Rupiah di atas 14.400/USD, LPS tegaskan perbankan jauh dari krisis
Rasio kecukupan modal perbankan nasional di level 20 persen, tertinggi sepanjang sejarah.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) semakin terpuruk. Menurut data JISDOR Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap USD pada Rabu (16/9) berada di level Rp 14.442 per USD.
Kondisi ini memicu kekhawatiran berbagai pihak akan terjadinya krisis seperti yang pernah terjadi pada 1998 dan 2008. Di mana saat itu banyak bank tidak kuat menghadapi gejolak nilai tukar, akhirnya harus mendapat suntikan modal atau cara lain terpaksa dimerger.
Plt Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan mengatakan, nilai tukar rupiah bukan menjadi satu-satunya acuan melihat kondisi perekonomian nasional. Apalagi dijadikan indikator perbankan akan mengalami krisis.
"Perbankan jauh dari krisis. Masih jauhlah, sangat jauh," kata Fauzi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (16/9).
Mantan kepala ekonom Standard Chartered ini memaparkan, kondisi perbankan Indonesia jauh lebih sehat jika dibandingkan kondisi perbankan pada saat terjadi krisis beberapa tahun lalu. Indikatornya, rasio kecukupan modal bank kini di angka 20 persen. Jauh di atas CAR pada 2008 yang sekitar 17 persen.
"Itu (20 persen) kan juga yang tertinggi sepanjang sejarah," kata Fauzi.
Selain itu, rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan Indonesia masih di kisaran 2,6 persen atau masih di bawah batas yang ditentukan yakni 5 persen.
"Jadi untungnya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif baik, walaupun turun ke 4,7 persen, tapi pertumbuhan ekonomi dunia kan 3 persen. Jadi masih di atas pertumbuhan ekonomi dunia," jelas Fauzi.
Fauzi yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester kedua akan meningkat karena saat ini pemerintah sedang menggenjot daya serap anggaran.
Baca juga:
Pelemahan rupiah, pengusaha perlahan pangkas jumlah pekerja
Presiden Jokowi ingin tahu kesiapan sektor keuangan hadapi krisis
Wapres JK pede sesulit apapun angka kemiskinan dapat diturunkan
Ekonomi saat ini lebih susah diselamatkan dibanding krisis 2008
Kebijakan ekonomi Najib Razak terbukti lebih ampuh dibanding Jokowi