Raup laba Rp 18,9 triliun, Astra sebar dividen Rp 185 per saham
Prijono menambahkan kinerja Grup Astra mendapatkan keuntungan signifikan dari kembalinya profitabilitas PT Bank Permata Tbk (Bank Permata) dan keuntungan yang lebih tinggi dari bisnis alat berat dan pertambangan yang disebabkan naiknya harga komoditas secara berkelanjutan.
PT Astra Internasional mencatat laba bersih konsolidasi 2017 meningkat 25 persen menjadi Rp 18,9 triliun dari Rp 15,1 triliun di 2016. Astra memutuskan menyebar dividen total Rp 185 per saham.
Presiden Direktur Astra, Prijono Sugiarto, mengungkapkan dividen final yang diusulkan dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) sebesar Rp 130 per saham. Ditambah dividen interim Rp 55 per saham.
"Dividen final yang diusulkan tersebut berdasarkan pertimbangan meningkatnya utang pada level perusahaan induk Astra International dan rencana investasi lainnya di masa mendatang," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (27/2).
Nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp 3.054 pada 31 Desember 2017, meningkat 10 persen dibandingkan dengan posisi akhir 2016. Nilai kas bersih, di luar Grup Jasa Keuangan, mencapai Rp 2,7 triliun pada akhir 2017 dibandingkan nilai kas bersih pada akhir tahun 2016 sebesar Rp 6,2 triliun.
"Penurunan ini terutamanya disebabkan oleh investasi baru yang dilakukan sepanjang tahun pada jalan tol, properti serta pembangkit tenaga listrik," tuturnya.
Sejalan dengan hal tersebut, utang bersih di perusahaan induk, Astra International mencapai Rp 9,2 triliun pada akhir 2017, meningkat dibandingkan pada akhir 2016
sebesar Rp 7,1 triliun. Anak perusahaan Grup Jasa Keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp 46,1 triliun pada akhir 2017, dibandingkan dengan Rp 47,7 triliun pada akhir 2016.
Sementara itu, pendapatan bersih konsolidasian grup meningkat 14 persen menjadi Rp 206,1 triliun dibandingkan dengan 2016, dengan pendapatan yang lebih tinggi diraih sebagian besar segmen bisnis.
Prijono menambahkan kinerja Grup Astra mendapatkan keuntungan signifikan dari kembalinya profitabilitas PT Bank Permata Tbk (Bank Permata) dan keuntungan yang lebih tinggi dari bisnis alat berat dan pertambangan yang disebabkan naiknya harga komoditas secara berkelanjutan, yang juga berdampak positif terhadap kinerja usaha divisi agribisnis. Namun, kontribusi dari bisnis otomotif menurun akibat meningkatnya persaingan di pasar mobil, yang secara keseluruhan tidak menunjukkan pertumbuhan.
"Kinerja operasional bisnis sepeda motor cukup stabil di tengah menurunnya pasar motor secara keseluruhan."
Baca juga:
Astra Infra ngotot ingin jadi bagian konsorsium operator Pelabuhan Patimban
Setelah jalan tol dan pelabuhan, Astra Infra incar bisnis bandara Tanah Air
Astra prediksi pasar motor nasional 6 juta unit di 2018
Kuartal III 2017, kas bersih Astra turun menjadi Rp 1,2 T dari Rp 6,2 T
Kenaikan tarif listrik hingga pergeseran masa panen pukul daya beli motor masyarakat
Tumbuh 26 persen, laba Astra Internasional kuartal III 2017 Rp 14,184 triliun
FIFGROUP dorong mahasiswa UNAIR menjadi enterpreneur sukses melalui bukunya