Manfaatkan Perang Dagang, Demonstran Minta Trump Bebaskan Hong Kong dari China

Minggu, 8 September 2019 18:18 Reporter : Merdeka
Manfaatkan Perang Dagang, Demonstran Minta Trump Bebaskan Hong Kong dari China Aksi demo di Hong Kong. ©AFP/DALE DE LA REY

Merdeka.com - Ribuan pengunjuk rasa memadati jalan menuju Konsulat Jenderal Amerika Serikat untuk Hong Kong, Minggu (8/9). Demonstran meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membebaskan Hong Kong dari penguasaan China.

"Tolak Beijing, bebaskan Hong Kong," teriak para pengunjuk rasa, seperti yang dikutip oleh Reuters.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper pada Sabtu (7/9) kemarin, mendesak China untuk menahan diri dalam menghadapi demo Hong Kong. Pernyataan tersebut diutarakan, menyusul tindakan polisi yang menembaki pengunjuk rasa di Mong Kok dengan gas air mata, sebagai bentuk pencegahan demonstran memblokir bandara.

"Dengan AS terkunci dalam perang dagang dengan China saat ini, menjadi kesempatan yang baik untuk kami menunjukkan (ke Amerika Serikat) bagaimana kelompok pro-China juga melakukan pelanggaran HAM di Hong Kong dan memperbolehkan kebrutalan polisi," ungkap Cherry (26), karyawan bidang industri finansial yang menjadi peserta aksi demo dekat Konsulat Jenderal AS.

"Kami ingin pemerintah AS membantu melindungi hak asasi manusia di Hong Kong," imbuhnya.

Reuters melaporkan, Wakil Presiden AS Mike Pence sempat mendesak pemerintah China untuk memperlakukan demonstran Hong Kong secara manusiawi. Pence memperingatkan, jika kekerasan masih terjadi di Hong Kong, maka perjanjian dagang antara Beijing dan Washington akan semakin sulit.

Sebaliknya, Presiden Trump terlihat lebih labil dalam menentukan sikapnya. Trump pernah memuji Presiden China Xi Jinping sebagai pemimpin yang hebat. Namun, di waktu berbeda dia juga menganggap China sebagai musuh, sembari mengecam China karena dinilai mengambil keuntungan dari bisnis AS.

Beijing sendiri telah membantah tuduhan campur tangan atas masalah internal Hong Kong. Pemerintah China justru menuduh adanya peran Amerika dan Inggris di balik kerusuhan Hong Kong.

Sejak pemerintah Hong Kong mengumumkan RUU ekstradisi, rangkaian aksi protes terjadi. Undang-undang tersebut memungkinkan pemberlakuan hukum pengadilan China terhadap warga Hong Kong.

Aksi protes semakin memanas seiring sikap kepolisian yang dinilai berlebihan. Tuntutan demonstran pun meluas ke arah kemanusiaan dan demokrasi.

Sejumlah kerusuhan mewarnai aksi protes yang telah berlangsung berminggu-minggu. Departemen Luar Negeri AS bahkan sempat mengeluarkan peringatan pada warganya untuk berhati-hati.

Rabu (4/9), Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam resmi mencabut RUU ekstradisi yang menjadi pemicu aksi demo. Namun, keputusan tersebut dinilai terlambat dan tidak cukup untuk meredam massa.

"Terlalu kecil dan sudah terlambat sekarang. Tanggapan Carrie Lam muncul setelah tujuh nyawa dikorbankan, lebih dari 1.200 demonstran ditangkap, di mana banyak yang dianiaya di kantor polisi," tulis Aktivis Pro-demokrasi Joshua Wong di akun Twitternya Rabu lalu.

Menyusul setelah pencabutan RUU ekstradisi, Beijing mengumumkan akan berkunjung ke Washington awal Oktober mendatang, untuk mengakhiri perang dagang antar kedua negara. Untuk diketahui, dua tahun sudah perang dagang antara China dan Amerika terjadi. Hal ini mengakibatkan gejolak pasar dan memukul pertumbuhan global.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini