Rahasia Warung Tradisional Tetap Bertahan Lama Saat Bisnis Viral Berguguran
Bisnis kuliner viral menyimpan banyak kelemahan jika tidak diantisipasi dengan baik.
Membangun sebuah bisnis, tak ubahnya seperti membesarkan seorang anak. Waktu, tenaga, hingga uang, habis tercurah demi bisnis tetap berjalan dan bisa berkembang dengan baik.
Adakalanya, bisnis tradisional menghadapi situasi menantang dengan tren viral di media sosial. Meskipun kondisi itu tidak berlangsung lama. Dalam realita di lapangan, bisnis viral justru berguguran lebih cepat.
Pengamat bisnis Teguh Hidayat, mengatakan bisnis kuliner viral memang menyimpan banyak kelemahan jika tidak diantisipasi dengan baik, seperti tren makanan viral yang masih sangat bergantung di media sosial. Sebuah tempat makan bisa ramai dalam Waktu singkat setelah mendapatkan ulasan oleh food vlogger ternama atau muncul di FYP TikTok. Masalah muncul ketika kepopuleran tersebut tak dibarengi dengan kualitas yang konsisten.
“Orang jadi penasaran karena lihat di YouTube, TikTok, lalu ramai-ramai ke sana. Tapi kalau makanan dan pelayanannya biasa aja, mereka tidak balik lagi. Viral cuma sekali, setelah itu mati,” jelas Teguh kepada merdeka.com.
Faktor lain yang kerap menjadi jebakan adalah strategi harga. Banyak pelaku bisnis menaikkan harga saat ramai pengunjung, alih-alih memperkuat kualitas. Akibatnya, konsumen beralih ke tempat lain yang memiliki harga lebih miring dengan kualitas yang sama.
“Kalau makanannya enggak enak, harganya mahal, ya viralnya cuma bertahan setahun. Setelah itu orang bosan dan enggak balik lagi,” tegasnya.
Keunggulan Bisnis Konvensional
Berbanding terbalik dengan bisnis yang mengandalkan viral, bisnis makanan tradisional justru menunjukkan ketahanan yang luar biasa.
Sebagai contoh, warung-warung konvensional yang menjual soto, nasi padang, gudeg, hingga pecel lele tetap eksis dari tahun ke tahun meski tak pernah muncul di media sosial.
Teguh menilai bahwa kuncinya ada pada konsistensi dan kesetiaan pada kualitas. Pemilik usaha tradisional biasanya tidak tergoda membuka banyak cabang dalam waktu singkat.
Sebaliknya, mereka lebih memilih fokus menjaga rasa dan kuantitas sesuatu yang sangat dihargai oleh pelanggan setia.
“Warung konvensional biasanya lebih telaten dalam menjaga cita rasa. Mereka tahu, kalau sekali saja rasa berubah, pelanggan bisa lari. Ini berbeda dengan bisnis viral yang hanya mengejar exposure sesaat,” kata Teguh.
Selain itu, pelanggan makanan tradisional bukan sekadar pembeli, melainkan bagian dari keluarga. Dengan demikian kedatangan mereka bukan hanya karena tren, tapi karena kepercayaan pada kualitas produk yang ditawarkan.
Belajar dari ketahanan bisnis konvensional, Teguh mengimbau para pelaku usaha makanan baru untuk belajar dari model bisnis kuliner tradisional. Menurutnya, konsistensi menjaga cita rasa adalah kunci utama agar bisnis bisa bertahan puluhan tahun.
“Popularitas instan tidak bisa dijadikan fondasi bisnis. Fokuslah pada kualitas produk, konsistensi, dan pengalaman pelanggan. Kalau makanan enak, harga masuk akal, dan pelayanan baik, orang akan datang kembali meskipun tanpa viral sekalipun,” pungkasnya.