Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kim Jong-un cemas dirinya akan dikudeta militer saat bertemu Trump di Singapura

Kim Jong-un cemas dirinya akan dikudeta militer saat bertemu Trump di Singapura kim jong un. ©2015 REUTERS/KCNA

Merdeka.com - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dilaporkan tengah khawatir soal pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Singapura bulan depan. Kabar itu dilaporkan harian The Washington Post kemarin mengutip narasumber yang akrab dengan perhelatan itu.

Menurut harian itu, Kim Jong-un kurang peduli soal pertemuan dengan Trump. Dia justru lebih mengkhawatirkan tentang apa yang mungkin terjadi di Pyongyang saat ia pergi menghadiri KTT.

Laporan itu juga menyebut, Kim Jong-un cemas bahwa perjalanan ke Singapura dapat membuat rezimnya rentan terhadap kudeta militer atau figur oposisi mencoba untuk menggulingkannya. Demikian kata narasumber yang anonim kepada The Post, seperti dikutip dari Business Insider Singapore (23/5).

Kabar tentang kekhawatiran itu muncul ketika Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan penasihat kepresidenan AS John Bolton menyebut soal rencana AS yang menginginkan denuklirisasi yang cepat di Korea Utara.

Bahkan, beberapa pekan lalu, Bolton mengatakan akan menerapkan 'model Libya' pada rezim Kim Jong-un dan Korea Utara untuk mencapai tujuan AS soal denuklirisasi di Semenanjung Korea. Trump menginterpretasikan maksud Bolton sebagai intervensi NATO dan Barat terhadap rezim Qadafi pada 2011.

Pada tahun itu, NATO mendukung dan membantu kelompok oposisi yang berusaha untuk menggulingkan Qadafi. Pada akhirnya, Qadafi berhasil digulingkan dan tewas di tangan pemberontak di Tripoli.

Kendati demikian, Trump pada Selasa 22 Mei kemarin mengatakan akan berusaha meyakinkan Kim Jong-un bahwa dia akan tetap berkuasa di Korea Utara, sebagai ganti atas kesepakatannya untuk denuklirisasi dan pelucutan senjata nuklir.

"Saya akan menjamin keselamatannya," kata Trump. "Dia akan aman, dia akan bahagia, negaranya akan kaya, negaranya akan makmur."

Dinasti keluarga Kim telah memerintah Korea Utara sejak berakhirnya Perang Korea pada tahun 1953.

Desas-desus tentang pemberontakan militer di Korea Utara, kata para ahli, adalah alasan yang mendorong Kim semakin kuat mencengkeram kekuasaan selama bertahun-tahun.

"Gagasan bahwa Kim aman dalam kekuasaannya pada dasarnya salah," kata Victor Cha, mantan direktur urusan Asia untuk Dewan Keamanan Nasional selama pemerintahan George W. Bush, yang menulis dalam kolom opini pada 2014, seperti dikutip dari The Business Insider Singapore.

"Diktator mungkin menggunakan kekuatan ekstrem dan kejam seperti Kim, tetapi mereka juga tidak percaya diri tentang cengkeraman kekuasaan mereka," kata Cha.

Reporter: Rizki Akbar Hasan

Sumber: Liputan6.com

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP