Terbongkar, ini alasan dirombaknya direksi Pertamina dan direktur utama dicopot
Ada sejumlah hal jadi pertimbangan pergantian direksi. Pertama, dalam rangka memperkuat dan mempercepat implementasi holding. Kedua, melihat perkembangan kondisi terakhir. Hal itu melihat kecelakaan pipa di Teluk Balikpapan dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memutuskan untuk merombak susunan direksi PT Pertamina (Persero) yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Pertamina (Persero) pada Jumat (20/4). Hasil RUPSLB tersebut memutuskan mengganti lima direksi, termasuk direktur utama Elia Massa Manik.
Deputi Bidang Usaha Tambang, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno menjelaskan, keputusan tersebut dilakukan bersama dan mendapatkan masukan dari Dewan Komisaris.
Ada sejumlah hal jadi pertimbangan pergantian direksi. Pertama, dalam rangka memperkuat dan mempercepat implementasi holding. Kedua, melihat perkembangan kondisi terakhir. Hal itu melihat kecelakaan pipa di Teluk Balikpapan dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).
"Komisaris sudah melakukan kajian implementasi yang sangat komprehensif selama satu bulan penuh bersama direksi dan sudah dilaporkan kepada kementerian," ujar dia.
Dia menambahkan, kehadiran direktur baru tersebut dapat mempercepat rencana bisnis yang ada. Hal itu diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
"Direktur baru diharapkan dapat mempercepat proyek kilang refining development master plan (RDMP), pengalihan TPPI, holding dan dalam rangkat pelayanan kepada masyarakat," katanya.
Sementara itu, Komisaris Utama PT Pertamina Tanri Abeng membantah pergantian direksi ini bukan karena insiden Teluk Balikpapan. "Bukan karena itu tapi itu bagian dari rangkaian. Jadi semua aspek komisaris menilai," kata dia.
Tanri mengatakan, ada perubahan direksi merupakan implementasi dari SK Nomor 39 yang dirumuskan pada 13 Februari 2018. Hal itu ada perubahan struktur dan nomenklatur.
"Tadinya hanya satu marketing menjadi tiga yaitu marketing corporate, marketing ritel, dan infrastruktur supply chain. Jadi ada tiga struktur baru yang tadinya hanya satu. Berarti yang dua itu baru hanya untuk mengisi tiga yang belum terisi yaitu ritel, logistic supply chain dan infrastruktur. Jadi dua itu mengisi, satu ganti," kata dia.
Selain itu, Tanri melihat Pertamina juga harus segera melakukan kajian dari dampak perubahan biaya seiring kenaikan harga minyak. Kenaikan harga minyak dunia ini mempengaruhi biaya Pertamina. "Ini perlu penanganan yang intensif karena mempengaruhi kinerja keuangan Pertamina," kata dia.
Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Mengenal lebih dekat Nicke Widyawati, wanita cantik jadi bos sementara PT Pertamina
Menteri Rini copot Elia Massa Manik dari posisi Dirut Pertamina
Aturan baru terbit, Pertamina Cs harus izin pemerintah naikkan harga BBM non subsidi
Pertamina bantah lamban menangani tumpahan minyak Balikpapan
ESDM tagih bonus tandatangan 8 blok migas terminasi dari Pertamina