelidikan. Ilmuwan memperkirakan varian ini bisa berpotensi mencakup 90 persen kasus Covid-19 di Gauteng.

Afrika Selatan kemarin mencatat 2.465 kasus baru Covid-19.

Selain itu varian dari virus ini juga tercatat ada di negara tetangga Afsel, Botswana dan menyebar jauh ke Hong Kong, setelah seorang pria 36 tahun terbang dari Afsel pada 11 November lalu. Dia dites positif mengidap varian ini dua hari kemudian ketika tengah menjalani karantina.

Dia kemudian menulari pria 62 tahun yang menginap di hotel yang sama. Pria itu diketahui memakai masker yang ada katupnya dan virus itu keluar ketika dia bernapas. Partikel virus itu menyebar ke koridor hotel.

T: Mengapa varian ini mencemaskan?

J: Salah satu yang ditakutkan adalah varian baru ini bisa mengurangi efektivitas vaksin karena banyaknya jumlah mutasi.

Sebagian besar vaksin "mengajari" tubuh bagaimana menciptakan antibodi yang bisa menetralkan mahkota protein virus yang menjadi sarana virus menempel ke sel manusia. Namun varian baru ini memiliki mutasi yang banyak di bagian mahkota proteinnya dan itu menimbulkan kekhawatiran bisa berdampak pada efikasi vaksin.

Varian ini memiliki 32 mutasi di bagian mahkota protein--sekitar dua kali lipat dari varian Delta.

2 dari 2 halaman

Profesor Penny Moore, virologis di Universitas Witwatersrand di Johannesburg, Afrika Selatan, mengatakan model komputer memperlihatkan varian ini kemungkinan mampu menghindari bagian dari respons imun yang diproduksi sel T.

Kekhawatiran lain adalah varian ini menyebar sangat cepat. Virologis Afsel Tulio de Oliveira mengatakan varian baru ini sekarang "mendominasi seluruh kasus penularan di Afsel dalam waktu kurang dari dua pekan. Sebelumnya varian Delta masih dominan sampai munculnya varian baru ini.

Belum diketahui apakah varian baru ini bisa menyebabkan penyakit yang lebih parah karena penelitian masih berlangsung.

"Kami belum tahu banyak mengenai varian ini. Yang kami tahu varian ini memiliki jumlah mutasi yang luar biasa banyak. Kekhawatirannya adalah ketika virus memiliki banyak mutasi maka bisa berpengaruh pada karakteristik virus," kata Dr Maria Van Kerkhove, kepala teknis tim WHO dalam penanganan Covid-19.

T: Apa yang sudah dilakukan terhadap varian ini?

J: WHO hari ini menggelar rapat khusus untuk membahas penanganan varian baru ini.

Penelitian masih berlangsung di Afrika Selatan untuk lebih memahami varian ini dan dampaknya terhadap vaksin.

"Kita perlu lebih memahami bagaimana virus ini menyebar karena semakin menyebar, maka virus ini akan semakin bermutasi," kata Dr Van Kerkhove.

Dr Michael Ryan, direktur eksekutif WHO Program Darurat Kesehatan memperingatkan agar kita jangan terlalu reaktif dalam menanggapi varian baru ini.

"Ini selalu terjadi. Virus berevolusi dan kita akan mendapatkan banyak varian. Ini bukan akhir dunia, langit tidak runtuh. Kita akan selalu menemukan varian baru dan kita tidak mau membuat orang menghabiskan waktunya hanya untuk khawatir setiap hari," kata Dr Ryan. [pan]

Baca juga:
WHO Gelar Rapat Khusus Bahas Varian Baru Virus Corona Asal Afrika Selatan
Ilmuwan Peringatkan Munculnya Virus Corona dengan Mutasi Luar Biasa di Afrika Selatan
Rumah Sakit di Belanda Hentikan Layanan Kemoterapi karena Pasien Covid-19 Membeludak
Kisah di Balik Obat Covid-19 Pertama Buatan China
Saudi Izinkan Masuk Pendatang dari Indonesia Mulai 1 Desember
Ini Syarat WNI Masuk Singapura Tanpa Perlu Karantina
Dilanda Gelombang Keempat Covid-19, Jumlah Kematian di Jerman Lampaui 100.000
Jerman Pertimbangkan akan Wajibkan Vaksin karena Kasus Covid-19 Melonjak

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini