Indonesian Dangdut Awards (IDA) 2025 memberikan penghargaan tertinggi kepada para pelaku musik dangdut yang telah berkomitmen untuk menjaga keberlangsungan irama Melayu di Indonesia. Salah satu penerima penghargaan tersebut adalah Camelia Malik, seorang ikon dalam dunia dangdut yang telah berkarya selama beberapa dekade.
Pencapaian ini bukanlah hasil yang instan bagi Camelia Malik, yang telah merasakan liku-liku industri hiburan sejak masih muda. Dengan konsistensi dalam menciptakan banyak lagu hits dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, Camelia Malik berhasil tetap relevan dan dihormati oleh generasi dangdut saat ini.
Setelah menerima penghargaan, Camelia Malik menyatakan bahwa penghargaan yang diterimanya merupakan hasil dari kerja keras kolektif yang panjang. Ia juga menyampaikan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberinya jalan dalam dunia seni.
"Ini bentuk perhatian, kasih sayang, lalu kerja keras bersama-sama sama rekan-rekan seprofesi. Dari awal saya masuk ke belantika musik dangdut sampai hari ini, sudah puluhan tahun begitu. Bahagia banget, bersyukur kepada Allah yang memberikan banyak nikmat dan bakat seni untuk saya," ungkap Camelia Malik usai menerima penghargaan di Studio 5 Entek City, Daan Mogot, Jakarta Barat, pada tanggal 4 Desember 2025.
Advertisement
Terima kasih kepada Indosiar
Camelia Malik mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Indosiar yang selalu memberikan panggung megah bagi para pedangdut. Ia berharap dukungan dari industri penyiaran ini akan terus mendorong perkembangan musik dangdut hingga dapat dikenal secara global. "Terima kasih untuk Indosiar yang terus setia, membina dangdut terus dan mudah-mudahan nanti benar-benar go internasional. Jadi mantap banget, gitu ya," ujar Camelia Malik menambahkan.
Menurut Camelia, keberadaan Indosiar sangat penting dalam memberikan ruang bagi musisi dangdut untuk tampil dan berkarya. Dengan dukungan yang konsisten, ia percaya bahwa musik dangdut akan semakin maju dan mencapai audiens yang lebih luas di seluruh dunia. "Terima kasih untuk Indosiar yang terus setia, membina dangdut terus dan mudah-mudahan nanti benar-benar go internasional. Jadi mantap banget, gitu ya," imbuhnya.
Advertisement
Kebahagiaan sering kali disertai dengan kesedihan
Namun, perasaan bahagia itu disertai dengan rasa haru yang mendalam dalam hati Camelia Malik. Meskipun ia tersenyum lebar saat memegang piala, pikirannya tetap tertuju pada saudara-saudara sebangsa yang sedang menghadapi musibah bencana alam. Sebagai seorang penyanyi yang sering berkeliling Indonesia untuk tampil, Camelia merasa memiliki hubungan emosional yang kuat dengan masyarakat di daerah-daerah tersebut. Ia menyadari bahwa di tengah kesedihan yang mendalam, hiburan musik mungkin belum cukup untuk menyembuhkan luka hati para korban.
“Jadi malam ini bahagia tapi ada sedihnya. Sedih karena sebagian dari daerah yang ada di Tanah Air lagi kena musibah. Sumatera Barat, Aceh, di mana tempat itu dulu saya ikut juga bernyanyi, menghibur. Tapi malam ini saya rasa musik ataupun apa pun tidak akan mampu membuat mereka bahagia,” ungkap Camelia Malik. Dalam pandangannya, meskipun momen tersebut adalah saat yang membahagiakan bagi dirinya, ia tetap merasakan beban emosional yang berat ketika memikirkan penderitaan orang lain.
Advertisement
Semoga bencana segera berlalu
Camelia Malik mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersatu dan memberikan bantuan kepada para korban yang terkena dampak bencana. Ia menekankan betapa pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam memberikan bantuan yang tulus agar para korban dapat segera pulih.
Dalam pernyataannya, Camelia Malik menyatakan, "Saya ikut prihatin, mendoakan mudah-mudahan musibah ini cepat berlalu dan pemerintah bisa tanggap membantu dan memberi bantuan secara ikhlas, tulus, bersama seluruh rakyat Indonesia. Saya yakin badai pasti berlalu, insyaallah," pungkas Camelia Malik. Dengan harapan ini, ia berharap agar semua elemen masyarakat dapat bersatu padu dalam menghadapi masa sulit ini dan memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan.