PLN EPI Gandeng Perusahaan Korea Kembangkan Bioenergi untuk Cofiring PLTU
Biomassa memiliki peran strategis sebagai solusi transisi energi karena dapat langsung diimplementasikan menggunakan infrastruktur pembangkit eksisting.
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat langkah transisi energi nasional melalui kolaborasi internasional di sektor bioenergi dan biomassa. Kerja sama ini diarahkan untuk mendukung program cofiring PLTU, penguatan rantai pasok biomassa berkelanjutan, serta pengembangan riset karbon rendah sebagai bagian dari upaya pencapaian target penurunan emisi dan Net Zero Emissions 2060.
PLN EPI bahkan telah menggandeng perusahaan konsultan asal Korea Selatan, Greenery Inc. untuk membangun kerangka kerja sama pengembangan biomassa, riset teknis, peningkatan kualitas bahan bakar, hingga eksplorasi kerja sama internasional penurunan emisi, termasuk peluang mekanisme karbon lintas negara.
Direktur Bioenergi PLN EPI, Hokkop Situngkir menegaskan bahwa biomassa memiliki peran strategis sebagai solusi transisi energi karena dapat langsung diimplementasikan menggunakan infrastruktur pembangkit eksisting. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kepastian pasokan dan tata kelola yang kuat.
"Bioenergi, khususnya biomassa, bukan sekadar bahan bakar pengganti, tetapi bagian dari strategi besar transisi energi. Karena itu, pasokan harus berkelanjutan, bernilai tambah, dan dikelola dengan tata kelola yang kuat," ujar Hokkop dikutip di Jakarta, Sabtu (10/1).
Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan Greenery membuka ruang percepatan transfer teknologi dan pengembangan produk biomassa bernilai ekonomi. Menurutnya, residu pertanian dan produk antara tidak boleh diperlakukan sebagai limbah semata.
"Produk seperti biomassa dan turunannya harus dikapitalisasi menjadi produk bernilai tambah, tidak hanya untuk energi, tetapi juga untuk pangan dan industri bioenergi. Ini sejalan dengan kebutuhan pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional," kata Hokkop.
Kolaborasi Riset
Dari sisi riset, Leader of Research Group for Industrial Sustainability & Product Optimization BRIN, Dudi Iskandar, menekankan pentingnya kolaborasi agar riset karbon rendah tidak berhenti di laboratorium.
"Sebagai organisasi riset, tugas utama kami adalah menghasilkan inovasi yang bisa diimplementasikan. Tanpa kolaborasi dengan PLN EPI, mitra internasional, dan universitas, riset tidak akan memberi dampak nyata," ujarnya.
Dudi menjelaskan bahwa kolaborasi ini mencakup pengembangan teknologi karbon rendah, kajian ekonomi karbon, serta sistem pengukuran emisi yang terukur untuk mendukung kebijakan pemerintah.
"Riset ini diharapkan membantu pemerintah memahami strategi pengurangan emisi yang terukur, sekaligus membuka peluang nilai tambah ekonomi dari pengelolaan karbon," katanya.
Proyek Pertama Greenery di Inddonesia
Company Representative of Greenery Inc., Seijin Kim, menyatakan bahwa proyek pengembangan bioenergi di Indonesia merupakan proyek pertama Greenery di Tanah Air, di tengah portofolio proyek serupa yang telah dijalankan di sejumlah negara lain.
"Indonesia memiliki momentum yang sangat tepat untuk menjadi model kolaborasi bioenergi dan transisi energi. Proyek ini tidak hanya soal energi, tetapi juga kesehatan, pembangunan komunitas, dan pencapaian target iklim global," ujar Kim.
Ia menambahkan bahwa penelitian awal ditargetkan rampung pada awal Januari 2026 dan akan dilanjutkan dengan riset utama pada tahun depan, seiring kesiapan teknologi dan sistem pendukung.
"Kami melihat Indonesia sudah siap, dan kami optimistis kolaborasi ini dapat menjadi model kerja sama Indonesia - Korea di sektor bioenergi," tutup Kim.