Intip Pergerakan Saham BCA Jelang Stock Split
Frekuensi perdagangan saham bank swasta terbesar di Indonesia itu tercatat sebanyak 9.047 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 8,21 juta lembar saham senilai Rp246,05 miliar.
Bank Central Asia atau BCA memutuskan untuk melakukan aksi korporasi pemecahan saham yang beredar (stock split). Ini dilakukan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas bagi para investor ritel untuk berinvestasi di saham BCA.
Rapat Direksi & Komisaris BCA PT Bank Central Asia Tbk (BCA) telah menyetujui aksi korporasi stock split dengan rasio 1 : 5 (1 saham lama menjadi 5 saham baru). Nilai nominal per unit saham BBCA saat ini adalah Rp62,50, sedangkan nilai nominal per unit saham BBCA setelah stock split akan menjadi sebesar Rp12,5. Sebagai informasi, harga saham BBCA masih bergerak di level Rp30.000 per unit saham.
"Melalui aksi korporasi stock split ini, kami berharap harga saham BBCA akan lebih terjangkau bagi para investor ritel, utamanya demografi investor muda yang saat ini aktif meramaikan bursa. Hal ini juga sebagai bentuk dukungan kami untuk meningkatkan likuiditas perdagangan di pasar modal dalam negeri," kata Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Okie Ardhiastama menilai rencana pemecahan nilai nominal saham atau stock split saham Bank Central Asia (BBCA) akan berdampak positif pada kinerja saham perseroan karena saham akan menjadi semakin likuid dan terjangkau bagi investor, terutama investor ritel.
"Tentu rencana manajemen untuk melakukan stock split dapat menjadi katalis positif baik untuk investor maupun saham BBCA sendiri ke depannya yang lebih likuid dan dapat mempertahankan BBCA sebagai perbankan dengan kapitalisasi pasar terbesar," ujar Okie dikutip dari Antara.
Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 10.12 WIB turun 75 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp29.775 per saham. Penurunan harga terjadi setelah sempat menguat pada awal perdagangan hingga di atas Rp30.000 per saham.
Frekuensi perdagangan saham bank swasta terbesar di Indonesia itu tercatat sebanyak 9.047 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 8,21 juta lembar saham senilai Rp246,05 miliar.
Penurunan harga saham BBCA diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp94,57 miliar.
Dibandingkan posisi pada akhir tahun lalu atau year to date, harga saham BBCA tercatat menurun 12,04 persen (ytd). Meski demikian BCA berhasil meraup laba bersih sepanjang semester I-2021 lalu sebesar Rp14,45 triliun, atau naik 18,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp12,24 triliun.
Baca juga:
IHSG Dibuka Menguat, Saham BNI dan BCA jadi Andalan Analis
Transformasi Digital, Emiten Kontraktor Tambang Petrosea Catat Laba Rp170 Miliar
XL Axiata Berniat Beli Mayoritas Saham Pemilik First Media
Facebook Raup Laba Bersih Rp150 Triliun di Kuartal II-2021
Diagnos Laboratorium Utama Tebar Dividen Rp6 Miliar, Ini Jadwal Pencairannya