RUPTL 2018-2027, pembangkit terbangun diproyeksi mencapai 56.024 MW
Komposisi pembangkit pada akhir 2025, lanjutnya, yakni batubara 54,4 persen, Energi Baru Terbarukan (EBT) 23,0 persen, gas 22,2 persen, dan Bahan Bakar Minyak (BBM) 0,4 persen. Sementara, pertumbuhan kebutuhan listrik hingga 2027 diprediksi mencapai tujuh persen. Total rencana pembangunan jaringan transmisi 63.855 kms.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, menyampaikan Rancangan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2018-2027, di Kementerian ESDM. Pada rancangan ini, pembangunan pembangkit hingga 2027 ditargetkan mencapai 56.024 MW.
"Ini melebihi 35 GW ya, kan sampai 2024. Nah sampai 2027 segitu lah (56.024)," kata dia di Kantornya, Jakarta, Selasa (13/3).
Dalam RUPTL ini terjadi penurunan jumlah total pembangkit listrik yang bakal dibangun. Diketahui dalam RUPTL 2018-2027 total pembangkit listrik yang akan dibangun jauh lebih kecil dari target dalam RUPTL 2017-2026 sebesar 77,9 ribu GW.
Menteri Jonan menjelaskan turunnya total pembangkit listrik dalam RUPTL 2018-2027 karena target tersebut disesuaikan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Bappenas sebesar 5,5 persen.
"Sebenarnya gini, yang dulu mengikuti program yang kita yakin bahwa kebutuhannya itu lebih tinggi daripada sekarang. Ini yg kita lihat bahwa lebih realistis, dari juga kemampuan membangun ini semua. Kalau 10 tahun itu 56.000 MW, setahun kira-kira 5.000 sampai 6.000 MW," ungkap Menteri Jonan.
"Nanti kalau melonjak lagi (pertumbuhan ekonomi) ya kita ubah lagi tahun depan. Tapi kita juga mensyaratkan capacity factornya itu sekarang tinggi," imbuhnya.
Komposisi pembangkit pada akhir 2025, lanjutnya, yakni batubara 54,4 persen, Energi Baru Terbarukan (EBT) 23,0 persen, gas 22,2 persen, dan Bahan Bakar Minyak (BBM) 0,4 persen.
Sementara, pertumbuhan kebutuhan listrik hingga 2027 diprediksi mencapai tujuh persen. "Tidak banyak berubah sih proyeksi rata-rata pertumbuhan kebutuhan itu 6,86 persen. Ya plus minus 7 persen ya," ungkapnya.
Total rencana pembangunan jaringan transmisi 2018-2027 sebanyak 63.855 kms (kilometer sirkuit). Total rencana pembangunan gardu induk 151.424 MVA. Total rencana pembangunan jaringan distribusi 526.390 kms. Total pembangunan gardu distribusi 50.216 MVA.
"Ini jadi disusun berdasarkan proyeksi. COD-nya setiap pembangkit itu, dicocokan dengan proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik di setiap wilayah," jelas dia.
"Nah, kan pertanyaannya begini, ini bakal kurang gak. Nah, selama ini pemerintah melalui PLN kalau pertumbuhan ekonominya melonjak, misalnya 7 persen mestinya masih cukup. Cadangan di daerah kan paling tidak 30 persen," tandasnya.
Baca juga:
Harga batubara naik tajam, gas jadi alternatif untuk pembangkit listrik
PLN sambut baik penetapan harga acuan batu bara USD 70 per ton
Demi tarif listrik tak berubah, pengusaha batu bara terima penetapan harga acuan
Pemerintah tetapkan harga acuan batu bara USD 70/ton, berlaku hingga Desember 2019
Hingga Februari, 1.362 MW dari proyek 35.000 MW pembangkit telah beroperasi
Dulu 'pamit' selepas Subuh, kini listrik di Pulau Sapudi nonstop 24 jam
Investor asal Korea tertarik bangun PLTU di Bangka Belitung