Setelah beberapa tahun vakum dari dunia perfilman Hollywood, Angelina Jolie akhirnya kembali tampil di layar lebar melalui film “Maleficent”. Dalam film ini, ia memerankan tokoh penyihir yang dikenal jahat dan memberikan kutukan kepada putri raja. Sejak pertama kali diumumkan, proyek ini langsung mencuri perhatian publik karena poster promosinya menonjolkan pesona ikonik Angelina Jolie.
Kembalinya Jolie dalam peran besar membuat film ini semakin dinantikan para pecinta film di seluruh dunia. Sosok Maleficent yang digambarkan dengan karakter kuat, kelam, namun emosional, menjadi daya tarik tersendiri. Transformasi visual, tata rias, serta penggambaran ulang kisah klasik “Sleeping Beauty” turut menambah rasa penasaran penonton.
Saat ini, “Maleficent” masih tayang di berbagai bioskop Indonesia dan terus menarik minat penonton. Jika Anda belum sempat menontonnya, ada baiknya mengenal lebih dulu sejumlah fakta menarik seputar film tersebut. Informasi ini dapat memberikan gambaran tentang keunikan cerita dan proses di balik layar sebelum Anda menikmati filmnya secara langsung.
Advertisement
Proses casting pemainnya dicocokkan dengan karakter kartun
Untuk mendapatkan pemeran yang benar-benar tepat, sutradara “Maleficent”, Robert Stromberg, menggunakan metode casting yang tidak biasa. Ia menjadikan karakter-karakter dalam kartun “Sleeping Beauty” sebagai acuan utama. Artinya, para aktor dan aktris dipilih berdasarkan kemiripan fitur wajah dan postur tubuh dengan karakter asli dalam versi animasi.
Selain mempertimbangkan kemiripan fisik, Stromberg juga menilai sikap, profesionalisme, serta rekam jejak para aktor di industri Hollywood. Faktor ini penting karena ia menginginkan pemeran yang tidak hanya cocok secara visual, tetapi juga mampu menangani peran dengan kedewasaan dan komitmen tinggi.
Menurut Stromberg, pendekatan menyeluruh seperti ini memungkinkan dirinya menemukan kandidat yang paling pas untuk setiap karakter. Dengan kombinasi antara kemiripan tokoh animasi dan kualitas pribadi, ia percaya hasil akhir akan terasa lebih autentik dan memuaskan bagi penonton.
Advertisement
Make-up Angelina Jolie terinspirasi dari Lady Gaga "Born This Way"
Produser “Maleficent” benar-benar ingin memaksimalkan pesona Angelina Jolie sebagai daya tarik utama film. Karena itu, tim tata rias bekerja keras untuk menemukan konsep make-up yang mampu menonjolkan sisi jahat dan kejam karakter Maleficent, tanpa menghilangkan kecantikan khas Angelina. Pendekatan ini dianggap penting untuk menciptakan karakter yang kuat sekaligus memikat secara visual.
Setelah melalui berbagai percobaan, tim make-up akhirnya mendapatkan inspirasi dari gaya Lady Gaga dalam era “Born This Way”. Dari sinilah lahir tampilan ikonik Maleficent, khususnya pada bagian tulang pipi yang dibuat sangat runcing dan tinggi. Modifikasi wajah tersebut memberikan kesan tajam, dingin, dan sedikit mengintimidasi—tepat seperti karakter yang ingin ditampilkan.
Selain itu, penggunaan lipstik merah dipilih untuk memperkuat kesan misterius sekaligus keji. Warna tersebut memberikan kontras yang dramatis pada wajah Maleficent, membuat tampilannya semakin mencuri perhatian. Kombinasi make-up unik inilah yang akhirnya menjadi salah satu elemen visual paling berkesan dalam film tersebut.
Advertisement
Menjadi film termahal untuk sebuah debut sutradara baru
Robert Stromberg sebenarnya bukan nama baru di industri perfilman Hollywood, terutama dalam proyek-proyek besar milik Disney. Namun, “Maleficent” merupakan debutnya sebagai sutradara film layar lebar. Karena reputasinya sebagai sutradara masih tergolong baru, banyak pihak terkejut ketika film pertamanya justru digarap dengan anggaran yang sangat besar.
Besarnya budget tersebut bahkan melampaui biaya produksi “TRON: LEGACY”, salah satu film termahal Hollywood pada masanya. Hal ini membuat kalangan sineas semakin penasaran apakah investasi besar tersebut akan sepadan dengan hasilnya. Keputusan Disney mempercayakan proyek berskala besar kepada sutradara debutan pun menjadi sorotan tersendiri.
Sementara itu, “TRON: LEGACY” diketahui tidak memenuhi ekspektasi dan dianggap gagal di pasar Amerika Serikat. Pertanyaannya, apakah “Maleficent” akan bernasib serupa atau justru melampaui prediksi? Dengan modal visual yang kuat, peran ikonik Angelina Jolie, serta pendekatan cerita yang berbeda, film ini memiliki peluang untuk mencatatkan hasil yang lebih baik.
Advertisement
Penampilan putri Angelina Jolie dan Brad Pitt
Dalam “Maleficent”, putri Angelina Jolie dan Brad Pitt, Vivienne Jolie-Pitt, tampil untuk pertama kalinya sebagai aktris cilik. Ia dipercaya memerankan versi kecil dari Putri Aurora, karakter yang kelak menjadi lawan utama Maleficent. Kehadiran Vivienne di layar lebar semakin menarik perhatian karena bakatnya terlihat sejak dini, benar-benar mencerminkan ungkapan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Menurut sutradara Robert Stromberg, Vivienne sangat mudah diajak bekerja sama selama proses syuting. Meskipun masih kecil, ia mampu memahami instruksi dasar yang diberikan kepadanya. Angelina Jolie cukup menjelaskan adegan yang harus dilakukan, dan Vivienne dapat mengeksekusinya tanpa banyak kesulitan.
Dengan dukungan penuh dari kru yang menciptakan suasana syuting yang ramah dan menyenangkan, Vivienne berhasil menampilkan karakter Putri Aurora kecil secara natural. Hasilnya, penampilannya memberikan sentuhan manis pada film dan menjadi salah satu fakta menarik yang menambah daya tarik “Maleficent”.
Advertisement
Kebetulan bertepatan dengan ulang tahun kartun Sleeping Beauty
Entah kebetulan atau strategi pemasaran yang disengaja, tanggal rilis “Maleficent” di Amerika Serikat ternyata bertepatan dengan ulang tahun kartun “Sleeping Beauty” yang dirilis pada 1959. Kesamaan momen ini dianggap sebagai langkah simbolis untuk menghubungkan film live action tersebut dengan warisan klasik yang sudah dikenal lintas generasi. Harapannya, “Maleficent” dapat menjadi versi modern yang tak kalah ikonik.
Sebagai adaptasi dengan sudut pandang berbeda, film ini berusaha memberikan interpretasi baru terhadap kisah yang selama puluhan tahun hanya dikenal dari sisi Putri Aurora. Pendekatan yang lebih gelap dan emosional ini menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton yang penasaran dengan latar belakang sang tokoh antagonis. Hal ini sekaligus membedakan film tersebut dari versi animasinya yang lebih ringan.
Saat ini, “Maleficent” memperoleh rating 50 persen di Rotten Tomatoes, namun tingkat kepuasan penontonnya justru jauh lebih tinggi. Sekitar 75 persen pemirsa yang menjadi koresponden menyatakan menyukai film tersebut. Perbedaan ini menunjukkan bahwa meski kritik profesional terbagi, penonton umum tetap memberikan apresiasi positif terhadap kisah dan visual yang ditawarkan.
Advertisement
Debut Robert Stromberg setelah pengalaman menjadi desainer
“Maleficent” merupakan debut Robert Stromberg sebagai sutradara setelah bertahun-tahun berkarya sebagai desainer produksi di lingkungan Disney. Pengalaman panjangnya di balik layar membuatnya memahami detail visual dan dunia fantasi dengan sangat baik, sebuah kemampuan yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam proyek film perdananya ini.
Selain menjadi desainer produksi, Stromberg juga dikenal memiliki keahlian dalam menciptakan special effect untuk berbagai film animasi maupun fiksi ilmiah. Ia telah terlibat dalam sejumlah proyek besar, termasuk “Master and Commander: The Far Side of the World” dan “Avatar”. Kedua film tersebut menonjol berkat kualitas visualnya, menunjukkan kompetensi teknis yang dimiliki Stromberg.
Khusus untuk “Avatar”, kontribusi Stromberg dalam pengembangan efek visual menjadi salah satu faktor yang mendorong film garapan James Cameron itu meraih banyak penghargaan internasional. Prestasi tersebut memperkuat reputasinya sebagai kreator visual kelas dunia, sekaligus menjadi modal besar yang membawanya dipercaya memimpin produksi film skala besar seperti “Maleficent”.
Advertisement
Jude Law sempat ditawari peran yang dimainkan Sharlto Copley
Jude Law sempat ditawari peran yang dimainkan Sharlto Copley, Stefan. Namun sayang, karena bentrok jadwal yang membuat Jude harus memilih proyek film dia yang lainnya, karakter penting itu kemudian jatuh ke tangan Sharlto Copley. Sharlto sendiri sebetulnya memiliki pengalaman menjadi sutradara terlebih dulu sebelum akhirnya terjun menjadi aktor. Penasaran seperti apa akting pria tampan berusia 40 tahun dari Afrika Selatan ini? Jangan sampai Anda melewatkan Maleficent di bioskop-bioskop kesayangan Anda.
Bagi yang sudah menonton, bagaimana pendapat Anda?