Israel cemberut Kota Hebron ditetapkan menjadi situs warisan dunia
Merdeka.com - Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan Kota Hebron di Tepi Barat sebagai situs warisan dunia. Namun, keputusan itu membikin Israel naik pitam, tetapi didukung oleh warga Palestina.
Dilansir dari laman Independent, Sabtu (8/7), keputusan penetapan Hebron sebagai situs warisan dunia berdasarkan pengambilan suara tertutup pada Jumat kemarin. Voting digelar setelah perwakilan Palestina mengajukan permohonan supaya PBB sudi meningkatkan status Kota Hebron. Namun, dalam pemilihan itu enam negara menyatakan abstain.
Permohonan delegasi Palestina yang isinya mencantumkan Hebron sebagai kota umat Islam membikin Duta Besar Israel buat UNESCO, Carmel Shama-Hacohen, angkat kaki dari ruang sidang. Dia beralasan situs Gua Ibrahim di Hebron juga salah satu tempat suci bagi kaum Yahudi.
Di agama Yahudi, Hebron adalah kota terpenting kedua. Sedangkan bagi umat Islam, tempat itu adalah salah satu dari kota suci. Namun, kini kota itu terbelah. Sebagian dicaplok Israel dan lainnya dikontrol Otoritas Palestina.
UNESCO sebenarnya memang jarang menggelar voting tertutup. Namun, akhirnya digelar dengan saran Polandia, Kroasia, dan Jamaica. Hanya saja, sejumlah negara sempat menolak dan terjadi debat kusir di dalam sidang. Semuanya berhenti setelah pimpinan sidang mengancam bakal memanggil petugas keamanan jika adu argumen terus memanas.
Akan tetapi, Israel menolak mematuhi keputusan UNESCO. Padahal sebelumnya, Komite Situs Warisan Dunia sudah menolak klaim negara zionis itu atas Kota Tua Yerusalem.
Keputusan UNESCO itu langsung ditentang oleh sejumlah petinggi Israel. Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, menyatakan hal itu sebagai khayalan.
"Hanya di wilayah Israel, seperti Hebron, kebebasan beragama dijamin. Di tempat lain di Timur Tengah, masjid, gereja, sinagog dihancurkan. Kami tetap akan menjaga Gua Ibrahim, kebebasan beragama dan kebenaran," klaim Netanyahu.
Duta Besar Israel buat PBB, Danny Damon, menyatakan keputusan UNESCO adalah upaya memisahkan Israel dari akar leluhurnya, sekaligus menunjukkan sikap diskriminasi dan perlawanan terhadap bangsa Yahudi.
Menteri Pendidikan Israel sekaligus Kepala Komite Nasional UNESCO, Naftali Bennett, mengecam keputusan organisasinya. Menurut dia, ikatan antara kaum Yahudi dan Hebron lebih kuat ketimbang keputusan diambil UNESCO.
Meski demikian, Otoritas Palestina justru bersuka cita atas keputusan UNESCO menetapkan Kota Hebron sebagai situs warisan dunia. Juru Bicara Otoritas Palestina faksi Fatah, Jamal Nazzal, menyatakan hal itu adalah keadilan terhadap sejarah dan cermin sikap warga dunia yang melawan kebijakan Israel. Dia juga menyatakan menolak Yerusalem yang dicaplok sebagai ibu kota negara zionis.
Mei lalu, UNESCO melalui pemilihan suara juga menolak klaim kedaulatan Israel yang mencoba menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota negara. UNESCO menyatakan sikap Israel mencoba mengubah status dari kota suci Yerusalem. Akibatnya, Israel memerintahkan PBB supaya menghentikan seluruh kegiatannya di negara zionis itu dan Palestina hingga batas waktu tidak ditentukan.
UNESCO menerima keanggotaan penuh Palestina sejak 2011, meski saat itu ditentang keras oleh Israel dan Amerika Serikat. Alhasil, hubungan UNESCO dan negara zionis menjadi tegang sejak saat itu.
(mdk/ary)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya