Pertamina Siap Garap Proyek Kilang Cilacap Tanpa Saudi Aramco
PT Pertamina menyatakan kesiapan membangun kilang Cilacap tanpa mitra. Meski, saat ini perseroan sedang melakukan negosiasi untuk menentukan nilai aset di proyek tersebut dengan Saudi Aramco. Pertamina pun telah memiliki nilai aset, namun, nilai tersebut tidak disetujui oleh Saudi Aramco.
PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapan membangun kilang Cilacap tanpa mitra. Meski, saat ini perseroan sedang melakukan negosiasi untuk menentukan nilai aset di proyek tersebut dengan Saudi Aramco.
Direktur Mega Proyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Ignatius Tallulembang, mengatakan Pertamina sudah mendapat calon mitra untuk menggarap Kilang Cilacap, yaitu perusahaan migas nasional Arab Saudi, Saudi Aramco. Kedua perusahaan pun telah menandatangani perjanjian pembentukan perusahaan patungan.
"Proyek ini saat ini kita sudah pilih partner, Saudi Aramco. Sudah cukup panjang perjalanan, sudah ada Joint Venture Agreement," kata Tallulembang, di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (24/4).
Berdasarkan perjanjian, negosiasi seharusnya selesai pada Desember 2018, namun diperpanjang enam bulan dengan target selesai Juli, dalam perhitungan kali ini Pertamina menggunakan konsultan penghitung nilai aset independen internasional.
Jika dalam negosiasi enam bulan terakhir masih menemui jalan buntu, Pertamina pun siap berjalan sendiri atau mencari partner baru dalam membangun Kilang yang berkapasitas 1,5 juta barel ini, tanpa Saudi Aramco, dengan target penyelesaian pembangunan pada 2025.
"Mereka bisa memahami ada perbedaan kalau tidak bisa lanjut jangan dipaksa. Para pihak mencoba melakukan negosiasi sampai Juni. Intinya Pertamina tetap komit melakukan kilang Cilacap ini ada atau tidak ada partner. Kita akan jalankan sesuai time line," jelasnya.
Menurut Tallulembang, Pertamina sudah memenuhi permintaan Saudi Aramco untuk menjadi mitranya, yaitu dengan menawarkan insentif pajak, pengadaan lahan dan pemisahan unit usaha. Namun, sampai saat ini masih ada yang mengganjal kerjasama pembangunan kilang dengan nilai investasi USD 5,8 miliar ini, yaitu perhitungan nilai aset Pertamina di proyek tersebut.
"Dari 3 itu, semuanya sudah dipenuhi. Tinggal satu yaitu belum ada kesepakatan valuasi aset, nilai kilang eksisting itu berapa yang akan ditransfer ke Joint Venture. Itu yang tidak ketemu sampai sekarang," tuturnya.
Tallulembang mengungkapkan, Pertamina pun telah memiliki nilai aset, baik dihitung secara sendiri maupun konsultan independen berdasarkan rekomendasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, nilai tersebut tidak disetujui oleh Saudi Aramco.
Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono
Sumber: Liputan6
Baca juga:
Menkeu Siapkan Tax Holiday Untuk Investasi Arab Saudi di Kilang Cilacap
Pertamina Diberi Kesempatan Tambah Saham di Kilang Bontang
Perusahaan Asal Oman Gandeng Perusahaan Lokal Bangun Kilang Bontang
Selesai 2026, Pembangunan Kilang Bontang Butuh USD 15 Miliar
Keluhkan Impor Petrokimia Terbesar, Jokowi Undang Arab Saudi Kembangkan Industri RI
Presiden Jokowi Bertemu Menteri Energi Arab Bahas Kerjasama Aramco-Pertamina
Menko Darmin Ungkap Alasan Pembangunan Kilang RI Tertinggal