"Kalau Bukan Karena Gempa, Kemiskinanlah yang Akan Membunuh Kami"

Kamis, 30 Juni 2022 14:14 Reporter : Hari Ariyanti
"Kalau Bukan Karena Gempa, Kemiskinanlah yang Akan Membunuh Kami" Potret korban gempa di Afghanistan. ©2022 REUTERS/Ali Khara

Merdeka.com - Ketika gempa berkekuatan 5,9 magnitudo mengguncang Afghanistan timur pekan lalu, Naqib kehilangan rumahnya dan hampir seluruh keluarganya. Orang tuanya dan empat saudara kandungnya sekarang terkubur di puncak bukit menghadap distrik terpencil Gayan di Provinsi Paktika. Bocah laki-laki 11 tahun itu kini hanya punya satu saudara perempuan, Nesab, yang berumur empat tahun.

Gadis kecil itu meringkuk di sampingnya, terdiam mendengarkan kakaknya menceritakan bencana 22 Juni tersebut.

"Saya terkubur di bawah reruntuhan bersama Nesab. Kami berteriak. Paman saya datang dan membantu kami keluar dari rumah yang hancur itu. Saat itu gelpa, tapi saya lihat tidak ada keluarga saya yang lain yang berteriak. Mereka semua mati," kisahnya, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (30/6).

Pagi itu, Naqib menyaksikan ketika keluarganya memandikan mayat-mayat itu sebelum dikubur. Matanya dipenuhi airmata saat mengingat kejadian tersebut. Adiknya kebingungan. Suatu waktu, Nesab menanyakan kapan orang tua mereka akan bangun, lalu mengatakan kalau orang tua mereka telah meninggal.

Total sebanyak 35 orang korban tewas dari keluarga besar Naqib; 45 orang terluka, dan beberapa luka parah.

Lebih dari 1.000 orang tewas dan 2.000 lainnya terluka dalam gempa bumi paling mematikan di Afghanistan dalam 20 tahun ini. Menurut Kementerian Kesehatan Masyarakat, 35 desa hancur. Di Gayan saja, tercatat sedikitnya 250 korban tewas.

Para keluarga yang terdampak gempa mengatakan saat ini mereka berjuang meneropong masa depan mereka di daerah miskin yang terpencil dan tanpa listrik itu.

"Daerah ini menyaksikan banyak pertarungan selama perang, jadi hanya sedikit orang yang datang ke sini," jelas paman Naqib, Rahmatullah Rahmani.

"Taliban menghancurkan banyak hal, begitu juga Amerika. Berbahaya dan itulah mengapa kami tidak punya jalan, sekolah, atau klinik yang bagus di sini," lanjut pria 42 tahun itu yang juga kehilangan istri dan dua putrinya saat gempa pekan lalu.

"Kami biasa mengatasi (situasi) sebelumnya, tapi menurut saya kami tidak bisa lagi setelah gempa. Dalam beberapa hari terakhir, orang-orang datang membawa makanan dan tenda, tapi berapa lama mereka akan tinggal? Secepatnya kami akan ditinggalkan sendiri dan kami tidak tahu bagaimana kami akan membangun kembali rumah-rumah kami."

Rahmani mengatakan Taliban menjanjikan bantuan 100.000 Afghani atau sekitar Rp 19 juta untuk setiap korban jiwa. Kendati mengaku tidak tahu kapan bantuan itu akan cari, dia bersyukur dan berharap bantuan itu bisa membantunya membangun kembali rumahnya.

"Saya tidak tahu dari mana datangnya uang itu, karena rumah itu sangat mahal. Itu satu-satunya pilihan jika saya ingin menjaga keluarga saya agar tetap aman," jelasnya, seraya menambahkan dia juga akan merawat Naqib dan Nesab.

Menteri Kesehatan Masyarakat Afghanistan, Qalandar Ebad mengakui tantangan itu.

"Kondisinya kritis. Orang-orang kehilangan rumah mereka, tapi mereka juga terdampak secara psikologi. Banyak anak melihat anggota keluarga mereka meninggal, itu traumatis," jelasnya.

Dia menambahkan, Taliban akan membantu upaya pembangunan kembali rumah-rumah dan konseling psikologi bagi para korban, tapi juga berharap rakyat Afghanistan ikut membantu.

2 dari 2 halaman

Janji Taliban

Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan, krisis kemanusiaan di Afghanistan semakin parah, perekonomian merosot, tingkat kemiskinan melonjak, dan pengangguran meluas.

Gubernur Distrik Gayan, Malawi Rahmatullah Darwish mengatakan akan membantu para korban. Darwish sebelumnya seorang komandan Taliban yang memimpin lebih dari 100 tentara.

"Setelah gempa mengguncang, saya mengorganisir 40 staf saya untuk membantu membersihkan reruntuhan, menemukan korban, dan menghubungi ambulans. Kami juga akan membantu membangun kembali rumah-rumah ini dengan tangan kami sendiri," ujarnya.

Beberapa warga masih curiga dan mengklaim Taliban hanya memprioritaskan bantuan untuk para pendukungnya. Warga juga mengatakan banyak orang dari jauh yang tidak terdampak gempa datang untuk mengambil bantuan makanan.

Rahmani mengatakan sebagian besar warga di desanya berusaha bertahan walaupun mereka kehilangan harapan.

Dia berdiri di tengah reruntuhan rumahnya; sebuah kompleks bertembok di sebelah tempat rumah Naqib yang juga hancur.

"Kalau bukan gempa, kemiskinanlah yang akan membunuh kami. Saya tidak tahu masa depan seperti apa, tapi saya harus bekerja keras untuk membangun kembali hidup kami, demi keluarga saya." [pan]

Baca juga:
Potret Korban Gempa di Afghanistan Jalani Hidup Sulit
Ilmuwan Jelaskan Mengapa Banyak Terjadi Gempa Dahsyat di Afghanistan
Taliban Minta Barat Cairkan Aset Beku Setelah Gempa Mematikan Guncang Afghanistan
Gempa Afghanistan, Korban Selamat Gali Reruntuhan dengan Tangan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini