China Ancam Rebut Taiwan Dengan Kekerasan

Kamis, 3 Januari 2019 11:06 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
China Ancam Rebut Taiwan Dengan Kekerasan Presiden China Xi Jinping. ©2013 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Presiden China Xi Jinping mendesak rakyat Taiwan untuk menerimanya 'harus dan akan' dipersatukan kembali dengan China.

Dalam pidatonya yang menandai 40 tahun sejak dimulainya peningkatan hubungan, Xi mengulangi seruan Beijing untuk penyatuan damai atas dasar 'satu negara dua sistem'. Namun, ia juga memperingatkan bahwa China memiliki hak untuk menggunakan kekerasan.

Sementara Taiwan memerintah sendiri dan secara de facto merdeka, Taiwan tidak pernah secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan dari daratan.

Beijing menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan komentar Xi ini sejalan dengan kebijakan lama China menuju penyatuan kembali.

Tetapi pada hari Rabu, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan, pulau itu tidak akan pernah menerima penyatuan kembali dengan China berdasarkan persyaratan yang ditawarkan oleh Beijing.

"Saya ingin menegaskan kembali bahwa Taiwan tidak akan pernah menerima 'satu negara, dua sistem'. Mayoritas opini publik Taiwan juga dengan tegas menentang 'satu negara, dua sistem', dan ini juga merupakan 'konsensus Taiwan'," kata Tsai dikutip dari BBC.com, Kamis (3/1).

Di bawah formula 'satu negara, dua sistem', Taiwan akan memiliki hak untuk menjalankan urusannya sendiri; pengaturan serupa digunakan di Hong Kong.

Hong Kong memiliki sistem hukumnya sendiri, dan hak-hak termasuk kebebasan berkumpul dan kebebasan berbicara dilindungi. Namun, ada kekhawatiran yang meluas di wilayah itu bahwa kebebasan-kebebasan itu secara bertahap terkikis.

Dalam pidatonya pada hari Rabu, Presiden Xi mengatakan, kedua belah pihak adalah bagian dari keluarga China yang sama dan bahwa kemerdekaan Taiwan adalah 'arus yang merugikan dari sejarah dan jalan buntu'.

Orang Taiwan "Harus memahami bahwa kemerdekaan hanya akan membawa kesulitan," kata Xi, seraya menambahkan Beijing tidak akan pernah mentolerir segala bentuk kegiatan yang mempromosikan kemerdekaan Taiwan.

Sebaliknya, penyatuan adalah "persyaratan yang tak terhindarkan untuk peremajaan besar orang-orang China," kata Xi.

Dia juga menekankan, hubungan dengan Taiwan adalah "bagian dari politik dalam negeri China. Campur tangan asing tidak dapat ditoleransi," katanya.

Beijing memiliki pilihan untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan terhadap pasukan luar yang mengganggu penyatuan kembali secara damai dan kegiatan separatis Taiwan.

Apa pandangan di Taiwan?

Dalam pidato tahun baru pada hari Selasa, Tsai mengatakan, China harus menggunakan cara damai untuk menyelesaikan perbedaannya dengan Taiwan dan menghormati nilai-nilai demokrasi.

"Saya ingin menyerukan kepada China untuk secara jujur menghadapi kenyataan keberadaan Republik Tiongkok di Taiwan," kata Tsai, merujuk pada nama resmi pulau itu.

China harus "Menghormati desakan 23 juta orang tentang kebebasan dan demokrasi, dan harus menggunakan cara yang damai dan setara untuk menangani perbedaan kita," tambah Tsai.

Pada bulan November, partai politik Ms Tsai melihat kemunduran besar dalam pemilihan regional yang dirasakan oleh Beijing sebagai pukulan terhadap sikap separatisnya. [rnd]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. China
  3. Taiwan
  4. Jakarta
  5. Xi Jinping
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini