Bayi delapan bulan asal Palestina tewas kena gas air mata tentara Israel

Rabu, 16 Mei 2018 20:11 Reporter : Pandasurya Wijaya
laila anwar ghandur. ©AFP

Merdeka.com - Seorang bayi delapan bulan asal Palestina bernama Laila Anwar Ghandur tewas karena menghirup gas air mata ketika terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dengan tentara Israel di perbatasan Jalur Gaza kemarin.

Dilansir dari laman Aljazeera, Selasa (15/5), menurut Kementerian Kesehatan Gaza, Palestina, bayi itu tewas di rumah sakit kemarin pagi. Lebih dari 60 warga Palestina tewas ditembak tentara Israel dalam unjuk rasa memperingati 70 tahun Hari Nakba (Bencana), hari ketika sekitar 800 ribu warga Palestina diusir dari tanahnya oleh tentara Israel pada 15 Mei 1948 bertepatan dengan berdirinya negara itu.

Laila menjadi korban tewas termuda dalam unjuk rasa kemarin. Dia berada dalam dekapan bibinya sekitar beberapa ratus meter dari perbatasan Israel usai terkena gas air mata.

laila anwar ghandur Twitter



"Tentara Israel melepaskan tembakan gas air mata banyak sekali. Saya berada jauh dari pagar pembatas tapi saya lari karena takut sekali," ujar Falsteen Al Jamal, 36 tahun, kepada The National.

Menurut LSM Palestina, Jaringan Palestina untuk Dialog, Laila tinggal bersama keluarganya di Distrik al-Shati, sebelah barat Gaza.

Para aktivis pembela hak asasi kemarin menyebarkan foto keluarga Laila yang berduka seraya menyampaikan salam perpisahan kepada bayi malang itu.

laila anwar ghandur Twitter



Gas air mata bisa membuat efek rasa terbakar pada mata orang dewasa dan bisa mematikan bagi bayi.

Tubuh Laila membiru setelah dia menghirup gas itu. Dia dinyatakan tewas bahkan sebelum tiba di rumah sakit.

"Mereka (petugas medis) tidak bisa menyelamatkannya," kata Jamal.

Di saat-saat terakhir bersama putrinya, sang ayah, Anwar Ghandur, mendekap buah hatinya itu sambil berurai air mata.

"Kenapa kau meninggalkanku?" kata sang ayah berusia 25 tahun itu.

Hari ini sepuluh perempuan mengelilingi Mariam Abu Ghandur, ibu Laila, ketika bayi malang itu akan dimakamkan.

Mariam yang berpakaian kerudung hitam bersimpuh di dekat sebuah liang lahad kecil tempat peristirahatan terakhir putri kesayangannya. Dua tahun lalu dia juga kehilangan bayi laki-lakinya karena tersedak saat sedang menyusu.

Anwar mengatakan kepada jasad putrinya, dia akan bertemu kakaknya di surga. Mariam masih terguncang.


laila anwar ghandur Twitter



Paman Laila yang berusia 13 tahun membawa bayi itu ke dekat perbatasan naik bus karena menduga keluarganya yang lain juga sedang berada di sana ikut berunjuk rasa. Padahal ibu Laila saat itu sedang ke dokter gigi.

"Saya tidak sanggup berkata-kata. Adik saya membawa Laila ke perbatasan tanpa sepengetahuan saya. Ketika saya tahu, saya langsung mengejar secepatnya. Saya menemukannya sudah di ambulans dalam keadaan meninggal. Mereka (petugas medis) berusaha menyelamatkannya tapi kemudian mereka bilang dia sudah meninggal," ujar Mariam berlinang air mata. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini