Warak Ngendog Jadi Inspirasi, Pemkot Semarang Perbanyak Even Seni Dorong Ekonomi Lokal
Pemkot Semarang gencar perbanyak even seni dan budaya, seperti lomba melukis kipas dan payung, demi melestarikan kearifan lokal sekaligus pacu ekonomi kreatif Semarang.
Pemerintah Kota Semarang berencana untuk memperbanyak gelaran even seni dan budaya pada tahun depan sebagai langkah strategis. Inisiatif ini bertujuan ganda, yakni melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang kaya di masyarakat. Selain itu, upaya ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan serta perputaran ekonomi warga Kota Semarang secara signifikan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengungkapkan rencana ambisius tersebut usai menutup Lomba Melukis Payung dan Kipas 2025. Acara tersebut sukses diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang di Mal Up Town. Ia secara tegas menekankan pentingnya kegiatan serupa untuk terus menggerakkan sektor ekonomi kreatif.
Agustina mencontohkan lomba mewarnai kipas dan payung yang akan diadakan secara berkala di masa mendatang. Ia meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengorkestrasi lomba di setiap kecamatan pada bulan yang sama. Hal ini diharapkan dapat menciptakan semacam festival payung besar yang menampilkan beragam kreasi dari hasil karya warga.
Strategi Pemkot Semarang dalam Menggairahkan Ekonomi Lokal
Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti meyakini bahwa even kreatif semacam ini tidak hanya akan membangkitkan semangat masyarakat untuk berpartisipasi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut juga akan membawa dampak positif yang signifikan terhadap ekonomi lokal. Peningkatan aktivitas seni di berbagai wilayah diharapkan mampu menciptakan perputaran ekonomi baru yang berkelanjutan.
Pertumbuhan ekonomi Kota Semarang sendiri telah menunjukkan peningkatan pesat dalam beberapa waktu terakhir, menunjukkan tren positif. Agustina berharap angka pertumbuhan ekonomi dapat mendekati 8 persen pada akhir tahun ini. Oleh karena itu, kegiatan berbasis komunitas seperti even seni menjadi penunjang penting untuk mencapai target ambisius tersebut.
"Otomatis kalau akan memamerkan karya (ada lomba di tingkat kecamatan), warga akan bersih-bersih juga," ujar Agustina. Ia melanjutkan, "Ekonomi di situ akan mulai bergerak, dari UMKM dan lain sebagainya karena ada keramaian." Pernyataan ini secara jelas menegaskan bahwa keramaian dari even seni Semarang akan menggerakkan UMKM dan sektor lainnya.
Lomba Melukis Payung dan Kipas: Wadah Kreativitas dan Ekonomi
Lomba Melukis Payung dan Kipas 2025 yang baru saja ditutup menjadi contoh nyata inisiatif Pemkot Semarang dalam memajukan budaya. Koordinator Penyelenggara, Teo Ruddy, menjelaskan bahwa even ini diinisiasi oleh Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Tujuannya adalah menumbuhkan ekonomi kreatif serta meningkatkan "value" dari desa-desa wisata dan pariwisata di Kota Semarang.
Antusiasme masyarakat terhadap lomba ini tergolong sangat tinggi, dengan total 400 peserta dari berbagai rentang usia. Peserta terbagi menjadi 200 orang untuk lomba lukis kipas dan 200 orang untuk lomba lukis payung. Keikutsertaan dalam even seni Semarang ini tidak dipungut biaya, menunjukkan aksesibilitas yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat.
Tema yang diusung dalam lomba melukis kipas dan payung adalah "Warak Ngendog", yang merupakan ikon khas Kota Semarang. Warak Ngendog sendiri adalah hewan mitologi yang melambangkan akulturasi berbagai budaya di kota tersebut. Penilaian pemenang didasarkan pada orisinalitas karya, kebersihan, dan kesesuaian tema yang mencakup destinasi pariwisata serta mitologi Kota Semarang.
Sumber: AntaraNews