Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ilmuwan Temukan Spesies Baru Nenek Moyang Lumba-Lumba, Fosil dari 33 Juta Tahun Lalu

Ilmuwan Temukan Spesies Baru Nenek Moyang Lumba-Lumba, Fosil dari 33 Juta Tahun Lalu nenek moyang lumba-lumba. ©Boessenecker et al (2017)

Merdeka.com - Fosil tengkorak spesies baru lumba-lumba purba remaja ditemukan di dekat Montañita, Provinsi Santa Elena, wilayah tropis Ekuador. Spesies ini dinamakan Urkudelphis chawpipacha oleh para peneliti dan berasal dari Zaman Oligosen yang berlangsung antara 33,9 juta sampai 22 juta tahun lalu.

Tidak hanya spesies baru, peneliti mengungkapkan fosil ini mungkin nenek moyang Platanistoidea modern (lumba-lumba sungai). Temuan ini menjadi contoh sisa peninggalan lumba-lumba purba yang ada di wilayah tropis.

Selama Zaman Oligosen, iklim bumi mendingin yang memungkinkan keragaman flora dan fauna yang lebih besar.

Di lautan, makhluk laut yang bisa menahan suhu dingin bergerak ke utara dan selatan. Mereka menjauhi khatulistiwa yang menjadi habitat banyak makhluk hidup.

Peneliti mengatakan tengkorak tersebut berukuran kecil seperti anak sapi. Fosil ini mungkin bukan hanya spesies baru, tetapi juga genus baru.

Gabungan dari empat kata

Yang membedakannya dari spesies lumba-lumba lain di daerah Equador adalah tulang yang lebih pendek dan lebih lebar di bagian depan. Perbedaan ini disampaikan oleh penulis utama penelitian Yoshihiro Tanaka.

"Urkudelphis chawpipacha berbeda karena ia memiliki ciri-ciri frontal (bagian depan) yang terbuka luas di bagian atas puncak tengkorak serta memiliki bagian sangat runcing di salah satu tulang telinganya. Tulang ini disebut periodik dan dianggap unik untuk spesies tertentu," jelas Tanaka.

Nama Urkudelphis chawpipacha adalah gabungan dari empat kata Yunani dan Kichwa.

"Urku" dalam bahasa Kichwa berarti gunung - di mana fosil tersebut ditemukan (Montañita). "Delphis" adalah bahasa Yunani yang biasa digunakan untuk lumba-lumba.

"Chawpi" dan "patcha" dalam bahasa Kichwa berarti "tengah" dan "dunia berturut-turut". "Middle of the world" untuk menunjukkan bahwa fosil tersebut terletak di khatulistiwa.

Tanaka berharap penemuan fosil baru ini dapat memberikan pemahaman akan pengetahuan baru.

"Kepentingannya berhubungan dengan dampak besar pada arus samudera dan atmosfer, serta pada iklim dan keanekaragaman global," ujar Tanaka.

Reporter Magang: Yobel Nathania

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP