RI punya cita-cita jadi poros maritim dunia tapi krisis insinyur
RI punya cita-cita jadi poros maritim dunia tapi krisis insinyur. Selain itu, Indonesia butuh setidaknya 5.000 kapal besar. Saat ini, Indonesia justru kelebihan sekitar 400.000 kapal kecil. Kemudian, pelabuhan di Indonesia juga harus direnovasi agar bisa menampung kapal berukuran besar.
Deputi III Koordinasi Sumberdaya dan Infrastruktur Kementerian Koordinator Kemaritiman, Ridwan Djamaluddin, mengatakan Indonesia masih perlu banyak pembenahan untuk menjadi poros maritim dunia. Menurutnya, saat ini saja, Indonesia masih kekurangan banyak tenaga ahli atau insinyur bidang kelautan.
"Tenaga ahli dan teknis, kita kekurangan insinyur. Kita hanya ada 3 orang insinyur per 1.000 penduduk. Vietnam saja ada 9 orang insinyur per 1.000 penduduk," jelasnya dalam Rakenas Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (7/11).
Selain itu, Indonesia butuh setidaknya 5.000 kapal besar. Saat ini, Indonesia justru kelebihan sekitar 400.000 kapal kecil.
"Untuk perikanan, saya bolak balik mengatakan, kalau kita mau menguasai laut kita di bidang perikanan, kapal besar harus tambah. Ini yang mungkin dengan kebijakan KKP bisa didorong. Supaya mengibarkan nelayan kita di laut itu kapal kita harus besar-besar," jelasnya.
Kemudian, pelabuhan di Indonesia juga harus direnovasi agar bisa menampung kapal berukuran besar.
Baca juga:
Indonesia bangun kerja sama maritim dengan Australia
Menlu dan Menhan Australia-Indonesia bahas tiga isu ini di Bali
Hilangkan egoisme, JK minta masyarakat ubah pola pikir soal laut
Pengusaha: Indonesia kalah dari Thailand soal dermaga internasional
Fakta-fakta baru diungkap Jokowi soal dampak dahsyat pencurian ikan
Jokowi mau Indonesia jadi nomor satu di dunia dalam 5 hal ini
Indonesia berjanji lebih aktif damaikan konflik Laut China Selatan