Gara-gara film, aktris Deepika Padukone diancam dipancung
Merdeka.com - Aktris India, Deepika Padukone, dan sutradara Sanjay Leela Bhansali sedang dirundung masalah yang mengancam nyawa cuma gara-gara film. Sebab, ada sayembara berhadiah USD 1,5 juta (sekitar Rp 20,2 miliar) bagi siapa saja berhasil memancung kepalanya.
Sayembara itu diadakan oleh anggota partai sayap kanan India, Partai Bharatiya Janaya (BJP). Mereka menentang peluncuran dan pemutaran 'Padmavati' dianggap menghina umat Hindu.
"Kami akan memberi hadiah USD 1,5 juta bagi siapa saja yang bisa memancung kepala mereka, dan akan memenuhi kebutuhan keluarganya," kata Kepala Koordinator Media Dewan Pimpinan Daerah BJP Negara Bagian Haryana, Suraj Pal Amu, seperti dilansir dari laman Al Jazeera, Rabu (22/11).
Walau demikian, pimpinan pusat BJP sepertinya tidak sejalan. Mereka menyatakan tidak terlibat soal sayembara itu.
"Kami sudah mengirim surat peringatan kepada yang bersangkutan. Ada aturan hukum di Haryana dan tidak sembarang orang bisa menerbitkan sayembara," kata Juru Bicara BJP, Anil Jain.
Hanya saja kelompok Hindu garis keras tetap menentang pemutaran film 'Padmavati'. Mereka bahkan mengancam bakal membakar bioskop menayangkan film itu.
Menurut kelompok Hindu garis keras di India, jalan cerita film 'Padmavati' melenceng jauh dari sejarah. Menurut mereka, penggambaran tokoh Ratu Padmini dari Rajput (Rajasthan) dalam gilm berlatar belakang India abad ke-14 itu tidak tepat, sebab sang putri terlibat asmara dengan seorang raja yang beragama Islam.
Menurut sutradara Sanjay Leela Bhansali, film 'Padmavati' dibuat berdasarkan adaptasi dari kumpulan puisi karya penyair Malik Muhammad Jayasi pada abad ke-16. Karakter utama dalam karya sastra itu adalah Ratu Padmini, yang diceritakan nekat bunuh diri dengan terjun ke dalam kobaran api buat menjaga kehormatannya di depan Raja Alauddin Khilji merupakan seorang muslim. Sejumlah sejarawan India mengatakan tokoh Ratu Padmini fiktif, dan tidak ditemukan catatan kejadian bunuh diri itu atau hal lain yang bisa membuktikan keberadaannya.
"Di masa lalu tidak ada yang menuliskan kejadian itu. Menurut penulis sekaligus penasihat Raja Alauddin Khilji, Amir Khusrau, tokoh Padmavati tidak pernah ada. Tidak ada bukti sejarah menunjukkan keberadaan Padmavati. Syair ini hanya imajinasi, serta mencampurkan antara sejarah dan fiksi," kata pakar sejarah dari Universitas Jawaharlal Nehru, Profesor Aditya Mukherjee.
BJP juga mencoba melarang pemutaran film itu melalui jalur hukum. Mereka membawa permasalahan itu kepada Mahkamah Agung. Namun, Mahkamah Agung menyatakan menolak melarang penayangan film itu, dan mengembalikan keputusan akhir kepada Lembaga Sensor Film India (CBFC).
Padukone pun enggan menanggapi polemik film itu dan cuma bersedia berdebat di depan CBFC. Bahkan, karena khawatir dengan keselamatannya, Padukone akhirnya memutuskan tidak hadir dalam konferensi wirausaha dunia digelar di Kota Hyderabad. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya