Trivia: Dulu Gelap Gulita, Kini Terang Benderang! Pemerataan Listrik Bawa Harapan Baru di Desa Ruslan
Kisah Ruslan di Desa Bandar Jaya menjadi bukti nyata dampak positif pemerataan listrik. Dari gelap gulita, kini rumahnya terang benderang, membawa harapan baru bagi keluarga dan ekonomi desa.
Mata Ruslan (52) tampak berkaca-kaca menceritakan rumahnya di Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang akhirnya mendapatkan aliran listrik untuk pertama kalinya. Bagi Ruslan, cahaya ini bukan sekadar lampu yang menyala, melainkan sebuah harapan yang perlahan tumbuh di sudut-sudut rumah panggung miliknya. Peristiwa penting ini terjadi sejak Rabu (15/10), membuka lembaran baru dalam kehidupan sehari-hari keluarganya.
Sebelumnya, keluarga Ruslan dan warga desa lainnya hidup dalam kegelapan, mengandalkan genset dengan bahan bakar yang harus dibeli, yang sangat membebani ekonomi mereka. Kini, melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja sama dengan PT PLN (Persero), mereka mendapatkan sambungan listrik gratis. Program pemerataan listrik ini bertujuan untuk menghadirkan akses energi yang setara bagi seluruh warga, khususnya di daerah terpencil.
Kehadiran listrik ini membawa perubahan signifikan, tidak hanya menerangi rumah tetapi juga menyalakan kembali semangat hidup keluarga Ruslan. Anak-anaknya kini bisa belajar dengan lebih baik, dan istrinya, Samitri (49), dapat kembali produktif dengan mesin jahitnya. Ini adalah contoh nyata bagaimana pemerataan listrik dapat menjadi katalisator perubahan sosial dan ekonomi di pelosok negeri.
Perjuangan Hidup Tanpa Listrik
Ruslan menceritakan masa lalunya sebagai sopir truk, merantau dari satu kota ke kota lain sebelum memutuskan pulang kampung pada tahun 2010 bersama istrinya. Mereka ingin membesarkan anak-anak di tanah kelahiran, meskipun harus memulai segalanya dari nol. Di desa itu, listrik belum menjangkau rumah-rumah warga, sehingga mereka bergantung pada genset.
Keterbatasan daya dan biaya bahan bakar membuat genset hanya bisa dinyalakan sebentar, yaitu setelah salat subuh untuk menyiapkan sarapan dan sore hari dari pukul 17.30 hingga 22.00. Sebagai buruh tani di kebun karet dan sawit, penghasilan Ruslan yang tak menentu, berkisar Rp700 ribu hingga Rp1,6 juta sebulan, sangat terbatas. Kondisi ini membuat biaya operasional genset menjadi beban berat bagi keluarga.
Istrinya, Samitri, seorang penjahit, sempat kehilangan semangat karena harus mengandalkan genset yang sulit dinyalakan dan aliran listriknya tidak stabil, menyebabkan mesin jahit sering mati mendadak. Ruslan harus merogoh kocek hingga Rp390 ribu setiap bulan hanya untuk membeli bahan bakar genset, jumlah yang besar bagi keluarga dengan penghasilan terbatas. Pengeluaran ini hanya cukup untuk menyalakan lampu di malam hari, sekitar 1 liter BBM per malam seharga Rp13 ribu.
Cahaya Harapan dari Program BPBL
Keluarga Ruslan menjadi salah satu penerima manfaat program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) dari Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero). Melalui program ini, mereka mendapatkan sambungan listrik gratis untuk rumah tinggal mereka. Pemerintah desa setempat mengusulkan keluarga Ruslan sebagai penerima bantuan karena keterbatasan ekonomi yang mereka hadapi, dan setelah melalui proses survei, mereka dinyatakan layak menerima bantuan.
Kehadiran listrik membuat segalanya menjadi lebih mudah bagi keluarga Ruslan. Mesin jahit Samitri kini kembali berdengung, dan anak-anak bisa belajar dengan tenang di malam hari. Ruslan juga bisa menghemat pengeluaran hingga Rp200 ribu per bulan, karena biaya listrik dengan sistem token kini hanya sekitar Rp100 ribu, jauh lebih hemat dibandingkan biaya bahan bakar genset sebelumnya.
“Bagi kami, listrik itu seperti surga yang ditunggu. Mungkin bagi orang kota biasa saja, tetapi buat kami ini berkah besar. Semoga anak-anak bisa belajar lebih giat, orang tua lebih semangat kerja, dan impian bisa dikejar,” kata Ruslan, mengungkapkan rasa syukurnya. Kisah ini menunjukkan bagaimana pemerataan listrik tidak hanya memberikan penerangan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang baru bagi keluarga di desa.
Komitmen Pemerintah untuk Pemerataan Listrik Nasional
Desa Bandar Jaya, yang berjarak sekitar 130 kilometer dari Palembang, merupakan salah satu wilayah terpelosok di Sumatera Selatan yang menjadi sasaran utama program Listrik Desa (Lisdes) dan BPBL. Letaknya yang jauh dari pusat kota membuat banyak desa di sekitarnya belum tersentuh akses listrik, dan tidak semua keluarga mampu membayar biaya penyambungan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo bahkan meresmikan langsung program tersebut di desa ini pada Kamis (16/10). Di Sumatera Selatan, terdapat 11 desa yang menjadi bagian dari total 1.285 lokasi Program Listrik Desa Anggaran Belanja Tambahan (ABT) Tahun 2025. Tujuh di antaranya berada di wilayah Musi Banyuasin, termasuk Desa Bandar Jaya, Desa Epil Barat, dan Desa Mangsang.
Kepala Desa Bandar Jaya, Rosidin, menyampaikan rasa syukur atas terealisasinya program ini, yang telah dinanti warga hampir 10 tahun. Pembangunan infrastruktur kelistrikan di Bandar Jaya mencakup jaringan tegangan menengah sepanjang 5,3 kilometer sirkuit (kms), jaringan tegangan rendah sepanjang 3,42 kms, gardu distribusi berkapasitas 100 kVA, serta penyambungan listrik untuk 63 calon pelanggan baru.
Pemerintah terus memperluas akses listrik bagi masyarakat di seluruh Indonesia, termasuk daerah terpencil dan perbatasan, dengan target seluruh desa teraliri listrik paling lambat tahun 2030. Walaupun menghadapi tantangan teknis dan biaya besar, serta kenyataan bahwa pembangunan jaringan listrik di wilayah terpencil sering kali tidak menguntungkan secara bisnis bagi PLN, pemerintah tetap berkomitmen untuk menghadirkan pemerataan listrik hingga ke pelosok. Upaya ini menjadi wujud nyata kehadiran negara dalam memenuhi hak dasar seluruh warga untuk mendapatkan akses energi yang setara. Program BPBL sendiri menargetkan 215.000 rumah tangga miskin di 36 provinsi agar dapat menikmati listrik gratis, lengkap dengan instalasi rumah tangga dan token perdana.
Sumber: AntaraNews