Maduro Tuding AS dan Eropa Pemicu Krisis di Venezuela

Jumat, 11 Januari 2019 22:35 Reporter : Merdeka
Maduro Tuding AS dan Eropa Pemicu Krisis di Venezuela Presiden Venezuela Nicolas Maduro. AFP

Merdeka.com - Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang baru saja dilantik hari ini setelah memenangkan pemilu Mei tahun lalu menuding Uni Eropa dan Amerika Serikat mengobarkan "perang dunia" imperialis terhadap bangsanya yang dilanda krisis ekonomi bertahun-tahun. Maduro menjabat presiden Venezuela untuk periode kedua hingga enam tahun mendatang.

Maduro, yang mewarisi revolusi Bolivarian Hugo Chavez setelah kematiannya pada 2013, menjabat presiden ketika Venezuela mengalami penurunan pendapatan kekayaan negara yang sangat drastis.

Rentetan kecaman domestik dan internasional memberondong pria 56 tahun itu, ketika ia mengambil sumpah di hadapan Mahkamah Agung Venezuela --alih-alih parlemen atau Majelis Nasional-- di Caracas.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, mengutuk "perebutan kekuasaan secara tidak sah" oleh Maduro dan berjanji untuk "menggunakan kekuatan penuh ekonomi dan diplomatik AS untuk mendesak pemulihan demokrasi Venezuela".

Uni Eropa menyebut pemungutan suara tahun lalu "tidak bebas, tidak adil", dan mengatakan Maduro "memulai mandat baru berdasarkan pemilihan yang tidak demokratis".

Pemerintahan negara Amerika Latin juga mengecam pelantikan itu, dengan Paraguay dan Peru memutuskan hubungan diplomatik dan presiden Argentina, Mauricio Macri, melabeli Maduro sebagai "diktator yang berlagak korban".

Maduro menentang serangan itu selama pidato 80 menit penuh semangat kepada sesama chavista dan sekutu kiri internasional, termasuk Presiden Nikaragua, Daniel Ortega, Presiden Bolivia Evo Morales, dan Presiden Kuba Miguel Daz-Canel.

"Kami adalah demokrasi sejati, mendalam, populer dan revolusioner ... bukan demokrasi elit ... jutawan super yang berkuasa untuk memperkaya kelompok ekonomi mereka dan merampok rakyat," katanya. "Dan saya, Nicols Maduro Moros, adalah seorang presiden yang benar-benar demokratis."

Maduro, yang menghadapi tekanan regional yang meningkat ketika politik Amerika Latin berubah haluan menjadi ke 'kanan' (right-wing politics), mengklaim negaranya "berada di pusat perang dunia" yang diupayakan oleh imperialis AS dan "pemerintah satelit" mereka di Amerika Latin.

Dia menyerang presiden Kolombia, Ivn Duque, dan pemimpin kanan baru Brasil, Jair Bolsonaro, menyebutnya "fasis".

Maduro juga menyerang Uni Eropa.

"Berhenti, Eropa ... Jangan datang lagi dengan kolonialisme lamamu. Jangan datang lagi dengan agresi lama Anda. Jangan datang lagi, Eropa lama, dengan rasisme lama Anda," katanya.

"Sudah ada cukup banyak perbudakan - penjarahan yang Anda alami selama 500 tahun ... Menghormati Venezuela ... atau lebih cepat daripada nanti Anda akan membayar harga historisnya."

Masa jabatan kedua Presiden Nicolas Maduro akan berakhir enam tahun, namun, beberapa pengamat meragukan dia akan mencapai sejauh itu, mengingat krisis ekonomi dan politik yang menghantam negaranya.

Tahun lalu inflasi dilaporkan mencapai 1,35 juta persen sementara eksodus besar-besaran yang menyebabkan hampir 10 persen populasi negara berkurang, masih terus meninggalkan negara itu.

"Secara ekonomi kita berada dalam spiral kematian," kata Phil Gunson, pakar Crisis Group yang berbasis di Caracas.

Reporter: Rizki Akbar Hasan

Sumber: Liputan6.com [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini