Israel lepas tangan soal kematian demonstran difabel di Jalur Gaza
Merdeka.com - Angkatan bersenjata Israel menolak bertanggung jawab atas gugurnya seorang penyandang disabilitas, Ibrahim Abu Thuraya (29), ketika ikut berunjuk rasa menentang klaim Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, di perbatasan Jalur Gaza pada Jumat pekan lalu. Mereka berdalih dari penyelidikan internal dilakukan tidak menemukan kekeliruan dilakukan para serdadu mereka di lapangan, saat menghadapi para demonstran.
Dalam pernyataannya, angkatan bersenjata Israel berkilah prajurit mereka tidak melanggar pedoman moral dan aturan main penggunaan senjata dalam insiden merenggut nyawa Abu Thuraya. Dilansir dari laman Associated Press, Selasa (19/12), militer negara Zionis itu berkeras saat kejadian tidak ada tentara yang menembakkan peluru tajam langsung ke arah Abu Thuraya, dan berkeras sulit menyimpulkan penyebab kematiannya. Mereka juga beralasan sudah berkali-kali meminta supaya menyerahkan data hasil visum mendiang.
Hanya saja mereka tidak menjelaskan kepada siapa akan meminta hasil visum itu. Militer Israel berkelit situasi pada saat itu sangat kacau dan pengunjuk rasa semakin beringas.
Menurut penjelasan pejabat departemen kesehatan Palestina, Abu Thuraya meninggal karena ditembak di kepala. Keluarga mendiang tidak terima dengan alasan militer Israel. Ibu mendiang, Itidal, mempertanyakan mengapa anaknya harus tewas padahal dia tidak mengancam siapapun.
"Dia cuma memegang bendera, bukan sabuk peledak atau bom. Saya tidak percaya Israel atau penyelidikan yang mereka lakukan," kata Itidal.
Kelompok sayap kanan di Israel juga mengkritik proses penyelidikan internal angkatan bersenjata. Mereka tidak yakin kalau militer bisa adil, mandiri, dan efektif dalam mengusut dugaan pelanggaran dilakukan serdadunya. Namun, militer Israel berkeras menyangkalnya.
Kantor Urusan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun tidak yakin dengan proses pengusutan dilakukan oleh militer Israel dalam insiden berdarah itu. Menurut Kepala Urusan HAM PBB, Zaid Ra'ad al-Hussein, dari fakta-fakta dikumpulkan terkait kejadian itu mereka menarik kesimpulan kalau prajurit Israel sudah kelewat batas dalam menghadapi pengunjuk rasa. Malah Juru Bicara Kantor HAM PBB, Rupert Colville, menyatakan kalau pengusutan dilakukan oleh militer Zionis tidak cukup meyakinkan.
Abu Thuraya sebelumnya adalah nelayan. Dia kehilangan kedua kaki akibat serangan udara dilakukan Israel, ketika berperang dengan Hamas sebelas tahun lalu. Menurut kerabatnya, saat itu mendiang tengah membantu menyelamatkan korban serangan sebelumnya, dan sesaat kemudian roket kembali dilepaskan dan melukainya. Sejak saat itu dia menggunakan kursi roda.
Mendiang Abu Thuraya juga tidak pernah absen dalam unjuk rasa menentang Israel, baik sebelum dan sesudah menggunakan kursi roda. Sudah delapan penduduk Palestina, termasuk mendiang, meninggal dalam unjuk rasa selepas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya