Dokter Swedia sebut video serangan gas kimia di Suriah palsu

Senin, 10 April 2017 07:08 Reporter : Pandasurya Wijaya
serangan gas di suriah. ©2017 REUTERS

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump Jumat lalu memerintahkan militer AS menyerang pangkalan udara Suriah dengan meluncurkan 50 rudal tomahawk. Keputusan itu dipicu setelah peristiwa serangan gas kimia di Kota Khan Sheikhun, Provinsi Idlib, Suriah pekan lalu yang menewaskan puluhan warga sipil.

Tak lama setelah peristiwa itu terjadi beredarlah rekaman video dan foto-foto korban sipil serangan gas kimia di dunia maya. Video yang memperlihatkan aktivis pegiat kemanusiaan White Helmets tengah menolong para korban itu beredar viral.

Lewat pemberitaan media arus utama negara Barat macam CNN, Reuters, BBC, Daily Mail dan seterusnya, militer Suriah dituding pelaku serangan gas kimia itu meski tanpa bukti memadai. Dunia internasional mengutuk serangan gas kimia itu dan Trump pun mengecam Presiden Suriah Basyar al-Assad hingga akhirnya memutuskan menyerang Suriah dengan rudal meski sekali lagi tanpa bukti sahih.

Namun tidak seluruh dunia mengecam Assad dan militer Suriah, kelompok dokter menamakan diri Dokter Swedia untuk Hak Asasi atau Swedish Doctors For Human Right (swedhr.org) menganalisis video korban serangan gas kimia yang menjadi alasan Trump menyerang Suriah itu.

serangan gas di suriah ©2017 REUTERS




Dikutip dari laman Veterans Today pekan lalu, para dokter menemukan video itu dibuat-buat alias palsu dan bahkan terdengar instruksi dalam bahasa Arab yang menyuruh anak-anak korban serangan gas itu posisinya diatur untuk keperluan rekaman video bukan untuk perawatan.

SWDHR bahkan jelas-jelas menyebut justru para dokter pegiat kemanusiaan White Helmets itu adalah pembunuh anak-anak di dalam video tersebut.

Tim dokter SWDHR selanjutnya mengatakan, setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata bocah di video itu pingsan karena overdosis candu/opium. Video juga memperlihatkan seorang bocah disuntik di bagian dada di dekat jantung dan akhirnya tewas ketika suntikan berisi cairan palsu itu masuk ke tubuhnya.

Analisis para dokter SWDHR menyatakan video itu dimaksudnya memperlihatkan penyelamatan akibat serangan gas kimia beracun, termasuk suntikan dengan jarum panjang ke bagian jantung seorang bocah. Itu bukan cara penangan korban serangan gas kimia yang benar.

"Cara penanganan terhadap bocah itu sangat sembrono dan membahayakan sehingga bisa menyebabkan luka serius," kata SWDHR.

"Petugas medis berkali-kali menyuntik ke arah jantung dan pada saat ini bisa kita sebut mereka adalah aktor. Saat itu mereka gagal menyuntik dengan benar menggunakan jarum panjang seperti yang terlihat jelas di video."

serangan gas di suriah ©2017 REUTERS




"Hasil dari diagnosa secara kasat mata terhadap video oleh para dokter ahli betulan," kata SWDHR, "mengindikasikan si bocah menderita karena kecanduan opium. Tidak terlihat bukti dia terkena gas kimia dari sejak awal video White Helmets itu."

"Selain itu, dalam teks terjemahan video itu yang dipalsukan, terdengar ucapan dalam bahasa Arab yang menyuruh bocah itu diposisikan sesuai keperluan pembuatan video, bukan untuk penanganan medis."

[pan]

Topik berita Terkait:
  1. Konflik Suriah
  2. Suriah
  3. Swedia
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.