Dari Penjara ke Perdana Menteri, Sang Reformis Akhirnya Jadi Pemimpin Baru Malaysia

Kamis, 24 November 2022 16:10 Reporter : Hari Ariyanti
Dari Penjara ke Perdana Menteri, Sang Reformis Akhirnya Jadi Pemimpin Baru Malaysia Anwar Ibrahim. merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim akan dilantik menjadi perdana menteri baru negeri jiran itu pada Kamis (24/11) sore ini. Anwar telah menantikan jabatan ini selama tiga dasawarsa.

"Ini yang Anda perlu belajar dari Anwar Ibrahim - kesabaran, menunggu dalam waktu lama, kesabaran," jelasnya kepada wrtawan di rumahnya sehari setelah pemilu pekan lalu, dikutip dari Reuters.

Koalisi Anwar Ibrahim mendapatkan suara terbesar di parlemen, namun gagal mengantongi suara mayoritas yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintah. Akhirnya Raja Malaysia yang memilih siapa yang berhak menduduki kursi PM.

Kebuntuan politik akhirnya berakhir hari ini, ketika Raja Malaysia Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah menunjuk Anwar (75) sebagai PM.

Berkali-kali Anwar gagal mendapatkan kursi PM, kendati kesempatan itu sangat dekat. Dia pernah sebagai wakil perdana menteri pada 1990-an dan kemudian, sebagai calon perdana menteri resmi, pada 2018.

Di sela-sela itu, dia menghabiskan hampir satu dekade di penjara karena kasus sodomi dan korupsi, yang menurutnya semua tuduhan itu bermotif politik.

Pemimpin oposisi paling karismatik yang pernah ada di negara Asia Tenggara, Anwar memimpin puluhan ribu orang Malaysia dalam protes jalanan pada 1990-an melawan mentornya yang berubah menjadi musuh Mahathir Mohamad.

Mahathir pernah menyebut Anwar sebagai teman dan anak didiknya, dan mengangkatnya sebagai penggantinya. Namun kemudian, di tengah tuduhan sodomi dan perbedaan pendapat tentang bagaimana menangani krisis keuangan Asia, dia mengatakan Anwar tidak layak memimpin "karena karakternya".

Pada 2018, hubungan keduanya membaik dan berkongsi menggulingkan kekuasaan aliansi politik yang pernah mereka dukung, namun kemudian berselisih lagi dalam waktu dua tahun, mengakhiri pemerintahan mereka yang berusia 22 bulan dan menjerumuskan Malaysia ke dalam periode ketidakstabilan.

Sebagai pemimpin oposisi - baik dari penjara maupun di parlemen - Anwar perlahan menggerogoti kekuatan aliansi Barisan Nasional, koalisi penguasa terpanjang Malaysia yang memprioritaskan kepentingan mayoritas Melayu.

Seruannya tentang 'reformasi' bergema di seluruh negeri, dan masih menjadi janji utama aliansinya.

Koalisi itu multi-etnis dan mencakup partai yang sebagian besar beranggotakan etnis Tionghoa dan partai yang tidak populer di kalangan mayoritas Melayu konservatif.

Selama puluhan tahun, Anwar menyerukan inklusivitas dan perombakan sistem politik di negara multietnis itu.

Dia menyerukan penghapusan kebijakan afirmatif yang mendukung orang Melayu dan diakhirinya sistem patronase yang membuat Barisan tetap berkuasa sampai saat ini.

Kawan dan Musuh

Karier politik Anwar dimulai sebagai pemimpin pemuda Islam sebelum bergabung dengan Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) pimpinan perdana menteri Mahathir, yang memimpin aliansi Barisan Nasional.

Pada 1993, Mahathir mengangkat Anwar sebagai wakilnya, selain sebagai menteri keuangan. Anwar diperkirakan akan menggantikan Mahathir sebagai PM.

Tapi keduanya berselisih setelah tidak sepakat tentang bagaimana menangani krisis keuangan Asia. Saat itu, Anwar juga mulai mempertanyakan korupsi di UMNO pimpinan Mahathir.

Pada 1998, Mahathir memecat Anwar. Anwar didakwa melakukan sodomi, yang menurut Anwar bertujuan untuk mengakhiri karir politiknya.

Anwar hadir dalam persidangan sodomi dengan mata lebam, yang kemudian menjadi simbol partai politik yang dirintisnya. Belakangan, Kapolres saat itu mengaku telah menganiaya Anwar di penjara.

"Orang ini tidak bisa dibiarkan menjadi pemimpin di negara seperti Malaysia," kata Mahathir soal Anwar pada konferensi pers tahun 1998.

Anwar dibebaskan pada 2004, namun dipenjara lagi karena sodomi pada 2015, dua tahun setelah memimpin oposisi.

Oposisi memenangkan suara populer untuk pertama kalinya, meskipun tidak mendapatkan mayoritas parlemen, setelah bertahun-tahun secara bertahap memperoleh dukungan.

2 dari 2 halaman

Percobaan terakhir?

rev1

Anwar dan Mahathir setuju untuk berkoalisi pada pemilu 2018, untuk menggulingkan Barisan Nasional di tengah tuduhan korupsi yang meluas terhadap para pemimpinnya.

Najib Razak dari Barisan Nasional dipenjara dalam skandal korupsi miliaran dolar yang disebut skandal 1MDB.

Setelah kemenangan mereka, Mahathir meminta pengampunan kerajaan untuk Anwar dan berjanji untuk menyerahkan kekuasaan kepadanya dalam waktu dua tahun. Tapi koalisi mereka pecah sebelum dua tahun.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan Reuters, Anwar mengatakan dia tahu batasannya, ketika ditanya apakah pemilihan ini akan menjadi yang terakhir baginya.

"Apakah saya dianggap relevan atau tidak dalam beberapa tahun ke depan, itu hak rakyat yang menentukan," katanya.

Dengan suara rakyat dan pilihan raja, dia akhirnya menjadi perdana menteri. [pan]

Baca juga:
Anwar Ibrahim Jadi Perdana Menteri Baru Malaysia
Muhyiddin Yassin Tolak Permintaan Raja Malaysia Agar Berkoalisi dengan Anwar Ibrahim
Raja Malaysia Akan Tentukan Anwar Ibrahim atau Muhyiddin Yassin sebagai PM Baru
Sederet Nama yang Bersaing Memperebutkan Kursi Perdana Menteri Malaysia
Tolak Seruan Najib Razak Dukung Anwar Ibrahim, UMNO Setia Dukung PM Muhyiddin
Polisi Malaysia Periksa Anwar Ibrahim Terkait Klaim Dukungan Jadi Perdana Menteri
Bertemu Raja Malaysia, Anwar Ibrahim Serahkan Klaim Dukungan Mayoritas Parlemen

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini