YLKI Masih Temukan Ketidakmerataan Harga Minyak Goreng Subsidi
Peneliti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Annis Safira Nur mengatakan, masih ditemukan ketidakmerataan harga dan akses terhadap perolehan minyak goreng bersubsidi. Hal ini kemudian memicu adanya kepanikan konsumen (panic buying).
Peneliti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Annis Safira Nur mengatakan, masih ditemukan ketidakmerataan harga dan akses terhadap perolehan minyak goreng bersubsidi. Hal ini kemudian memicu adanya kepanikan konsumen (panic buying).
"Fenomena panic buying masih kerap terjadi sehingga masyarakat lainnya yang membutuhkan tidak mendapatkan minyak goreng bersubsidi," kata Annis dalam konferensi pers, Jakarta, Jumat (11/2).
YLKI melakukan survei terhadap ketersediaan minyak goreng subsidi di masyarakat. Survei dilakukan dengan mendatangi secara langsung konsumen, produsen dan penjual.
Hasil survei menunjukkan kesesuaian dengan keluhan konsumen terkait. Langkanya minyak goreng bersubsidi, di mana jumlah toko yang tersedia minyak goreng kelapa sawit subsidi hanya sebanyak 3 toko dan 1 toko dengan pilihan minyak harga subsidi dan non-subsidi yang ditemukan dari total 30 toko.
Kesimpulan wawancara dengan konsumen, semua konsumen baik dalam kalangan atas maupun menengah ke bawah mengalami dampak dari kelangkaan minyak goreng ini. "Dengan demikian, masyarakat perlu mengeluarkan uang dan tenaga lebih agar bisa mendapatkan minyak goreng sebagai kebutuhan," kata Annis.
YLKI mencatat semua konsumen mengharapkan minyak akan tersedia dengan kuantitas yang cukup dengan harga yang kembali normal, baik di ritel modern maupun di warung atau pasar tradisional.
Baca juga:
Ajak Partisipasi Masyarakat, YLKI Buat Petisi Usut Dugaan Kartel Minyak Goreng
Pastikan Tak Menimbun, Pengusaha Ritel Modern Jelaskan Sebab Kelangkaan Minyak Goreng
Holding BUMN Pangan Salurkan 57,5 Ton Minyak Goreng ke Pasar Tradisional
Pedagang Pasar di Palangkaraya Belum Jual Minyak Goreng Sesuai HET
BI Proyeksi Inflasi Februari Lebih Tinggi dari Januari, Salah Satunya Akibat Elpiji
INFOGRAFIS: Ironi Minyak Goreng, Masih Mahal dan Langka