Bukan Tarantula, Ini Spesies Laba-Laba Paling Mematikan dan Berbisa
Merdeka.com - Hampir semua dari 43.000 spesies laba-laba yang diketahui di Bumi ini berbisa. Namun dari semuanya, hanya 25 spesies yang diketahui pernah membunuh atau menyebabkan sakit parah pada manusia.
Laba-laba spesies apa yang paling mematikan?
Laba-laba paling mematikan adalah laba-laba jaring corong (Atrax), laba-laba punggung merah dan black widow (Latrodectus), laba-laba pisang dan pengelana (Phoneutria), dan laba-laba pertapa (Loxosceles).
Tetapi walaupun mereka termasuk laba-laba mematikan, dengan bisa ampuh dan taring yang tajam, secara khusus tidak berbahaya bagi manusia. The American Association of Poison Control Centers (AAPCC) menelusuri hanya ada satu kematian yang disebabkan gigitan laba-laba di Amerika Serikat pada 2021.
Australia, rumah bagi beberapa laba-laba paling berbisa di dunia, belum melaporkan stau kasus kematian akibat gigitan laba-laba sejak 1980-an.
"Sangat jarang bertemu laba-laba yang mematikan," kata pensiunan peneliti yang berasosiasi dengan Departemen Entomologi Universitas California, Rick Vetter, dikutip dari Live Science, Selasa (16/5).
Atrax yang berasal dari Australia dan berada di urutan teratas laba-laba paling mematikan bisa membunuh dalam hitungan menit karena bisanya yang sangat beracun.
"Laba-laba jaring corong (Atrax robustus) dari Sydney bisa membunuh seorang balita dalam lima menit dan anak lima tahun dalam dua jam," jelas Vetter kepada Live Science.
Walaupun belum ada kasus kematian karena gigitan Atrax sejak 1980-an, sulit membayangkan seorang balita mendapatkan pengobatan segera untuk sembuh dari gigitan laba-laba ini.
Phoneutria berasal dari Brasil dan merupakan laba-laba dengan bisa paling aktif. Namun bisanya bekerja relatif lambat sehingga orang yang kena gigitannya bisa punya waktu untuk diobati.
Laba-laba Loxosceles ditemukan di AS. Gigitannya menyakitkan dan bisa menyebabkan demam. Butuh waktu berbulan-bulan untuk sembuh. Namun laba-laba jenis ini sangat jarang menyebabkan kematian.
Latrodectus adalah laba-laba yang lebih sering menggigit manusia daripada Atrax.
"Sejumlah kematian manusia setiap tahun dikaitkan dengan laba-laba," ujar Rod Crawford, kurator arakhnida di Museum Burke di Universitas Washington di Seattle.
"Namun, dari sudut pandang ilmiah, hampir tidak ada atribusi yang berbasis bukti."
The Australian Museum mengklaim sekitar 2.000 orang digigit laba-laba punggung merah setiap tahun dan obat antibisa untuk mengobati gigitan laba-laba ini diberikan kepada 100 pasien sejak 1980.
Laporan tahunan AAPCC menelusuri sekitar 3500 gigitan laba-laba di AS pada 2021, di mana sekitar 40 merupakan kasus parah yang butuh pertolongan medis. Sembilan dari 40 kasus itu dikaitkan dengan laba-laba black widow; 29 kasus dan satu kasus kematian dikaitkan dengan laba-laba pertapa coklat.
Tidak ada kasus kematian akibat gigitan laba-laba pada 2020 dalam laporan AAPCC, yang menemukan tujuh kasus parah gigitan black widow dan 23 kasus parah gigitan laba-laba pertapa coklat.
Artinya, laba-laba paling mematikan pada kenyatannya tidak begitu mematikan.
"Pada kenyataannya, laba-laba berada jauh di bawah daftar hal-hal yang perlu dikhawatirkan," pungkas Vetter.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya