LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Pertamina EP: Minyak mentah hasil pengeboran ilegal sangat berbahaya

Minyak mentah tersebut mengandung empat unsur kimia berbahaya.

2016-08-30 16:13:00
Pertamina EP
Advertisement

Kegiatan pengeboran minyak secara ilegal atau illegal drilling yang dilakukan masyarakat tidak saja melanggar ketentuan hukum dan merusak lingkungan, tetapi juga berdampak langsung kepada para operator, pekerja, dan masyarakat sekitar. Mereka yang terpapar langsung minyak mentah tanpa alat pelindung diri, berpotensi besar terkena beberapa bahan berbahaya minyak mentah.

"Bahaya minyak mentah terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi salah satu perhatian utama kami, mengapa kami berupaya menghentikan kegiatan penambangan minyak ilegal," ujar Manajer Humas PT Pertamina EP, Muhammad Baron dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (30/8).

Baron mengatakan, dalam minyak mentah setidaknya terdapat empat bahan berbahaya yang berdampak langsung terhadap kesehatan. Keempat bahan berbahaya tersebut adalah benzene (C6H6), toluene (C7H8), cylene (C8H10) serta sejumlah logam berat seperti tembaga (cu), arsen (ar), merkuri (hg), dan timbal (pb). Bahan-bahan berbahaya dari minyak mentah tersebut akan berdampak pada kesehatan pernafasan, pencernaan, dan kulit atau mata. Mereka yang terkena benzene misalnya, akan mengalami pusing atau sakit kepala, mual pingsan, iritasi kulit, dan mata bahkan menyebabkan kanker darah.

Advertisement

Sementara yang terpapar toluene, katanya, akan merasakan hal yang sama dan jika sampai pada tahap kronis akan mengalami gangguan syaraf pusat. Hal yang sama juga kalau terkena dampak bahan berbahaya cylene.

Untuk yang terpapar arsen, dapat merusak ginjal dan kanker. Sedangkan, merkuri akan menyerang tremor atau kerusakan syaraf. Sedangakan, yang terpapar timbal dan tembaga akan mengalami gangguan kerusakan otak, kerusakan liver, dan ginjal.

"Sebagian tanaman pangan yang tumbuh di area tercemar minyak, juga dapat menyerap logam berat. Jika tanaman tersebut dikonsumsi manusia, logam beratnya berpindah kepada tubuh manusia dan memberikan dampak kesehatan. Meskipun logam berat dalam minyak mentah jenis dan konsentrasinya tegantung struktur batuan tempat minyak berasal," jelasnya.

Advertisement

Atas dampak minyak mentah bagi kesahatan yang demikian besar, kata Baron, dalam standar kegiatan pengusahaan minyak yang benar, semua pekerja migas harus memperhatikan dan mengenakan alat keselamatan diri. Aspek Kesehanatan dan lingkungan merupakan prioritas utama.

"Kalau standar perusahaan minyak yang mengikuti kaidah yang benar, HSE itu harga mati. Bahkan ada ungkapan HSE dulu, produksi mengikuti," tambahnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan kegiatan ilegal drilling yang terjadi wilayah kerja PT Pertamina EP asset I Field Ramba, baik di wilayah Keluang ataupun Mangunjaya, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan maupun wilayah lainnya. Para penambang ilegal sama sekali tidak memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan kerja.

"Para operator atau penambang ilegal, tidak memakai helm, kacamata masker ataupun sepatu safety. Yang ada malah hanya mengenakan sandal jepit bahkan ada yang sambil merokok dan memakan makanan di lokasi penambangan," jelasnya.

Dampak minyak mentah bagi kesehatan pekerja minyak inilah, tambahnya, menjadi salah satu poin yang disampaikan oleh Pertamina EP terhadap masyarakat penambang ilegal yang selama ini melakukan kegiatan penyerobotan di wilayah kerja Pertamina EP Asset I Field Ramba. "Tentu saja, dampak lain berupa hilangnya pendapatan daerah dan negara dan dampak lingkungan akan menjadi bagian dari sosialisasi yang akan terus dilakukan," pungkasnya.

Baron menegaskan, dalam upaya mengurangi kegiatan penambangan minyal ilegal, Pertamina EP memberikan beberapa solusi sebagai bentuk tanggungjawab sosial bagi kelompok atau perorangan yang berhenti dari penmabangan sumur minyak Pertamina. Salah satunya, masyarakat penambang diberdayakan untuk pembersihan limbah B3. Estimasi sementara limbah B3 sebanyak 2.500 ton. Dengan pemberdayaan tersebut, masyarakat akan tetap mendapatkan penghasilan.

Baca juga:
Amankan aset migas dibutuhkan peran 3 unsur
Di Subang, Pertamina sulap sampah plastik jadi bahan bakar
Pertamina EP jajaki dua pembeli baru gas karbondioksida
Pengoperasian CPP Matindo bisa tingkatkan produksi gas nasional
Intip rahasia tersembunyi di balik melimpahnya panen padi Subang
Semester I, produksi migas Pertamina di Subang Field lampaui target
Pertamina EP jadi KKKS migas pertama jual karbondioksida

(mdk/sau)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.