SKK Migas Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026
SKK Migas memastikan harga Pertalite dan Solar Subsidi tetap aman hingga akhir 2026 karena rata-rata harga minyak mentah Indonesia masih di bawah USD 100.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026.
Kepastian tersebut didukung oleh rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang masih berada di bawah ambang batas asumsi pemerintah.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, realisasi ICP hingga Mei 2026 tercatat sekitar USD 86 per barel. Angka tersebut masih jauh di bawah batas USD100 per barel yang menjadi acuan dalam perhitungan subsidi energi.
"Untuk ICP, realisasi 2026 sampai dengan bulan Mei USD 86 per barel. Ini yang menyebabkan harga Pertalite dan Solar Subsidi tetap tidak naik sampai akhir tahun, karena targetnya cukup apabila ICP mencapai USD 100 (per barel)," jelas Djoko dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (3/6/2026).
Dia juga mengungkapkan proyeksi ICP tahun 2027 diperkirakan berada di level USD80 per barel.
"Untuk ICP 2027, perkiraan kami sebesar USD80 per barel," ujarnya.
Harga Minyak Sempat Tembus USD117 per Barel
Meski rata-rata ICP masih terkendali, harga minyak mentah Indonesia sempat mengalami lonjakan pada April 2026.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan ICP April 2026 sebesar USD 117,31 per barel. Dengan kurs saat itu, nilainya setara lebih dari Rp2 juta per barel.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan. Pada perdagangan terakhir, rupiah ditutup melemah 38 poin menjadi Rp17.706 per dolar Amerika Serikat.
Namun lonjakan tersebut belum mengubah rata-rata ICP secara tahunan yang masih berada di bawah batas asumsi subsidi energi pemerintah.
Menteri Bahlil: Anggaran Subsidi Masih Mencukupi
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya juga memastikan harga BBM subsidi tetap dipertahankan hingga akhir tahun meskipun terjadi fluktuasi harga minyak global dan pelemahan rupiah.
Menurut Bahlil, rata-rata ICP sejak Januari hingga saat ini masih berada di kisaran USD 80-81 per barel.
"Rata-rata yang dimaksud itu Januari sampai dengan sekarang. Kalau sampai sekarang kan minyak dunia naik-turun terus. Rata-rata ICP kita sekarang kurang lebih USD 80-81 (per barel), dari Januari sampai sekarang. Jadi belum sampai USD 100 (per barel)," jelasnya.
Dia menegaskan kemampuan fiskal pemerintah masih cukup untuk menjaga besaran subsidi energi.
"Tidak akan naik, Insya Allah ya. Insya Allah sampai akhir tahun. (Anggaran subsidinya cukup?) Cukup dong, cukup," ujar Bahlil.