PLN Genjot Elektrifikasi Papua, Targetkan 4.200 Kampung Terlistriki Bertahap
PT PLN (Persero) menargetkan elektrifikasi 4.200 kampung di Tanah Papua secara bertahap, didukung alokasi anggaran besar untuk mewujudkan pemerataan listrik.
PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat telah menetapkan target ambisius untuk melistriki 4.200 kampung di Tanah Papua yang hingga kini belum terlayani. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam pemerataan akses energi di seluruh pelosok negeri. Program elektrifikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di wilayah tersebut.
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Diksi Erfani Umar, menjelaskan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp500 miliar untuk pembangunan infrastruktur kelistrikan. Anggaran ini akan digunakan untuk 128 lokasi di Papua pada tahun 2025, menandai langkah signifikan dalam percepatan pembangunan. Penugasan ini menunjukkan fokus pemerintah pada pembangunan infrastruktur dasar di daerah terpencil.
Target awal yang lebih besar juga telah ditetapkan, di mana sekitar 554 lokasi direncanakan akan terlistriki pada tahun 2026 dengan kebutuhan anggaran awal mencapai kurang lebih Rp2,5 triliun. Penugasan dari Kementerian ESDM ini menjadi penugasan pertama dalam tiga tahun terakhir yang diberikan pemerintah kepada PLN khusus untuk wilayah Papua Raya. PLN berupaya keras agar pengerjaan proyek dapat segera dimulai dan berjalan lancar.
Target dan Alokasi Anggaran untuk Elektrifikasi Papua
PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat memiliki target besar untuk melistriki 4.200 kampung di Tanah Papua yang saat ini belum menikmati akses listrik. Program elektrifikasi Papua ini merupakan prioritas nasional untuk memastikan seluruh masyarakat mendapatkan hak dasar akan energi. Dengan adanya target ini, PLN menunjukkan keseriusan dalam mengatasi kesenjangan infrastruktur di wilayah timur Indonesia.
Untuk mendukung target tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp500 miliar khusus untuk pembangunan infrastruktur kelistrikan di 128 lokasi di Papua pada tahun 2025. Anggaran ini menjadi modal awal yang krusial bagi PLN dalam memulai proyek-proyek vital. Dana tersebut diharapkan dapat mempercepat pembangunan jaringan listrik di daerah-daerah terpencil.
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Diksi Erfani Umar, juga mengungkapkan bahwa target awal pada tahun 2026 mencakup sekitar 554 lokasi dengan kebutuhan anggaran awal sekitar Rp2,5 triliun. Anggaran besar ini sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh Kementerian ESDM kepada PLN untuk wilayah Papua Raya. Ini adalah penugasan pertama dalam tiga tahun terakhir, menunjukkan komitmen kuat pemerintah terhadap elektrifikasi Papua.
Diksi menambahkan bahwa semua lokasi target awal tersebar di wilayah kerja PLN, sehingga pengerjaan proyek diharapkan dapat segera dilakukan. Percepatan pengerjaan sangat penting agar manfaat listrik dapat segera dirasakan oleh masyarakat. PLN berkomitmen untuk menyelesaikan tantangan ini dengan efektif dan efisien.
Pendekatan Sosial dan Pemanfaatan Energi Lokal untuk Elektrifikasi Berkelanjutan
Dalam mewujudkan elektrifikasi Papua, PLN tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga mengedepankan pendekatan sosial. Koordinasi intensif dilakukan bersama pemerintah daerah, mulai dari gubernur, bupati, hingga kepala distrik, untuk mempermudah proses pembangunan. Pendekatan ini penting untuk memastikan dukungan dari berbagai pihak dan kelancaran proyek.
Salah satu aspek krusial dalam koordinasi ini adalah penyediaan lahan yang diperlukan untuk pembangunan pembangkit listrik dan jaringan. Dengan sinergi antara PLN dan pemerintah daerah, diharapkan kendala-kendala terkait lahan dapat diminimalisir. Kerjasama ini menunjukkan komitmen bersama untuk mempercepat elektrifikasi di Tanah Papua.
PLN juga berkomitmen untuk menyesuaikan pembangunan pembangkit dengan potensi energi lokal yang ada di setiap wilayah. Strategi ini tidak hanya efisien tetapi juga berkelanjutan, memanfaatkan sumber daya alam setempat. Pemanfaatan energi lokal ini menjadi kunci keberhasilan elektrifikasi di daerah terpencil.
Sebagai contoh, di wilayah Pegunungan Arfak yang memiliki potensi air besar, PLN akan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mini dan Mikrohidro (PLTMH). Sementara itu, di daerah dengan keterbatasan sumber air, seperti Papua Barat Daya, PLN akan mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dilengkapi baterai atau sistem hibrida. Diversifikasi sumber energi ini menunjukkan adaptasi PLN terhadap kondisi geografis dan sumber daya alam di Papua.
Dukungan dan Harapan BPH Migas untuk Pemerataan Listrik di Papua
Anggota Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Erika Retnowati, menyampaikan harapannya agar PLN dapat segera menyelesaikan tantangan elektrifikasi di Papua. Ia menekankan pentingnya agar seluruh desa dan kampung di wilayah tersebut dapat segera menikmati listrik. Dukungan dari BPH Migas ini memperkuat urgensi program elektrifikasi.
Erika Retnowati menyoroti bahwa masih ada sekitar 4.200 desa atau kampung di Papua yang perlu dialiri listrik. Angka ini menegaskan skala tantangan yang dihadapi, namun juga menjadi motivasi bagi PLN untuk terus berupaya. Harapan besar disematkan agar target ini dapat tercapai dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Erika Retnowati telah melakukan kunjungan langsung ke PLN Papua guna melihat sistem kelistrikan di Gardu Induk Skyline Kota Jayapura pada Sabtu (27/12). Kunjungan ini menunjukkan perhatian dan dukungan langsung dari BPH Migas terhadap upaya elektrifikasi yang dilakukan PLN. Pemantauan langsung ini juga memberikan gambaran nyata mengenai kondisi infrastruktur kelistrikan di lapangan.
Sumber: AntaraNews