LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Swasembada pangan Jokowi-JK masih jauh panggang dari api

Pemerintahan Jokowi-JK bercita-cita mewujudkan swasembada sejumlah komoditas pangan strategis, seperti padi, jagung dan kedelai (Pajale), dapat tercapai dalam waktu tiga tahun. Dalam mencapai target ambisius tersebut, pemerintah telah meningkatkan anggaran secara signifikan.

2017-07-10 16:30:53
Ekonomi Indonesia
Advertisement

Pemerintahan Jokowi-JK bercita-cita mewujudkan swasembada sejumlah komoditas pangan strategis, seperti padi, jagung dan kedelai (Pajale), dapat tercapai dalam waktu tiga tahun. Dalam mencapai target ambisius tersebut, pemerintah telah meningkatkan anggaran secara signifikan.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan peningkatan anggaran kedaulatan pangan sebesar 53,2 persen, dari anggaran tahun 2014 sebesar Rp 67,3 triliun menjadi Rp 103,1 di tahun 2017 belum menunjukkan hasil yang signifikan. Indonesia masih menghadapi sejumlah permasalahan guna mewujudkan target tersebut.

"Namun, tingginya alokasi anggaran tersebut ternyata belum optimal dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Dalam konteks Pajale (padi, jagung, kedelai) misalnya, tren peningkatan anggaran pada tiga komoditas ini tidak secara merata dan optimal mengakselerasi produksi dan produktivitas," ujar Enny di Kantornya, Jakarta, Senin (10/7).

Enny mengatakan pemerintah juga masih melakukan impor beras yang cukup besar. Informasi tersebut dapat dilihat dari data PIB (Pemberitahuan Impor Barang), Ditjen Bea Cukai menunjukkan impor 2016 sebesar 1,3 juta ton, sementara Januari hingga Mei 2017 impor beras mencapai 94.000 ton.

"Impor beras masih cukup besar. Anggaran dan subsidi meningkat, tapi impor juga meningkat," katanya.

Enny menambahkan harga pangan saat Lebaran cenderung stabil, namun berada di atas harga acuan penjualan konsumen. Artinya, upaya stabilisasi harga belum mampu memulihkan daya beli masyarakat.

"Jadi ini hanya berupa stabilisasi harga pangan yang semu," jelasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan hasil pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) terhadap 160 pasar di Indonesia periode 9 September hingga 12 Juni 2017, menunjukan harga pasar masih lebih tinggi dibanding harga acuan.

Tercatat, harga beras medium lebih mahal 17 persen dari harga acuan. Harga gula pasir lebih mahal 10,1 persen dsri harga acuan, harga daging sapi kualitas 1 lebih mahal 47 persen dari harga acuan. Kemudian harga daging sapi kualitas 2 lebih mahal 37 persen dari harga acuan, dan minyak goreng curah lebih mahal 19 persen dari harga acuan.

Advertisement

Baca juga:
Bulog soal rastra berkutu: Belum ada pengembalian besar-besaran
Pasca Ramadan, pertumbuhan industri ritel turun 40 persen
Perkuat modal, Bank QNB Indonesia terima suntikan dana Rp 2,18 T
Menteri Susi: Lulusan SMA bisa jadi menteri, ini anugerah luar biasa
Terkena bencana atau alami kerugian dapat pengurangan PBB 100 persen
Saat Sri Mulyani dipermudah pulangkan dana WNI Rp 600 T di Singapura
Bos OJK: Saya ingin BPR jadi gadis jelita yang selalu dilirik

(mdk/sau)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.