Sebelum 1980, sumur Indonesia simpan 90 persen minyak
Jika harga minyak terus anjlok, 3-4 bulan ke depan akan banyak perusahaan gulung tikar.
Kondisi sumur minyak Indonesia makin lama makin memprihatinkan. Cadangan minyak terus menipis, bukan tidak mungkin suatu saat habis.
Kepala Bagian Humas SKK Migas, Elan Biantoro menceritakan, sebelum 1980, sumur Indonesia menyimpan 90 persen minyak dan 10 persen air. Namun, 2013 ke atas, kondisinya justru terbalik. Sumur hanya menyimpan 10 persen minyak dan 90 persen air.
"Tahun 80-an itu minyak 90 persen dan air 10 persen. Jumlah cadangan kita mencapai 20 miliar barel. Mengalir terus minyaknya," ucap Elan dalam acara Edukasi dan Temu Media bersama SKK Migas dan Total E&P Indonesie di Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/9).
Meski cadangan dan eksplorasi minyak cukup besar pada 1980-an, Elan menyayangkan saat itu harga minyak dunia sangat rendah atau hanya berkisar USD 10-30 per barel. Kondisi itu jauh berbeda dengan harga minyak yang sempat di atas USD 100 per barel belum lama ini.
"Meski harga rendah, minyak ini dari dulu jadi penyanggah ekonomi negara. Negara buat Pupuk Kaltim karena minyak. Konglomerat sekarang juga banyak dari minyak. Minyak ini tulang punggung negara dari dulu," katanya.
Saat ini eksplorasi minyak di Indonesia sudah menurun karena menipisnya cadangan. Rendahnya harga minyak dunia menambah beban perusahaan minyak dan gas di Indonesia.
Elan bahkan menyebut jika kondisi ini terus terjadi, 3-4 bulan ke depan banyak perusahaan tambang gulung tikar.
"Kalau lebih 3 atau 4 bulan lagi banyak yang tutup. Makanya kita lakukan efisiensi dari sekarang," tutupnya.
Baca juga:
Perusahaan energi terbesar Amerika Serikat pecat 1.800 karyawan
Usai Arab Saudi, ekonomi Kanada jadi korban anjloknya minyak dunia
2016, DPR taksir harga minyak dunia maksimal USD 50 per barel
Minyak dunia tengah murah, pemerintah harus turunkan harga BBM
Harga minyak turun, pemerintah diminta evaluasi harga BBM