Google Tutup 210 Kanal YouTube Mencela Demo Hong Kong

Jumat, 23 Agustus 2019 17:16 Reporter : Merdeka
Google Tutup 210 Kanal YouTube Mencela Demo Hong Kong Logo YouTube. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Google kemarin mengumumkan layanan siaran langsung (live streaming) Youtube telah menutup 210 saluran yang diduga terlibat dalam operasi untuk mempengaruhi demo Hong Kong. Beberapa hari lalu Twitter dan Facebook mengatakan mereka telah menemukan kampanye serupa yang berasal dari China daratan.

"Penemuan ini konsisten dengan pengamatan dan tindakan terbaru terkait China yang diumumkan oleh Facebook dan Twitter," kata Shane Huntley, salah satu pemimpin keamanan Google, dalam sebuah kiriman di blog. Tapi dia tidak mengidentifikasi asal-usul saluran itu.

Dilansir dari laman Reuters, Jumat (23/8), Twitter dan Facebook Senin lalu mengatakan mereka telah menghapus saluran yang terlibat dalam upaya yang didukung China untuk mencela protes Hong Kong melalui unggahan yang menyebut para partisipasi berbahaya dan menjelek-jelekkan para ekstremis.

Demonstran Hong Kong menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Presiden China Xi Jinping sejak dia berkuasa pada 2012. Unjuk rasa di Hong Kong sudah berlangsung sejak Juni lalu sebagai bentuk penentangan terhadap RUU Ekstradisi yang sekarang ditangguhkan. RUU itu memungkinkan para aktivis diadili ke daratan China.

"Kami sangat prihatin dengan upaya Cina untuk memanipulasi opini publik dengan menyebarkan informasi keliru tentang situasi di Hong Kong," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat kepada Reuters.

Kedutaan China di Washington tidak merespons ketika diminta untuk berkomentar.
Misi China ke PBB mengirimkan Reuters tautan ke sebuah cerita dari media Partai Komunis yang berkuasa, People's Daily, yang mengatakan bahwa Twitter dan Facebook "menyalahgunakan kebebasan media" dalam menindak akun yang telah mengungkapkan kekerasan dalam protes tersebut.

Twitter, Facebook, dan Youtube, telah diblokir di China Daratan oleh pemerintah tetapi masih bisa diakses di Hong Kong.

Beberapa pengguna sosial media di Hong Kong telah mengunggah tangkapan layar selama dua minggu terakhir. Mereka mengatakan tangkapan layar itu menunjukkan iklan anti-protes dari media China Sentral Television atau CCTV muncul di Twitter dan Youtube. Iklan tersebut mengkritik para demonstrans di Hong Kong.

Pada tanggapannya, Twitter mengatakan pada Senin bahwa mereka tidak akan lagi menerima iklan dari berita yang dikontrol oleh negara.

Juru bicara Facebook Andy Stone mengatakan "kami terus melihat kebijakan kami karena mereka terkait dengan media milik negara."

Youtube juga mengatakan tidak berencana mengubah kebijakan iklannya.

Reporter Magang: Ellen RiVeren [pan]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini