Fiersa Besari Kolaborasikan Album dan Buku dalam Karya Bertajuk '11:11'
Merdeka.com - Fiersa Besari merupakan salah satu musisi sekaligus penulis yang sangat populer saat ini. Beragam karya-karya yang telah dihasilkan mampu dinikmati oleh para penggemarnya.
Fiersa Besari turut menyumbang suburnya pertumbuhan musuk pop-folk saat ini. Terjunnya sosok ini dalam dunia permusikan Indonesia berawal sejak ia duduk di bangku sekolah. Hingga tiba masanya ia semakin serius dalam ruang yang dicintainya, yaitu di tahun 2011.
Dunia musik dan sastra Indonesia menjadi hal yang paling mencuri hatinya den menjadi pilihan utama. Aktivitasnya bekerja di sebuah perusahaan swasta selepas masa kuliah ia lepaskan, karena ia memilih untuk menekuni dunia yang membawanya bertualang ke dimensi artistik dalam bentuk narasi dan lagu.
Lagu-lagu yang sudah sempat ia rekam sejak beberapa tahun lalu akhirnya berhasil dirilis dalam sebuah album bertajuk '11:11' secara independen di tahun 2012. Bergerilya secara mandiri dalam menyebar dan mendistribusikan karyanya, tak disangka ternyata dalam hitungan bulan album tersebut ludes di pasaran.
Karya paling baru Fiersa Besari adalah rilis ulang album pertama 11:11 dan dikemas dalam sebuah buku dengan judul yang sama. Karya ini telah dirilis pada akhir tahun 2018 lalu
"Album 11:11 merupakan album musik dan buku. Saya mengkolaborasikan album musik dengan buku. Jadi memadupadankan musik dengan naskah, hingga akhirnya membentuk cerita dimana setiap bab-nya sambung menyambung," kata Fiersa dalam acara Pengadilan Musik yang digelar Jumat (21/3) malam.
Banyak hal yang diceritakan pria yang akrab dipanggil Bung ini dalam karya musik dan tulisan-tulisan yang dirangkum dalam buku. Tema Cinta yang mendominasi seolah menjadi merek dagang yang lekat dengan pribadi Bung. Walaupun ada tema keseharian, kritik sosial dan kisah perjalanan juga ikut memberi warna pada karyanya.
Kata-kata yang digoreskan pendiri Komunitas Pecandu Buku itu mampu menghipnotis para penggemar dan pembaca setianya. Tak sembarang kata-kata romantis, namun dengan cara sederhana tulisannya membawa makna yang dalam.
Satu yang unik, Fiersa bahkan melakukan perjalanan ke pelosok-pelosok Indonesia untuk merangkum inspirasi sekaligus mengasah kepekaannya dalam menulis.
"Saya nekat berkelana menyusuri Indonesia selama 7 bulan itu pada tahun 2013. Saat itu Indonesia masih keterbatasan sinyal hp terutama di daerah Timur. Banyak cerita dari situ, kemudian kayaknya sayang jika tidak dituangkan dalam bentuk tulisan," ucapnya
Sebelumnya, Fiersa juga telah mengeluarkan sejumlah album buku seperti Konspirasi Alam Semesta di tahun 2015. Album musik ini dikolaborasikan dengan buku, dan buku ini menjadi karya perdana Bung di dunia literasi. Melalui single andalannya, 'Juara Kedua'. Nama Fiersa Besari scmakin berkibar di ranah musik folk Indonesia dan juga dunia sastra Indonesia.
Ia juga tidak berhenti untuk terus meluncurkan karya-karya terbaru seperti sebuah buku lainnya yang ia rilis di tahun 2016 berjudul 'Garis Waktu'. Buku ini merangkum kisah perjalanan Bung selama empat tahun dan berhasil terjual lebih dari 10 ribu eksemplar.
Dengan segala idealisme, konsistensi dan kematangan musikalitasnya, Fiersa Besari mendapat perhatian dan apresiasi. Fiersa Besari dibawa ke kursi terdakwa dalam acara Pengadilan Musik edisi ke-31 yang digelar di Kantinasion Rumah The Panas Dalam. Jalan Ambon
Fiersa Besari mampu membuktikan bahwa apa yang ia lakukan di ruang musik dan literasi Indonesia memang layak untuk dikonsumsi oleh khalayak. Fiersa pun mampu bertahan dalam mempcrtanggungjawabkan karya-karya yang sudah dihasilkan.
Tampil dua Jaksa Penuntut umum Budi Dalton dan Pidi Baiq. Kursi Pembela akan ditempati oleh Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung. Pengadilan dipimpin oleh seorang Hakim yaitu Man (Jasad) dan jalannya persidangan diatur oleh Eddi Brokoli sebagai Panitera
Pengadilan Musik adalah salah satu program dari DCDCyang secara rutin mengundang dan mengkaji materi-materi terbaru dari band dan musisi independen tanah air yang aktif dalam membuat karya. Lewat program ini, mereka akan menyandang predikat sebagai Terdakwa, dan harus menghadapi berbagai tuntutan yang dilontarkan oleh Jaksa Penuntut umum. Jika mereka berhasil berbicara atas nama karya, mereka akan bebas dari tuntutan dan materi mereka akan dinyatakan layak untuk dikonsumsi oleh publik.
Perwakilan DCDC , Diki Dwi Saptono mengatakan Fiersa Besari menjadi musisi yang dipanggil ke Pengadilan Musik lantaran sosoknya yang cukup unik. Menurutnya, sosok Fiersa memiliki telenta yang tidak dimiliki oleh musisi lain. Sebab selain membuat lagu, Fiersa juga aktif menulis.
"Biasanya musisi bikin album. Tapi Fiersa bikin buku sama album. Itu yang bikin Fiersa Besari berbeda dibanding yang lain," katanya.
Uwie Fitriani perwakilan dari Atap menambahkan kehadiran Fiersa di acara Pengadilan Musik merupakan permintaan dari para netizen. Hal ini semakin dibuktikan dengan membludaknya penonton saat acara berlangsung.
"Untuk pengadilan musik episode 31 yang menghadirkan Fiersa Besari sangat spesial karena talentnya request diminta oleh netizen.Antusiasme penonton juga luar biasa," pungkasnya. (mdk/end)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya