Aura Kasih menceritakan pengalamannya sebagai orang tua tunggal setelah bercerai dari Eryck Amaral. Selama enam tahun, ia membesarkan anaknya sendiri tanpa kehadiran suami.
Menjalani peran ganda sebagai ibu dan ayah bukanlah hal yang mudah, namun Aura mengaku sudah terbiasa dengan keadaan ini karena sudah dimulai sejak anaknya masih bayi.
"Seperti apa, ya gampang-gampang susah, sih. Tapi kan kita harus mengalaminya. Ya aku dari dia umur 8 bulan udah sendiri. Aku nggak terlalu risau untuk jalaninnya. Tapi itu gampang-gampang susah, sih," ungkap Aura Kasih di Pengadilan Agama Jakarta Selatan pada Selasa (9/12).
Ketika ditanya tentang tanggung jawab finansial atau nafkah dari Eryck Amaral, Aura menjawab dengan tenang. Ia tidak ingin mempermasalahkan ketidakhadiran dukungan finansial dari mantan suaminya, karena merasa Tuhan telah memberinya kecukupan yang lebih.
"Nafkah? Ya, kebetulan karena mungkin saya ada rezeki lebih, ya, semuanya bisa dicukupi," ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa tidak ada lagi komunikasi yang terjalin dengan Eryck sejak perceraian mereka. Aura dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada lagi interaksi atau obrolan antara dirinya dan ayah anaknya.
"Saya udah nggak ngobrol, Mas," tegasnya.
Advertisement
Aura Kasih tetap menjaga saluran komunikasi terbuka
Walaupun begitu, Aura tetap memberikan kesempatan bagi anaknya untuk berhubungan dengan ayahnya. Ia mengakui bahwa frekuensi komunikasi antara anak dan ayah kandungnya sangat rendah, bahkan bisa dibilang tidak ada momen istimewa di antara keduanya.
"Kadang-kadang, sih, ya (komunikasi anak). Lewat keluarga, sih. Kadang-kadang banget," jelas Aura.
Advertisement
Aura Kasih tidak meminta nafkah
Aura Kasih tidak merasa perlu untuk menuntut atau mempertanyakan tanggung jawab nafkah anak dari mantan suaminya. Ia berpegang pada prinsip bahwa selama ia masih mampu bekerja dan mandiri, ia tidak akan meminta tanggung jawab yang seharusnya diberikan tanpa diminta.
"Nggak, sih. Saya juga nggak minta dan dia nggak ngasih dan saya juga tidak mempertanyakan. Ya, kalau saya sih berpikir, ya dapat kerjaan lebih dari Allah, ya apa pun, ya kita lakukan sendiri aja. Nanti memang masih bisa," ucap wanita berusia 38 tahun ini.
Menurutnya, penting untuk tetap fokus pada upaya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Aura percaya bahwa dengan usaha yang keras, segala sesuatu akan terwujud dengan baik. Ia lebih memilih untuk menjalani hidupnya dengan cara yang positif dan optimis, tanpa harus bergantung pada bantuan dari mantan suaminya. Dengan cara ini, ia merasa lebih kuat dan berdaya dalam menghadapi tantangan hidup.
Advertisement
Aura Kasih lebih memilih pendekatan yang realistis
Aura menyadari bahwa mencari nafkah merupakan tanggung jawab seorang ayah. Namun, ia juga harus melihat dengan realistis kondisi dan kesediaan mantan suaminya. Alih-alih terus memikirkan hal yang tidak pasti, ia memilih untuk menjalani hidupnya dan lebih fokus pada kebahagiaan putrinya.
"Gimana, ya, kewajiban ya harus sebenarnya. Namanya juga ayah. Tapi, kan, balik lagi. Kesediaannya, kemauannya, atau kesediaannya itu ada nggak. Jadi mengalir aja, lah. Selama aku masih bisa, ya mungkin dianya nggak mau, nggak punya atau apa kan kita nggak pernah tahu," ucap Aura Kasih.