Erdogan minta Saudi serahkan tersangka pembunuh Khashoggi ke Turki

Minggu, 2 Desember 2018 16:51 Reporter : Merdeka
Erdogan minta Saudi serahkan tersangka pembunuh Khashoggi ke Turki Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan istrinya Emine Erdogan. REUTERS/Umit Bektas TPX IMAGES OF THE DAY

Merdeka.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta Arab Saudi mengekstradisi para tersangka pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi agar mereka dapat diproses hukum di Turki.

Arab Saudi mendakwa 11 orang atas tuduhan terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Di sisi lain, Turki mengupayakan agar mereka diekstradisi, mengingat tempat kejadian perkara berlokasi di Istanbul.

Namun Saudi menolak proposal itu dengan berdalih bahwa Khashoggi tewas di dalam Konsulat Saudi di Istanbul --secara teknis, TKP itu merupakan wilayah administrasi Saudi.

Berbicara usai KTT G-20 di Buenos Aires, Argentina akhir pekan ini, Erdogan menekankan pentingnya para tersangka yang ditahan pemerintah Saudi diekstradisi untuk menghadapi pengadilan di Turki, demikian seperti dikutip dari BBC, Minggu (2/12).

Ia juga menuduh otoritas Saudi telah memberikan penjelasan yang tidak onsisten dan bohong tentang terbunuhnya Jamal Khashoggi, karena, mereka mengubah cerita dan menolak untuk berbagi informasi dengan penyelidikan Turki.

Erdogan menambahkan pembunuhan itu merupakan ujian bagi seluruh dunia, tetapi bersikeras dia tidak ingin merusak keluarga kerajaan Saudi.

Dia mengatakan penyelesaian pembunuhan itu akan menjadi kepentingan keluarga kerajaan Saudi.

Dalam kesempatan yang sama, Erdogan juga mengatakan, Turki memiliki bukti bahwa Jamal Khashoggi telah terbunuh selama tujuh setengah menit dan telah berbagi bukti itu dengan negara-negara yang telah memintanya.

Sebelumnya, Turki tengah mengupayakan agar PBB membuka penyelidikan atas kasus pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, jika investigasi gabungan Ankara-Riyadh mengalami kebuntuan, kata Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu.

Namun, di samping alasan itu, permintaan Cavusoglu agar PBB membuka penyelidikan juga dipicu oleh ketidakpuasannya terhadap komitmen Saudi dalam menyelidiki kematian kolumnis The Washington Post tersebut. Cavusoglu menilai, Saudi tak bersikap kooperatif dengan Turki dalam melakukan penyelidikan.

"Sampai saat ini, kami telah menerima tawaran Arab Saudi untuk bekerjasama dengan kami tanpa ragu. Namun, sampai saat ini, kami tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan yang baru saya sampaikan (terkait pemberi perintah pembunuhan Khashoggi). Maka, bisa dikatakan bahwa kerja sama ini tidak pada tingkat yang kami inginkan," kata Cavusoglu.

"Jika itu mengalami kebuntuan atau penyelidikan berjalan tanpa adanya kerja sama penuh, maka kita (Turki) dapat mengajukan permohonan agar PBB membuka penyelidikan," kata Cavusoglu yang menambahkan ia telah membicarakan peluang tersebut dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Cavusoglu juga mengatakan bahwa dia dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mendengarkan rekaman audio dari pembunuhan Khashoggi --yang mana rekaman itu telah disebarkan kepada pejabat tinggi negara Barat, termasuk AS.

"(Rekaman) itu sangat menjijikkan. Jika Anda mendengarkannya, Anda dapat memahami bahwa itu adalah pembunuhan terencana," katanya.

Reporter: Rizki Akbar Hasan

Sumber: Liputan6.com [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini