Eks Presiden Catalunya ogah pulang kalau proses dugaan makarnya tidak adil

Rabu, 1 November 2017 16:08 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Eks Presiden Catalunya ogah pulang kalau proses dugaan makarnya tidak adil Carles Puigdemont. ©REUTERS

Merdeka.com - Mantan Presiden Catalunya, Carles Puigdemont, nampaknya harap-harap cemas dengan nasibnya karena pemerintah Spanyol membidiknya dengan delik makar. Lelaki berkacamata itu pun beralasan 'terpaksa' lari ke Belgia dan enggan pulang jika proses hukum terhadap dia dan beberapa pengikutnya tidak adil.

Selasa kemarin, Puigdemont dan lima pengikutnya pergi ke Belgia buat minta bantuan hukum dari advokat kawakan setempat, Paul Beakert. Buat sampai ke Belgia, mereka dikabarkan harus melalui jalan darat menuju Kota Marseilles, Prancis, kemudian dari sana baru menumpang pesawat ke Brussel. Puigdemont beralasan dia dan pengikutnya pergi ke Belgia buat menghindari pemerintah Spanyol, dan mencari kebebasan serta keamanan.

"Kalau Spanyol menjamin kami dan saya terutama, sebuah proses hukum bebas dari campur tangan kekuasaan, maka kami akan kembali secepatnya. Namun, kami harus terus bekerja dan akan menentukan langkah selanjutnya pada Jumat malam mendatang," kata Puigdemont, seperti dilansir dari laman Associated Press, Rabu (1/11).

Meski demikian, nampaknya harapan Puigdemont mustahil terwujud. Pemerintah Spanyol sudah keburu murka dengan sikapnya. Bahkan Mahkamah Tinggi Spanyol sudah mengirim surat panggilan buat Puigdemont dan sejawatnya supaya hadir dalam sidang pemeriksaan rencananya digelar Kamis besok.

Mahkamah Tinggi Spanyol mulai memproses perkara dugaan pemberontakan dan menghasut disangkakan kepada Puigdemont dan 13 mantan anak buahnya, disusun oleh Kejaksaan Agung setempat. Belum diketahui apakah Puigdemont bakal memenuhi panggilan sidang. Dua anak buahnya turut menemaninya ke Belgia dikabarkan sudah kembali.

Hakim Mahkamah Tinggi Spanyol, Carmen Lamela, mengatakan Puigdemont dan 13 mantan anak buahnya bakal ditanyai seputar rencana mereka berujung pada deklarasi kemerdekaan pada 27 Oktober lalu, yang tidak diakui banyak pihak. Lamela juga memerintahkan 14 orang itu supaya membayar uang jaminan sebesar USD 7,2 juta (sekitar lebih dari Rp 97 triliun) sebagai pengganti anggaran negara dipakai membiayai jajak pendapat digelar 1 Oktober lalu. Jika tidak dibayar, maka pengadilan bakal menyita seluruh harta milik mereka.

Puigdemont dan tiga pengikutnya kini berdiam di hotel bintang tiga, Chambord, di Ibu Kota Brussel, Belgia. Tarif kamarnya semalam adalah USD 82 (sekitar Rp 1,1 juta). Walau tidak mewah-mewah amat, tetapi hotel itu punya jalur pelarian, yakni jalan terhubung langsung ke stasiun kereta bawah tanah. Awak media selalu bersiap menunggu di depan hotel ditinggali Puigdemont. Meski demikian, penjagaan dilakukan biasa saja.

Rencana Puigdemont hingga kini juga belum jelas. Apalagi dia mengaku tidak berniat mencari suaka di Belgia.

Di masa lalu, Bekaert juga pernah menangani perkara orang-orang Spanyol dalam pengasingan terlibat dalam gerakan pemberontak Euskadi Ta Askatasuna (ETA), bertujuan memerdekakan Negara Bagian Basque. Namun, Bekaert menyarankan supaya Puigdemont tidak buru-buru kembali dan memenuhi panggilan supaya hadir dalam sidang pemeriksaan Kamis besok.

"Dari yang saya amati saat ini, saya melihat sepertinya dia (Puigdemont) belum bisa pulang dalam beberapa pekan ke depan," kata Bekaert

Jaksa Agung Spanyol, Jose Manuel Maza, menyatakan mereka sedang mempersiapkan berkas perkara buat Puigdemont dan sejumlah mantan pejabat Negara Bagian Catalunya. Dia menyatakan, mereka bakal dijerat delik pemberontakan, menghasut, dan penyelewengan anggaran negara buat menggelar jajak pendapat menentukan kemerdekaan dari Spanyol. Apabila terbukti, maka Puigdemont terancam dipenjara maksimal 30 tahun.

Puigdemont dan bekas wakilnya, Oriol Junqueras, menolak semua tuduhan dan masih menganggap mereka sebagai pemimpin sah Negara Bagian Catalunya. Meski demikian, partai politik mereka, PdeCat dan Esquerra Republicana de Catalunya, menyatakan bakal ikut dalam pemilihan umum digelar 21 Desember mendatang.

Kehendak Catalunya yang ingin merdeka juga tidak disambut oleh dunia. Sejumlah negara di Eropa hingga Amerika Serikat, dan Uni Eropa, justru mendukung Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, buat meredam gejolak itu. Namun, mereka mendesak supaya mendahulukan dialog ketimbang tindakan keras seperti mengirim pasukan.

Pemerintah Belgia juga menolak memberi perlakuan istimewa kepada Puigdemont. Perdana Menteri Charles Michel mengatakan Puigdemont akan diperlakukan sama dengan warga Eropa lainnya.

"Dia punya hak dan kewajiban yang sama. Tidak kurang, tidak lebih," kata Michel.

Pernyataan Wakil PM Belgia, Kris Peeters, malah lebih keras lagi. Dia mengatakan, "Kalau Anda mendeklarasikan kemerdekaan, sebaiknya tinggal bersama rakyat Anda". [ary]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini