Trivia: Ekonomi NTT Meroket 5,44 Persen, OJK NTT dan Pemda Perkuat Sinergi Sektor Produktif
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah daerah (pemda) bersinergi memperkuat ekonomi NTT yang tumbuh positif, fokus pada sektor produktif seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata. Bagaimana strategi OJK NTT dalam mendorong pertumbuhan ini?
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pemerintah daerah (pemda) di Nusa Tenggara Timur (NTT) baru-baru ini mengukuhkan komitmen untuk memperkuat sinergi. Langkah ini diambil guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di wilayah tersebut.
Fokus utama dari sinergi ini adalah sektor-sektor produktif unggulan, seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata, yang dinilai memiliki potensi besar. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menekankan bahwa NTT memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan menunjukkan tren positif.
Pertemuan penting ini melibatkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) NTT, serta Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) NTT. OJK berharap industri perbankan dapat lebih aktif menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif yang berdaya saing.
Kinerja Perbankan Stabil, Potensi Sektor Unggulan Menanti
Industri perbankan di NTT menunjukkan kinerja yang stabil dengan prospek pertumbuhan yang luas, berdasarkan data hingga Agustus 2025. Total aset perbankan tercatat tumbuh 4,04 persen, sementara penyaluran kredit meningkat 1,52 persen.
Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 5,96 persen. Meskipun demikian, rasio kredit terhadap DPK (LDR) yang mencapai 120,37 persen mengindikasikan tingginya kebutuhan pembiayaan di sektor riil.
Rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 4,10 persen masih dalam batas yang dapat dikelola, namun OJK melihat ruang untuk perbaikan melalui peningkatan kualitas pembiayaan dan manajemen risiko. "Ini menjadi momentum bagi industri perbankan untuk lebih aktif menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif yang berdaya saing,” ujar Dian Ediana Rae.
Pertumbuhan ekonomi NTT pada Triwulan II 2025 mencapai 5,44 persen, menempatkannya di peringkat ke-9 nasional. Pertumbuhan ini didukung oleh sektor pertanian yang berkontribusi 1,99 persen, perdagangan 1,62 persen, dan administrasi pemerintahan 0,71 persen.
Peluang Pariwisata dan UMKM yang Menggeliat
Sektor pariwisata menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi NTT. Pada tahun 2024, jumlah wisatawan nusantara tumbuh 57,64 persen, dan wisatawan mancanegara meningkat 53,78 persen.
Dengan 1.637 daya tarik wisata yang tersebar di 22 kabupaten/kota, potensi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar destinasi wisata sangat besar. Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh perbankan untuk menyalurkan pembiayaan.
Meskipun demikian, porsi kredit perbankan ke sektor pertanian masih tergolong rendah, hanya 4,66 persen, dengan pertumbuhan tahunan 1,05 persen hingga Agustus 2025. Hal ini menunjukkan adanya potensi besar yang belum tergarap maksimal di sektor vital ini.
Mengoptimalkan Potensi Kelautan dan Kesejahteraan Masyarakat
Selain pariwisata, potensi ekonomi kelautan NTT juga terus berkembang pesat. NTT merupakan penghasil rumput laut terbesar kedua di Indonesia, menyumbang 15,20 persen terhadap produksi nasional.
Dian Ediana Rae juga menyoroti sumber daya laut lainnya seperti garam, ikan kerapu, dan lobster yang memiliki nilai ekonomi tinggi. "Sumber daya laut seperti garam, ikan kerapu, dan lobster memiliki nilai ekonomi tinggi yang dapat dikembangkan melalui dukungan pembiayaan perbankan,” jelas Dian.
Dari sisi kesejahteraan masyarakat, indikator ekonomi NTT juga menunjukkan perbaikan. Upah Minimum Provinsi (UMP) pada tahun 2024 naik 2,96 persen menjadi Rp2.186.826. Selain itu, Gini Rasio turun menjadi 0,315 per Maret 2025, angka yang lebih rendah dari rata-rata nasional 0,375, menunjukkan pemerataan ekonomi yang lebih baik.
Sumber: AntaraNews